Sembilan

1.1K 181 0
                                        

Keesokkan harinya, aku dan Ex bersiap-siap untuk meninggalkan tempat ini. Kami pun berjalan ke --- sebenarnya entah kemana karena kami tak punya petunjuk sama sekali. Entahlah, mungkin keberuntungan akan datang pada kami dan kami akan menemukan teman yang dapat membantu kami melawan zombie.

Waktu berlalu begitu cepat. Dua hari terlewati sejak kami memutuskan untuk pergi mencari teman. Untungnya, keadaan kali ini tak begitu sulit, tak sesulit saat aku bersama adikku, David. Ex pandai berburu hewan dan ia tak keberatan bila aku memakan kuenya karena ia bisa memakan buah-buahan. Tapi ada saatnya kami kekurangan air minum, dan kini persediaan air kami semakin menipis.

Di sore hari yang cukup cerah ini, aku sedang menyiapkan bebatuan untuk menjadi pembatas api unggun, sementara Ex pergi ke bagian yang lebih jauh untuk mencari kayu bakar. Satu, dua, tiga,… batu-batu itu kubuat seperti lingkaran. Namun saat batu terakhir, tiba-tiba aku mendengar sesuatu yang membuat bulu kudukku merinding. Raungan.

  “Ex?! Kau kah itu?” tanyaku mulai panik.

  “Ex! Jangan main-main!” kataku semakin panik saat suara raungan itu makin mendekat.

  “Oh shit” kataku sambil mengambil gergaji mesinku. Aku harus siap dengan apa yang akan aku lihat.

  “1…”
  “2…”
  “3…”

Aku tarik perkataanku. Aku tak siap melihat ini! Zombie kali ini lebih banyak dari zombie yang terakhir kali aku lihat bersama David. Sebelas? Dua belas? Tidak, sepertinya ada sekitar dua puluh lima keatas. Dengan wajahnya yang hancur bermacam-macam, dan semuanya melihatku dengan tatapan rakusnya.

Aku menebas mereka sebisa mungkin, menahan agar mereka tak menggigit tubuhku. Tapi mereka terlalu banyak! Bahkan aku sendiri tak yakin bisa bertahan dari semua zombie-zombie menyeramkan ini. Mengayunkan gergaji mesinku ke segala arah, berharap mereka akan segera menyingkir dariku. Naas, seranganku tak berarti. Kupotong tangannya, tubuhnya masih berjalan menghampiri untuk menggigitku. Kupotong kakinya, ia masih merangkak-rangkak padaku. Sepertinya aku akan benar-benar menjadi gila.

  “Ex! Dimana kau?! Ex! Ex! Tolong aku!” teriakku tak karuan sambil berusaha menyingkirkan zombie-zombie ini.

Sial, zombie dengan mulut aneh ini sudah berada di depan wajahku. Apa aku akan mati disini?
Tiba-tiba,…

  “Srrrr…. Crat!!” dua buah cakram baja terbang ke arah zombie yang berada tepat di depan wajahku. Menghancurkan kepalanya, menimbulkan sabetan di hidungku disusul oleh darah yang keluar dari sela-sela sabetan itu. Aku pusing dan kepalaku berkunang-kunang. Aku pun terjatuh dan,… gelap. Apa aku pingsan?

Life in Death : Re-50.yearsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang