Aku terbangun dalam keadaan sesak nafas. Langit terlihat gelap dan udara sudah mulai dingin. Pada siang hari, bersandar di bawah pohon seperti ini memang sangat menyejukkan, tapi untuk malam hari, bisa-bisa aku mati sesak nafas kehilangan oksigen karena pohon ini menyerap oksigen sangat banyak. Segera saja aku mengambil gergaji mesinku dan lari menjauhi hutan, kembali ke rumah Mark dan Dayne. Pakaianku terlihat sangat kotor dan rambutku mungkin sangat berantakan. Entahlah, satu-satunya yang aku inginkan sekarang adalah mandi dan istirahat.
“Mam darimana?” tanya Ex ketika aku pulang.
“Ketiduran” jawabku tak nyambung sambil masuk ke dalam rumah, bersiap-siap untuk mandi.
“Ugh, hari ini melelahkan” pikirku.
Setelah selesai mandi, aku pun langsung menuju kamar untuk beristirahat. Tapi baru saja aku akan berbaring di karpet, suara itu memanggilku.
“Mam! Ayo makan!” teriak Ex.
Aku pun menghampiri asal suara itu. Terlihat Mark yang sedang duduk di kursi meja makan, sedangkan Dayne dan Ex yang sibuk memindahkan makanan ke meja. Sepertinya itu daging sapi dan kentang? Apakah mereka berhasil memburu sapi, ya? Aku duduk di sebelah Mark dan menunggu piringku terisi makanan.
“El, tadi itu kau kenapa?” tanya Mark bingung.
“Ng,… bisakah kau jangan bahas itu?” tanyaku.
“Iya, tapi kenapa?” ia tetap bersikeras untuk tahu.
“Sudah, Mark. Mam-ku bilang ia tak mau membahasnya” kata Ex sambil menghampiri dan mengisi piringku dengan daging sapi dan kentang.
Ex dan Dayne pun ikut duduk di kursi meja makan. Bersiap menyantap makanan mereka. Namun baru beberapa suap aku makan, ia sudah berbicara.
“Kalo ayahku yang memasak, pasti lebih enak” kata Mark tiba-tiba sambil mengunyah dagingnya.
“Lanjutkan saja makanmu, Mark” kata Dayne.
“Huft, tapi memang benar ‘kan?” tanya Mark sambil menusukkan garpu ke salah satu kentang.
“Kalau saja virus zombie ini tak pernah ada, mungkin ayahku juga tak akan terbunuh” kata Mark yang terdengar seperti sindiran bagiku. Yaah, walaupun aku tahu Mark tak tahu apa-apa. Atau,… mungkinkah aku harus memberitahunya?
“Mungkin itu sudah takdir. Kekacauan ini, kematian ayahmu, mungkin itu sudah menjadi takdir kita” kata Dayne.
“Takdir katamu? Cih. Di dunia ini tak ada yang namanya kebetulan. Seluruh kekacauan virus zombie sialan ini pasti ada penyebabnya. Uh, aku harap siapapun penyebabnya akan menderita” kata Mark kesal sambil mengunyah kentangnya.
“Bagaimana kalau orang yang menyebabkan ini sudah cukup menderita? Bagaimana kalau ia kehilangan seluruh keluarganya, kehilangan tempat tinggalnya, kelaparan, kesusahan, jauh lebih susah dari keadaanmu sekarang yang hanya kehilangan seorang ayah?” kata Ex pada Mark.
“Cih. Aku lebih suka jika ia mati saja” perkataan Mark kali ini sungguh membuatku kesal.
“Sialan kau, Mark. Kau tak boleh bicara seperti itu!” Dayne mulai mengeraskan suaranya setelah melihatku menggertakan gigiku.
“Apa maksudmu?” teriak Mark emosi sambil berdiri dan menggebrak meja makan.
“Dayne benar. Sekesal-kesalnya kau pada dia, kau tak boleh mendoakan kematian” kata Ex sambil ikut berdiri.
“Kenapa kalian malah membela orang yang menyebabkan kekacauan ini, sih? Bukankah kalian juga jadi menderita? Bukankah kalian juga jadi kehilangan? Kenapa kalian masih membelanya?!” teriak Mark penuh emosi.
“Karena kau tak tau apa yang ia lalui untuk berusaha mengembalikan keadaan ini seperti semula!” teriak Dayne yang juga berdiri. Mungkin kini hanya aku yang duduk sambil menggertakan gigiku.
“Apa-apaan kalian ini?! Mengapa kalian membela si keparat yang membebaskan zombie itu?!” teriak Mark sambil melotot.
“DIAM!” teriakku sambil ikut berdiri, tak tahan dengan semua ini.
Hening. Kini keadaan benar-benar hening. Semuanya menatap ke arahku.
“Aku! Aku si keparat yang membebaskan zombie itu! Aku yang membuat kau kehilangan ayahmu! Aku penyebab semuanya!” teriakku pada Mark.
“Dan kalian? Kenapa kalian membelaku?! Aku yang membawa kalian ke keadaan seperti ini! Akulah penyebabnya! Aku yang membuat kalian menderita, kelaparan, penuh ancaman! Aku yang membuat dunia kacau! Mark benar, untuk apa kalian membelaku?!” teriakku ke arah Ex dan Dayne.
“BRENGSEK KAU!” teriak Mark sambil mencengkram kerah bajuku dan mendorongnya ke tembok. Matanya melotot ke arahku dan dibalas oleh tatapan tajamku.
“Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!” teriaknya sambil mulai mencekik leherku, membuatku sesak, tak bisa bernafas.
“Lepaskan dia, Mark!” teriak Dayne sambil menarik tangan Mark dari leherku. Cengkramannya terlalu kuat.
“Lepaskan Mam-ku!” teriak Ex sambil membantu Dayne menarik tangan Mark.
“Lepaskan tangan kalian dari tanganku! Akan kubunuh dia!” teriak Mark sambil terus mencekik leherku. Aku pikir aku akan benar-benar kehabisan udara dan mati disini.
“Tak ada gunanya jika kau membunuhnya! Zombie-zombie itu tetap akan berada disana dan menjadi ancaman kita!” teriak Ex pada Mark.
“Mark,… aku yakin ayahmu tak pernah berharap kau membunuh seorang perempuan…” kata Dayne lirih. Cekikan tangan Mark pada leherku mulai melonggar. Sepertinya ia tersadar akan sesuatu. Ia pun melirik ke arahku dan langsung berlari ke kamarnya.
“Uhukk uhukk” batukku sambil mengusap leherku.
“Mam tak apa?” tanya Ex padaku dan dibalas oleh tatapanku padanya.
Aku pun mengambil air minum dan mulai meneguknya. Setelah itu, aku langsung kembali ke kamarku disusul oleh Ex yang mengikutiku dari belakang. Aku berbaring di atas karpet bulu itu. Sepertinya, aku bisa langsung tidur kali ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Life in Death : Re-50.years
Aventura(LANJUTNYA DI S2) Terkadang, penasaran itu bisa membunuhmu. Maksudku, benar-benar membunuh. Sialnya, rasa penasaranku justru menyebabkan kekacauan di seluruh dunia. Makhluk-makhluk sialan itu- ah. Aku bersumpah aku akan menyelesaikan kekacauan ini...
