Dua Puluh Sembilan

751 115 2
                                        

"Tunggu!" teriak Ex dari kejauhan. Ia berlari sangat cepat dari arah kiri menghampiri mobil kami.

"Mark, biar aku yang menyetir. Kau bantu Ex dengan senjatamu" kataku sambil mendekat ke arah Mark, mencoba berganti posisi.

"Dayne, ambilkan senjataku dan yang lainnya" kata Mark pada Dayne disusul Dayne dan Yuki yang berusaha mengambil senjata di bagian bagasi.

Dayne pun memberikan senjata mereka masing-masing. Gergaji mesin untukku, tongkat baseball besi untuk David, senapan untuk Mark, pedang berukuran sedang untuk Yuki, dan terakhir rantai sabit untuk Dayne. Entahlah, tapi aku rasa rantai sabit itu sedikit merepotkan.

Ex berlari secepat mungkin menghampiri mobil. David membuka pintu sedikit demi sedikit sementara aku masih menjalankan mobil.

"Cepat Ex!" teriak David.

"Kakiku!" teriak Ex yang terlihat kesakitan tapi masih tetap berlari.

Aku mengurangi kecepatan mobil, berharap Ex bisa naik ke mobil dengan aman. Dan akhirnya, setelah satu lompatan besar dari kaki Ex yang panjang, ia bisa meloncat ke dalam mobil, walaupun sebelah kaki dan bokongnya masih berada di luar mobil. Ia pun berusaha naik dan menutup pintu mobilnya. Kurasa ia berjuang sangat keras untuk berlari terbukti dengan nafasnya yang terengah-engah seperti saat aku dicekik oleh Mark dan keringatnya yang penuh membasahi tubuh Ex. Sebenarnya aku sendiri tak yakin apakah itu keringat atau ia baru saja meloncat ke dalam kolam?

"Mam, kakiku sakit" kata Ex sambil memegangi telapak kakinya yang berada di dalam sepatu.

"David, cek bekas jari kakinya" kataku sesaat setelah ingat bahwa Ex kehilangan dua jari kakinya.

Saat itu, Mark mengambil inisiatif untuk membuka jendela dan menembaki zombie-zombie yang berada tak jauh dari mobil. Yuki membuka jendela bagasi dan mulai menebas zombie-zombie sialan yang bisa terjangkau dengan pedangnya.

Aku sendiri menambah kecepatan mobil untuk menghindari zombie-zombie tersebut. Sialnya, mobil ini terlalu berat, jauh lebih berat daripada mobil ayahku yang sering aku bawa ke café dekat rumah. Ditambah lagi kemampuan tangan kiriku kurang baik semenjak aku kehilangan jari kelingkingku. Lebih parahnya, rasa sakit itu muncul sekarang, disaat aku sedang sibuk menyetir.

David membuka sepatu Ex dan sedikit terkejut melihat jumlah jari kaki Ex yang kurang dan terbalut perban.

"Ex, ada apa dengan jari kakimu?" tanya David penasaran. Karena pertanyaan David, Dayne pun ikut melihat ke arah kaki Ex.

"Hey sepertinya zombie-zombie itu berhenti mengejar" kata Mark tiba-tiba.

"Syukurlah. Tapi kenapa firasatku tak enak, yah?" kata Dayne.

"Entahlah" jawab Mark singkat.

"Jadi bagaimana? Ada apa dengan jari kakimu?" tanya David pada Ex.

"Ganti perban dan obatnya. Kotak medis ada di tas biru bagian belakang" kataku pada David.

"Iya iyaaa! Ayolah El! Berapa kali aku harus bertanya pada Ex soal kakinya?" tanya David kesal sambil membuka kotak obat bersiap-siap membersihkan kaki Ex.

"Begitulah, kakiku dan kelingking Mam terkena gigitan zombie dan cairan hitam dari mulut zombie itu mulai terasa panas. Jadi, daripada kehilangan nyawa dan berubah menjadi zombie, kurasa lebih baik memotongnya" kata Ex.

"Oh pantas saja kau tak memiliki jari kelingking di tangan kirimu, El. Sebenarnya aku ingin bertanya tapi kau tau lah, kurasa kau akan merasa tak enak" kata David sambil melihat ke arahku yang sedang menyetir.

"Maksudmu, kau benar-benar memotong jarimu? Dengan benda tajam atau semacamnya?" kata Dayne penasaran.

"Apa kau pikir jari kelingkingku dan jari kaki Ex pura-pura putus atau bagaimana? Atau ini terlihat seperti aku dan Ex bisa menempelkan jari-jari kami lagi?" kataku sedikit sarkasme karena pertanyaan Dayne yang menurutku tidak masuk akal.

"Ya seperti itulah. Aku mengoleskan sedikit alkohol untuk membersihkan kakiku, lalu menambahkan sedikit obat bius ke dalam sela-sela luka. Setelah itu, aku mengambil cakramku yang telah dibersihkan dan dan memposisikannya diatas jari-jariku yang terinfeksi, lalu... CRAT!!" teriak Ex sengaja memotong kalimatnya dan membuat kami kaget.

"URGH!!" ucap kami hampir bersamaan dengan ekspresi ngeri di wajah kami. Aku sendiri sedikit takut membayangkan Ex melakukan hal itu pada jari kelingking tangan kiriku juga.

"Lalu jari kakiku terputus. Darah mengalir dan hmm,... itu urusanku membuat darahnya berhenti dan menutup lukanya" kata Ex yang terlihat malas melanjutkan ceritanya.

Life in Death : Re-50.yearsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang