Empat Puluh Lima

689 108 1
                                        

Ruangan ini cukup sempit, dan aku tak memiliki firasat baik. Apalagi saat aku menduga bahwa alat pelacak khusus zombie milikku tiba-tiba tak berfungsi.

  “Haruskah aku menghubungi Jesica dan yang lainnya dengan alat darurat?” batinku berbicara.

Aku menatap jam tanganku. Kurasa ini saat yang tepat untuk menghubungi mereka. Paling tidak ya untuk berjaga-jaga. Jantungku berdetak kencang. Kurasa memang ada yang salah.

  “Halo?” bisikku pelan.

  “…” tak ada jawaban disana.

  “Ini keadaan darurat. Kami terjebak dalam gedung dan harus bersembunyi. Tapi kurasa sebentar lagi, zombie-zombie itu akan menemukan kami” jelasku masih mencoba berbisik.

  “Dimengerti” jawab Jesica tegas.

Teleponnya terputus. Aku menghela nafas, sedikit merasa lega. Setidaknya mereka tahu kalau sekarang kami sedang dalam keadaan bahaya. Dan paling tidak, salah satu dari mereka sedang menuju kemari. Tapi,… berapa lama waktu yang dibutuhkan agar mereka sampai kesini? Sehari? Dua hari? Atau jangan-jangan mereka sampai kesini saat kami semua sudah berubah menjadi makhluk menyeramkan bernama zombie tersebut?

Raungan zombie-zombie itu semakin kencang. Aku membeku, begitu pun yang lainnya. Hingga akhirnya, dari celah ini kami bisa melihat para zombie sudah sampai di lantai 3, yang artinya sekarang mereka berada di lantai yang sama dengan kami.  Aku menutup mulutku sementara zombie-zombie itu mulai mendekat ke ruangan ini.

Semakin dekat,… dan semakin dekat. Aku menutup mataku, tak mampu melihat zombie-zombie itu semakin mendekat. Sejak kapan aku menjadi selemah ini?

Life in Death : Re-50.yearsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang