Dua Puluh

852 137 3
                                        

Aku tak tahu jam berapa ini tapi entah kenapa tenggorokanku terasa haus sekali. Aku pun bangkit dari kasur dan mencoba mencari dapur, ya walaupun kepalaku masih terasa berat dan aku sendiri tak tahu dimana letak dapurnya. Yang pasti aku harus mencari air minum.

Aku berjalan pelan-pelan, takut membangunkan siapapun yang sedang tertidur pulas. Mataku melirik ke kanan dan ke kiri mencoba menemukan dapur itu. tiba-tiba mataku teralihkan oleh ruangan di ujung kanan sana karena mendengar sesuatu.

  “Krauk krauk” entahlah aku tak yakin apa itu, tapi terdengar seperti suara orang yang sedang mengunyah.

  “Krauk krauk” suara itu semakin jelas saat aku mulai menghampirinya. Kini aku yakin bahwa itu benar-benar suara orang yang sedang mengunyah.

Dan aku melihatnya, jelas tubuhnya adalah tubuh seorang laki-laki tetapi wajahnya tidak terlihat sebab sedang berada di dalam kulkas. Aku  mendekatinya dan menepuk pundaknya.

  “Uhuk uhuk uhuk” batuknya yang sepertinya tersedak makanan. Ia membalikkan wajahnya menghadap padaku. Dan wajahnya membuat mataku terbelalak, hampir tak bisa berkedip. David, kau kah itu?

  “Aku rasa aku sedang bermimpi” batinku berbicara.

Matanya juga membelalak, menunjukkan ekspresi wajah kaget dengan mulut yang masih penuh dengan udang goreng tepung. Matanya berkedip beberapa kali, memastikan bahwa ia tak salah lihat sebelum akhirnya ia melanjutkan mengunyah makanan, masih dengan ekspresi wajah kaget sambil menatapku.

  “David?” tanyaku masih ragu.

  “El?” tanyanya yang juga ragu.

  “David?” aku mengulangnya lagi.

  “El?” entahlah maksudnya apa, mungkin ia hanya meniru yang kulakukan.

  “DAVID!” kataku gembira sambil mengulurkan kedua tanganku, mencoba memeluknya.

  “EL!” katanya sambil memelukku.

  “Kemana saja kau selama ini?” tanyaku dengan nada sedih dan syukur.

  “Kau yang kemana saja, El…” katanya sambil menitikkan air mata, masih dalam pelukanku.

  “Aku merindukanmu, El…” lanjutnya, membuatku merasa terharu.

  “Aku juga, David…” kataku lirih.

Entahlah, tapi aku masih ingin seperti ini. Menambah waktu ekstra untuk berpelukan, merasakan kehangatan adik kecilku yang telah lama pergi. Dan sungguh, kali ini aku tak akan membiarkannya sendirian lagi.

Tapi tiba-tiba…

  “Woaaah! Apa yang kalian lakukan? Aku rasa kalian baru saja bertemu, tapi kalian sudah ber…pelukan?” kata Jesica tiba-tiba, entah muncul darimana.

  “Hah?” tanyaku kaget buru-buru melepaskan pelukan dengan adikku.

  “Maaf, sepertinya aku mengganggu. Tak seharusnya aku disini” kata Jesica sambil mencoba pergi.

  “Tunggu! Jangan salah paham dulu. Dia ini kakakku!” kata David mencoba menjelaskan keadaan.

  “Kakak?” tanya Jesica yang sepertinya masih belum paham.

  “Ingat ceritaku tentang kakak perempuanku yang pernah kuceritakan dulu? Nah, ini kakakku!” kata David pada Jesica.

  “…” hening sejenak, mungkin ia butuh waktu berpikir.

  “OH! MAKSUDMU KAKAKMU YANG JAHAT YANG MENINGGALKANMU SENDIRIAN DI HUTAN?!” seru Jesica membuatku kaget. Sial.

  “What the hell, David” kataku berbisik sambil melirik ke arahnya.

  “Hehe hehe, itukan cerita dulu hehe” katanya sambil menyengir, menunjukkan deretan giginya yang putih sambil sedikit menjauh.

  “Ayo ikut aku, El” lanjut David sambil mulai melangkah.

  “Huh? Kemana?” tanyaku bingung masih diam di tempat.

  “Ikut saja” katanya sambil terus melangkah.

  “Oke…” kataku, tapi baru beberapa langkah aku maju, ia sudah berbalik arah, kembali ke kulkas.

  “Aku lupa es krimnya” katanya sambil mengambil semangkuk besar es krim rasa vanilla chococips dan 2 buah sendok makan.

  “Ayo!” katanya sambil buru-buru melangkah, diikuti oleh langkahku dibelakangnya.

Ia berjalan naik ke tangga, begitu pula aku. Setelah beberapa puluh anak tangga, akhirnya kami sampai. Rooftop. Disini terdapat ayunan duduk panjang, 6 buah kursi santai, meja, dan teleskop. Ia pun langsung duduk di salah satu kursi.

  “Duduk, El” katanya, diikuti oleh aku yang duduk di kursi sebelahnya.

Pemandangan yang sangat indah. Langit berwarna hitam dengan banyak bintang bertaburan. Semilir angin tak sedingin saat berada di hutan. Berada di atas sini, menatap langit. Yah, itu indah kecuali jika kau lihat kebawah, ke arah kota-kota yang hancur.

  “Kau tau, El? Aku sangat bersyukur bisa ada disini. Aku sangat bersyukur mereka menemukanku saat itu, saat aku sedang kebingungan di hutan” kata David sebelum memasukkan sesendok es krim ke dalam mulutnya.

  “Begitu pula aku, David. Setelah berpisah denganmu, aku langsung bertemu dengan Ex. Aku bersyukur” jawabku sambil menatap langit, masih belum tergiur dengan es krimnya.

  “Ex? Mantan?” tanyanya bingung, seperti yang aku perkirakan.

  “Bukan, bukan. Memang aneh, tapi itu namanya” jawabku sambil melirik es krim.

  “Kau mau, El?” tanyanya yang memergokiku melirik es krim.

  “Ya,… begitulah” jawabku ragu-ragu.

  “Ambilah, toh aku ambil sendok 2 untukmu” katanya sambil memberiku sendok. Entahlah, dia sudah banyak berubah.

  “Maafkan aku David, karena memarahimu, menyinggung perasaanmu dan membuatmu pergi” kataku menyesal, setelah memasukkan sesendok es krim ke dalam mulutku.

  “Maafkan aku juga, El, karena bersikap kekanak-kanakan dan mudah tersinggung. Maafkan aku karena pergi” katanya, membuatku begitu terharu.

  “Harusnya saat itu aku bisa mengerti…” kataku pelan.

  “Takdir tau kemana ia harus berlabuh. Mungkin bila kita tidak berpisah, kita tidak akan bertemu teman-teman, tidak akan bisa duduk disini sambil menikmati es krim” katanya.

  “Yang penting, sekarang aku bersyukur bertemu lagi denganmu. Dan sekarang, kita bisa melanjutkan perjalanan kita untuk menghentikan semua kekacauan ini” lanjut David.

  “…” aku tak menjawabnya, hanya tersenyum sebentar dan kembali menatap langit.

Duduk berdua dengan adikku yang sudah lama tak bertemu, berbincang-bincang sambil menikmati semangkuk besar es krim dan menatap langit malam indah yang bertaburan bintang, seperti galaksi.

Aku bersyukur ada disini, dan aku berjanji tak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Tidak sampai kapan pun.

Life in Death : Re-50.yearsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang