Dua Puluh Empat

850 132 1
                                        

Matahari mulai naik ke atas, namun cahayanya tak begitu terang karena tertutup gumpalan awan yang terlihat seperti kapas. Angin berhembus cukup kencang disertai dengan udara tak menyenangkan. Semakin lama, semakin sore, udara mulai tak bersahabat. Awan-awan mulai berubah menjadi tetesan-tetesan air hujan yang turun membasahi bumi. Gerimis kecil mulai berubah menjadi hujan lebat dengan angin kencang. Suara petir mulai terdengar bergemuruh. Keadaan ini mengingatkanku akan rumah, akan detik-detik cuacanya menghancurkan tambalan zombie itu.

  “Hujan…” kata David pelan sambil menghampiriku yang berdiri di dekat jendela sambil melihat ke arah luar.

  “Iya, hujan” jawabku.

  “Aku mengenang sesuatu yang buruk” katanya.

  “Aku juga” jawabku simpel, mencoba tak ingin mengingatnya lebih jauh lagi.

  “El, menurutmu bagaimana keadaan Mama?” tanyanya membuatku sedikit tertegun.

  “Entahlah. Walau rasanya sulit atau bahkan mungkin tak mungkin, aku harap Mama baik-baik saja di rumah” jawabku memaksa walau aku tahu itu tak mungkin. Maksudku, bukan aku mendoakan hal yang tak baik, atau berpikiran negatif. Aku sendiri pun tak mau Mama dalam bahaya, atau keadaan semacam itu. Tapi aku tahu persis persediaan makanan di rumah tak terlalu banyak, apalagi dengan keadaan Mama yang sedang sakit, dan… Argh! Entahlah, aku tak mau membahasnya.

Hening. Aku dan David tak berbicara lagi. Untuk sesaat, kami hanya melihat ke arah jendela, ke arah hujan lebat dan langit yang tak bersahabat.

  “El? David?” panggil suara di belakangku.

  “Huh?” tanyaku sambil memalingkan wajah ke belakang, melihat siapa yang memanggilku. Oh, itu hanya Fauzia.

  “Kenapa?” tanya David.

  “Uhm,… kalian ditunggu oleh yang lainnya di ruang tengah” jawab Fauzia.

  “Hm?” kataku bingung sambil saling bertatapan dengan David.

Aku pun berjalan ke ruang tengah, mengikuti Fauzia. Sesampainya aku di ruang tengah, kulihat yang lainnya sudah duduk menunggu. Aku dan David ikut duduk di karpet.
  “Jadi begini,… kami sudah memutuskan siapa yang akan ikut kalian melanjutkan perjalanan” kata Jesica.

“Hm? Siapa?” tanyaku to the point.
  “Setelah berdiskusi, kami rasa yang paling cocok adalah…” Jesica sengaja berdiam setelah kata itu, membuat kami penasaran.

  “Siapa?” tanya Mark yang sepertinya mulai kesal.

  “Yuki” kata Hany singkat.

  “YEAY!!!” teriak Dayne dan Yuki bersamaan. Mereka saling memegang tangan berjingkat-jingkat kegirangan.

  “Sepertinya aku harus mengasuh satu anak kecil lagi” kata Mark setelah menghembuskan nafas panjang.

  “Hahahaha, mohon bantuannya” kata Yuki sambil tersenyum lebar dibalas oleh anggukanku dan Mark.

  “Oh ya. Kami juga beberapa peralatan yang sepertinya akan berguna bagi kalian” kata Jesica.

  “Ini alat pendengar untuk komunikasi dengan aku, Hani, dan Fauzia, yaa tepatnya dengan yang ada di lab ini. Kalian bisa menjelaskan situasi kalian, meminta saran, dan apapun. Masing-masing dapat satu buah” kata Jesica sambil memperlihatkan sebuah alat kecil mirip penyumbat telinga lalu membagikan alat itu satu persatu kepada kami. Ya walaupun sebenarnya aku sudah punya versi khususnya.

  “Untuk alat-alat lainnya seperti obat-obat darurat, makanan dan minuman, handuk kecil, pakaian darurat dan lainnya sudah kami siapkan di tas belakang sana” kata Fauzia sambil menunjuk tas-tas gemuk yang berada di pojok ruangan belakang kami.

  “Karena ini adalah wilayah kota, dan tentu akan ada banyak sekali zombie, kalian  akan memakai mobil khusus. Tentunya mobil ini berbeda dengan mobil-mobil lainnya. Bahannya lebih kuat dan ada beberapa senjata otomatis mobil” jelas Hani membuat Mark terlihat senang, yaaa kelihatannya.

  “Terima kasih banyak atas kebaikan kalian. Doakan kami agar selamat dan bisa menyelesaikan kekacauan ini” kataku pada mereka.

  “Tentu saja, kami mendoakan yang terbaik” kata Jesica sambil tersenyum.

Kala itu, entah mengapa hawanya terasa sangat mengharukan. Dimana keesokkan harinya, aku, David, Ex, Daye, Yuki, dan Mark harus pergi, melanjutkan perjalanan kami bertahan hidup. Yuki tak mampu menahan tangisnya. Ia berlari memeluk teman-temannya dan menangis sejadi-jadinya. Sore itu dipenuhi oleh isak tangis dan salam-salam perpisahan, serta harapan-harapan ke depannya. Entahlah, tapi ini memang mengharukan.

Life in Death : Re-50.yearsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang