Empat Puluh

703 110 1
                                        

Aku menghembuskan nafas lega setelah melihat zombie di sekitar kami tumbang. Kobaran api yang melingkari kami mulai padam. Mark mengambil beberapa kain dan membasahinya, lalu menutup garis lingkaran api untuk mempercepat apinya padam.

Ex masih pingsan di pangkuan pahaku, sementara David masih sibuk meniup kulitnya yang terasa terbakar itu. Mark mundur dan terjatuh duduk, melepaskan penat. Tubuhnya penuh dengan keringat. Sementara Yuki dan Dayne, mereka masih belum kembali.

  “Bagaimana selanjutnya?” kataku lemas, menunduk.

  “Aku… aku juga tak tau” kata Mark sambil mulai berbaring dan menutup mata dengan tangannya, menandakan ia benar-benar lelah.

  “Aku lemas” kata David setelah merasa kulitnya mulai berhenti memerah. Wajahnya terlihat pucat.

Aku menunduk, bingung, lelah, tak tahu apa yang harus dilanjutkan. Aku menjadi lebih pesimis. Mulai memikirkan hal-hal aneh yang mematahkan semangatku sendiri.

  “Apa kematian itu damai?” tanyaku tiba-tiba pada mereka.

  “Hah? Apa maksudmu?” tanya Mark sedikit kaget dengan pertanyaanku.

  “Apakah kematian itu terasa lebih menenangkan?” tanyaku lagi. Entahlah, aku lelah.

  “Apa kau berpikir untuk mengakhiri hidupmu?” tanya Mark sedikit tajam.

  “Entahlah, aku juga tak tau. Tapi bukankah kalau lebih enak mati saja?” tanyaku.

  “Hei! Jangan sampai kau berkata seperti itu lagi!” teriak Mark.

  “Mark, bukankah kau juga pernah berharap aku mati saja?” tanyaku dengan raut wajah tak karuan.

Ia tak bergeming. Ekspresi wajahnya tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Ia berhenti berteriak, hening.

  “El…” kata adikku pelan sambil memegang pundakku dari belakang.

  “Kau tau, kau tak boleh berpikir seperti itu…” katanya lirih membuat hatiku terguncang.

  “Bila kau memutuskan mengakhiri hidupmu, pikirkan lagi orang yang akan kau tinggalkan. Aku, Ex, Mark, dan mungkin Yuki dan Dayne. Bagaimana nasib mereka setelah ini…?” ia terus bicara membuatku semakin terguncang.

  “Apakah setelah kematianmu, kau pikir kita semua akan selamat? Apakah setelah kematianmu kau pikir kau akan tenang di alam sana?” tanya David, dalam.

  “Kau bertanya apakah kematian terasa lebih menenangkan? Kurasa iya, tapi tak bagi kau, El. Kau masih punya banyak hal yang harus dilakukan. Kau masih harus menyelesaikan perjalanan ini…” kata David membuatku berpikir ulang. Ia benar. Bodohnya aku berani berpikir soal kematian disaat seperti ini. Untuk seseorang yang penuh dosa dan kesalahan, untuk seseorang yang memiliki tanggung jawab dan kewajiban, kematian bukanlah jalan keluar.

Aku menangis sambil menutup wajahku dengan tanganku. David memelukku pelan dari belakang. Mark pun mulai mendekat dan ikut berpelukan. Tangannya mendekap erat ke punggung David dan tangan satunya mendekap bahuku yang lain.

Kini aku tahu, meskipun perjalanan ini berat, meskipun perjalanan ini menguras tenaga, pikiran, dan batin, aku tak boleh menyerah sampai disini.

Life in Death : Re-50.yearsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang