“Tiba-tiba ibuku datang dan kami pun pulang. Aku memberitahu David tapi ia tak mau membantuku mengungkap misteri itu jadi keesokkan harinya aku pergi sendiri ke halaman belakang untuk mengecek papan kayu itu. Aku pun membukanya dan menemukan sebuah terowongan bawah tanah yang tak pernah aku duga itu akan berada disana. Seperti orang normal lainnya, rasa penasaranku menuntunku untuk memasuki terowongan itu, hingga akhirnya aku menemukan pintu besi itu. Dan karena beberapa kecerobohanku, aku tak sengaja membuka pintu besi itu. Dan disitulah aku melihatnya, makhluk menyeramkan itu, Zombie. Aku panik dan berlari sekuat tenaga tapi zombie sialan itu terus mengejarku. Aku tersandung oleh sebuah batu dan zombie itu mulai mendekat. Tiba-tiba entah darimana, David datang dan membantuku. Kami berhasil keluar dari terowongan itu dan mencoba menambal terowongan itu dengan beberapa benda. Namun sialnya, beberapa hari setelah itu, hujan badai datang dan menghancurkan tambalan yang kami buat, membuat zombie itu keluar dan membuat kekacauan, ya sampai sekarang” kataku bercerita panjang lebar.
Mereka memperhatikan dengan seksama, fokus, penasaran dengan apa yang menjadi awal mula kekacauan ini terjadi. Dayne dan Yuki terlihat fokus memakan keripiknya sambil menunggu kelanjutan ceritanya.
“Ayo lanjutkan ceritanya!” seru Mark.
“Iya iya,… aku dan David yang menyadari pun sempat lari menghindari kawasan rumah sebelum virus zombie sudah menyebar lebih luas. Kami berlari ke hutan antah berantah dan hanya mengikuti petunjuk di buku” kataku.
“Buku?” tanya Jesica.
“David, kau belum memberitahu mereka?” tanyaku.
“Hmmm, begitulah” jawabnya.
“Kami punya buku yang menceritakan perjuangan kakek kami melawan zombie, 50 tahun lalu. Dan mungkin, bila kami mengikuti beberapa petunjuk di buku itu, kami bisa menghentikan kekacauan ini” kataku.
“Bentar, aku ambil bukunya” kata David berdiri untuk mengambil buku kuno itu.
Tak butuh waktu lama, ia pun kembali membawa buku itu.
“Nah buku ini! David, coba buka halaman terakhir yang kita lihat bersama” kataku.
“Cakram?” tanyanya setelah membukanya.
“Itu Ex! Aku sudah menemukannya” kataku sambil melihat ke arah Ex.
“Hah? Orang ini?” tanya adikku.
“Iya, ada masalah tentang itu?” tanya Ex ketus.
“Ah tidak” jawab adikku.
“Coba kita lihat yang selanjutnya” kataku pada David.
“Rumah kayu dan Heterochremia” lanjut David.
“YA!!! Ini tepat sekali! Aku menemukannya! Mark dan Dayne punya kelainan genetik dimana kedua mata mereka berbeda warna. See?” kataku bersemangat.
“Lanjutkan, David” lanjutku.
“Kota, timur, dan lab?” kata David.
“Okay! Buku ini 100% akurat. Kita menemukan Jesica, Hany, Yuki, dan Fauzia yang berada di lab ini!” kataku senang sekali. Kurasa kedepannya akan jadi lebih mudah karena kali ini aku sudah bertemu David.
“Apa selanjutnya, David?” tanyaku pada David.
“Timur, lab super, dan profesor?” kata David.
“Huh? Jadi sekarang kita harus mencari seorang profesor?” tanya Mark.
“Ya sepertinya begitu” jawab David.
“Tapi apa kita akan berangkat beramai-ramai begini?” tanyaku agak bingung. Sejujurnya, keluar bersama-sama sedikit menyulitkanku. Resiko ditemukan oleh zombie semakin meningkat, dan persediaan makanan akan sangat berkurang drastis. Bukannya aku egois, tapi ini demi keselamatan mereka juga, kan?
“Bagaimana kalau salah satu dari kalian ikut?” lanjutku sambil melihat ke arah Jesica, Hany, Yuki, dan Fauzia.
“Siapa yang mau ikut?” tanya David pada mereka.
“Sepertinya kami butuh waktu untuk merundingkannya” kata Hany.
“Silahkan, silahkan. Lagipula, kami akan berangkat lusa nanti. Kami masih butuh sedikit istirahat” jawabku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Life in Death : Re-50.years
Adventure(LANJUTNYA DI S2) Terkadang, penasaran itu bisa membunuhmu. Maksudku, benar-benar membunuh. Sialnya, rasa penasaranku justru menyebabkan kekacauan di seluruh dunia. Makhluk-makhluk sialan itu- ah. Aku bersumpah aku akan menyelesaikan kekacauan ini...
