Matahari tenggelam, tertutup oleh awan. Suasana senja dan langit yang mulai berwarna jingga. Burung-burung gereja berjajar, hinggap pada kabel-kabel listrik di sepanjang jalan. Aku pun bangkit, setelah sekian lama berbaring sambil menatap langit dengan kosong. Aku berharap ini tak pernah terjadi. Kini aku mulai merindukan rumahku, mulai merindukan suasana tenang tanpa ancaman, tanpa keberadaan makhluk-makhluk mengerikan itu. Aku berdiri, disusul oleh Dayne dan Mark. Tapi sepertinya,… Ex masih pingsan.
“Dayne, kau bawa tasku” kata Mark sambil menyerahkan tasnya pada Dayne.
“Kenapa aku?” tanya Dayne yang sepertinya enggan membawa tas Mark.
“Lalu kau ingin menggendong Ex?” tanya Mark sinis.
“Mmmm,… tak mau sih” jawab Dayne bingung.
“Lalu kau mau pilih yang mana? Bawa tasku atau menggendong anak yang sedang pingsan ini?” tanya Mark yang mulai kesal.
“Ng… aku tak mau dua-duanya” jawaban Dayne benar-benar membuat aku dan Mark kesal.
“Bagaimana kalau kau mati saja, Dayne?” tanya Mark ketus.
“Aku juga tak mau mati” jawab Dayne.
“Sudah, sini aku yang bawa saja. Anak ini terlalu lemah” kataku sambil mengulurkan tangan untuk mengambil tas dan melirik Dayne, mencoba untuk menyindir.
“Hei siapa yang lemah? Sini aku saja yang bawa!” teriak Dayne tak terima sambil merebut tas Mark yang ada di tanganku, disusul oleh aku yang tertawa kecil.
Kami melanjutkan perjalanan kami yang tanpa arah ini. Satu satunya yang kami utamakan sekarang adalah tempat istirahat karena kami tak mungkin tidur di tempat terbuka. Kami berjalan dan terus berjalan menjauhi perempatan jalan tempat kami menumpas zombie-zombie mengerikan itu. aku harap di sekitar sini ada hotel, pondok, atau semacamnya yang bisa kami inapi.
Jauh kami berjalan dibawah langit senja yang berwarna jingga, melewati jalanan aspal dengan beberapa perempatan dan pertigaan. Kabel-kabel listrik yang sudah mulai putus dan menjutai ke bawah, lampu lalu lintas yang berkedip-kedip tak menentu, dan mobil-mobil rusak dengan kaca yang pecah menghiasi perjalanan kami yang suram. Beberapa taman-taman dengan ayunan yang rusak telah kami lewati. Hingga akhirnya kami menemukan sebuah gedung yang cukup tinggi yang sedikit lebih baik dari gedung-gedung lainnya. Setidaknya, tampilan depan gedung ini tak terlalu kotor dan bobrok, mungkin masih bisa jadi tempat istirahat untuk malam ini.
Dengan perasaan ragu, kami melangkah masuk, berharap tak ada apapun yang membahayakan nyawa kami di dalam sana. Aku masuk lebih dulu, disusul oleh Mark yang menggendong Ex, lalu Dayne. Melewati beberapa pecahan-pecahan kaca besar yang mengotori bagian dalam gedung. Yah, aku harap di lantai atas tak terlalu kotor seperti ini.
Aku memalingkan wajahku ke kanan dan ke kiri, mencoba mencari tangga untuk sampai ke lantai 2.
“Itu tangganya!” seru Dayne tiba-tiba sambil menunjuk ke arah tangga yang cukup jauh itu.
Aku tak tahu ini bekas gedung apa, bahkan lantai pertamanya saja sudah membuatku pusing saking leganya. Sungguh disayangkan gedung sebesar ini kini terbengkalai.
Kami pun berjalan menghampiri tangga, sambil menengok ke segala arah. Kami harus selalu waspada bagaimana pun situasinya. Lengah sedikit, nyawa kami taruhannya. Aku, Mark yang menggendong Ex, dan Dayne pun mulai menaiki anak tangga, satu-persatu. Setelah tiba di lantai 2, perasaan lega menghampiri kami. Keadaan di lantai 2 tak terlalu kotor, hanya saja lampunya yang redup dan berkedap-kedip. Kami segera mencari ruangan yang sekiranya bisa dijadikan tempat bermalam untuk kami. Setelah menemukan satu ruangan yang cukup lega dengan 2 sofa yang panjang, kami pun masuk dan mulai membereskan barang-barang kami.
KAMU SEDANG MEMBACA
Life in Death : Re-50.years
Adventure(LANJUTNYA DI S2) Terkadang, penasaran itu bisa membunuhmu. Maksudku, benar-benar membunuh. Sialnya, rasa penasaranku justru menyebabkan kekacauan di seluruh dunia. Makhluk-makhluk sialan itu- ah. Aku bersumpah aku akan menyelesaikan kekacauan ini...
