Dua Puluh Lima

820 125 2
                                        

Keesokkan paginya, dimana embun-embun masih terlihat tebal menutupi jalan, kami sudah berkemas. Kami memasukkan barang-barang kami ke dalam bagasi mobil. Mobil ini jauh lebih tinggi dari mobil-mobil biasa, seperti mengendarai truk. Bannya cukup besar dan di dalamnya luas, setidaknya cukup untuk 6-7 orang beserta barang-barang kami.

Aku dan Mark duduk di depan dan Mark sebagai supirnya. Aku baru tahu ia bisa mengemudikan mobil? David dan Ex duduk di tengah. Raut wajah Ex kelihatan tak senang. Sedangkan duo perusuh alias Dayne dan Yuki duduk di belakang. Aku bersyukur mereka mau duduk di belakang, karena aku yakin bila mereka duduk di tengah, buyar semua konsentrasi Mark untuk menyetir.

  “Kami berangkat!” teriakku sambil melambaikan tangan ke arah Jesica, Hany, dan Fauzia yang berada di luar mobil. Mobil mesinnya yang sudah sedari tadi dipanaskan pun akhirnya maju. Baru beberapa detik setelah berangkat, raut wajah Mark mulai berubah,

  “Huh, ini jauh lebih berat dari yang aku bayangkan” katanya terlihat sedikit kesusahan, mungkin belum terbiasa.

  “Nanti juga terbiasa kok” jawabku sambil menutup jendela mobil.

Matahari mulai muncul dan embun-embun pagi mulai menghilang. Zombie-zombie itu masih belum terlihat, mungkin karena lab ini agak tertutup dan cukup jauh dari keramaian zombie. Namun setelah beberapa kilometer mobil berjalan, zombie-zombie itu mulai terlihat. Hanya beberapa sih, namun mereka mengikuti kami. Dibandingan dengan menggunakan senjata, kami lebih memilih menambah kecepatan mobil sehingga zombie-zombie kelaparan itu jauh tertinggal di belakang.

Namun seiring berjalannya waktu, mobil kami sampai di kawasan dimana zombie-zombie yang mengikuti mobil kami mulai banyak. Mereka mengeluarkan raungan-raungan aneh sambil berjalan terseok-seok mengikuti mobil kami. Lagi-lagi, dibanding mulai menggunakan senjata yang terbilang terbatas, kami lebih memilih menambah kecepatan. Beberapa zombie yang datang dari arah depan, kami tabrak, dan pastinya, rasa menabrak zombie jauh berbeda dengan rasa menabrak orang biasa. Ini masih terlihat mudah, atau mungkin hanya permulaan?

Kini langit sudah benar-benar cerah, sekitar jam 10 siang. Sudah tidak ada lagi hawa-hawa pagi hari. Kami masih berada di daerah perkotaan dan terus menuju ke arah timur, berharap dapat menemukan lab super dan sang profesor itu dengan cepat. walaupun tak mungkin sih.

Life in Death : Re-50.yearsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang