"Kamu yang menyelamatkan aku?" Ghania menunjuk dirinya sendiri, gadis itu bertanya pada sosok yang saat ini beralih duduk di single bad yang ia tiduri. Ghania bahkan harus bergeser lagi, stop sampai dia merasa sudah tidak ada ruang gerak lagi. Tubuhnya yang montok, saat ini sudah sangat terhimpit tembok.
Yang ditanya malah mengedikan kedua bahunya, mata laki-laki itu masih menatap Ghania intens.
Ghania geram bukan main, saat bertanya pada seseorang bukannya dijawab malah menunjukkan sikap masa bodohnya. Singgih ini kenapa? Walaupun bisa dikatakan mereka tak terlalu---bahkan tidak dekat, Ghania tahu sedikitnya sifat Singgih yang sebenarnya cuek tetapi peduli itu.
Buktinya dia suka sekali menolong Ghania, terhitung 3 kalinya ini.
Ghania mendengkus sambil memalingkan mukanya menghadap tembok. Bukan menghadap lagi, muka Ghania bahkan sudah menempel pada tembok. Bodo amat! Ghania ngambek.
Sebenarnya Singgih sengaja tutup mulut, tidak mau menjawab bahkan mengiyakan pertanyaan Ghania. Karena kenyataannya dia dalang dari kejadian ini, well not the first! Karena yang merencanakan semua ini bukan Singgih, dia hanya menjalankan tugasnya saja.
"Aku bukan si penyelamat," kata Singgih kemudian setelah beberapa menit mereka saling diam. Tangan laki-laki itu dengan berani menolehkan kepala Ghania hati-hati untuk menghadap ke arahnya.
Ghania terkejut, tetapi tak ayal dia menerima saja saat Singgih melakukan hal itu. Karena, serius! Saat untuk yang kedua kalinya Ghania menolehkan kepalanya ke arah lain. Rasanya benar-benar sangat sakit.
Ghania mengernyit, "Maksud kamu?" tanya ia bingung. Jelas-jelas dia berada di sini hanya berdua bersama Singgih, kenapa jawabannya malah lain.
"Aku bukan si penyelamat," ulang Singgih, katanya penuh keyakinan itu.
"Haha.. aduh Singgih, jangan ngelawak dong. Jelas-jelas cuman ada kamu disini, lagian---
Mulut Ghania tiba-tiba bungkam saat wajah Singgih tiba-tiba kian mendekat ke arahnya, sangat dekat. Gadis itu sulit untuk memundurkan wajahnya lagi karena. Kepalanya sudah tertahan tembok disebelahnya, lagi-lagi tembok ini! Ghania ingin meruntuhkannya saja.
"STOP! Apa-apaan sih!" Ghania menahan wajah Singgih yang kian mendekat ke arahnya, gadis itu paham betul apa yang terjadi selanjutnya jikalau dia tidak melakukan hal ini. Singgih ingin menciumnya, sebenarnya ada apa dengan dia!
Singgih mendengkus, laki-laki itu beranjak menjauhi Ghania. Gahania lega, hampir saja dia dilecehkan oleh laki-laki yang ia kira tidak se-buruk ini. Kali ini Ghania bersikap antisiapsi dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, takutnya Singgih akan melakukan hal diluar nalarnya lagi.
Hening
Suasana di kamar ini tiba-tiba senyap, Singgih bungkam dan Ghania pun demikian. Sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin gadis itu lontarkan, tetapi Ghania ragu mengatakannya. Ghania takut, entah kenapa aura Singgih begitu mencengkam, dia jadi ingat Azri... ah ya laki-laki itu..
Ghania menggeleng, hatinya terus menyuarakan 'jangan diingat-ingat, ingat saja dirimu sendiri yang saat ini entah berada dimana'
Aduh Ghania bingung, gadis itu ingin bangkit dan meninggalkan tempat ini saja, jika bisa karena kondisinya ini sama sekali tidak mendukung keinginannya. Seketika Ghania teringat, pesawatnya! Astaga, dia sudah ketinggalan. Kanada, ayah! Arghh!!
"Singgih, aku mohon. Bisakah kamu mengantarku pulang ke rumah. Aku bakal amat-sangat berterima kasih kalau kamu mau menolongku, lagi." Kali ini Ghania menyuarakan permintaannya, karena dia sudah bingung sekali. Pengen pulang aja kalau dia tidak bisa pergi ke Kanada, lebih baik dirumah ibunya saja, dari pada di tempat uknow ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tattoes? No problem Or Problem?
RomanceRomance Rangking # 1 Age-gap (04-07-2019) # 44 Misterius (07-07-2019) #1 Misterius (15-05-2020) Apa salahnya sih punya pacar bertato? Jangan kira orang bertato itu minus semua. Pacar Ghania tidak demikian. Dia baik dengan caranya sendiri, lebi...
