ekatrivimsati - keluar cangkang

1.4K 262 67
                                    

*

ratimaya — ekatrivimsati

*


Tiga dini hari, dua anak laki-laki ini masih setia memandang plafon kamar dengan tubuh yang telentang di atas karpet dan tangan yang dilipat sebagai bantalan di kepala. Tidak banyak yang Ayah Lingga sampaikan saat pria itu menghubungi anak laki-lakinya. Dari ekspresi yang sempat Rajendra baca, Lingga awalnya merasa gelisah, khawatir, tapi perlahan-lahan mulai tenang, aman, nyaman, serta bisa berkata kepada Rajendra, "Raj, gue ikhlas."

"Pagi ini nggak ada kelas?" tanya Rajendra setelah ia bangkit dan meraih ponsel untuk melihat jadwal mata kuliah. Cukup lama untuknya fokus pada layar karena butuh beberapa kali ia mengucek matanya sebab pencahayaan yang minim.

Lingga membalas, "Ada. Jam 8 pagi." Kedua tangannya sibuk mengetik di ponsel, membalas pesan-pesan yang belum sempat Lingga balas. Kebanyakan dari teman satu fakultas, sisanya teman kerja yang menanyakan kenapa akhir-akhir ini ia sering mengambil cuti. "Raj, gue mau jujur."

Kalimat tersebut mengambil atensi Rajendra. Ponsel laki-laki itu langsung ia letakkan kembali. "Soal apa?" tanyanya datar, tapi penuh rasa penasaran.

"Janita."

Sial. Mereka berdua seharusnya tahu kalau membicarakan Janita adalah topik yang sensitif untuk perasaan mereka saat ini. Masing-masing dari mereka juga harusnya menghindari hal itu kalau tidak ingin melihat secara langsung bagaimana proses patah hatinya mereka saat membicarakan Janita. Unsur kecemburuan pasti akan mengular.

"Let's talk."

*



Joko Digdaya Amara. Sebuah nama yang lahir di perkampungan kecil di dekat kaki Gunung Sindoro. Seorang anak yang semasa kecilnya membantu ibu dan bapaknya di pasar, menjajakan sayuran yang mereka tanam. Ia juga pandai menangkap ikan, bermain gendang di sanggar, atau sangat menyukai pertunjukkan wayang kulit yang kerap kali diadakan di desa. Sewaktu Joko duduk di bangku sekolah dasar, ia pernah ditanya oleh guru tentang cita-citanya. Dengan lantang dan berani, Joko maju ke depan sambil berkata di hadapan teman-temannya, "Aku kepengen dadi wong sukses. Urip iku kudu urup. Aku mau Bapak sama Ibu bangga sama aku. Meskipun aku anak dari petani yang hidupnya kadang makan, kadang ndak, aku kudu pinter, kudu rajin, kudu bisa jadi wong ingkang sugih. Ben aku iso tuku sawah Mbok karo Bapak sampeyan kabeh." Kemudian, ia harus pulang dengan air mata di pipi, sebab seluruh anak di kelasnya menertawakannya. Mereka bilang kalau mimpi Joko terlalu tinggi, terlalu mustahil. Maka ketika ia sampai di rumah dengan keadaan seragam yang kusut dan sedikit kotor, Ibu mengomelinya sambil berkata, "Ojo ngimpi duwur-duwur, Mas. Mbok yo kalau mau jadi orang, yo jadi dirimu sendiri aja. Ndak usah menuhin keinginan orang lain. Urip kanggo awakmu, mati kanggo awakmu."

Lepas lulus dari sekolah dasar, Joko dititipkan di pamannya untuk melanjutkan sekolah di Kotagede. Di sana ia benar-benar dituntut untuk menjadi orang yang terpandang. Menurut pamannya, "Nggak peduli seberapa banyak harta kamu, seberapa besar keinginan kamu, kalau nggak bisa jadi diri sendiri, mustahil rasanya dunia kamu miliki." yang selalu Joko dengar saat sore hari sambil menemani pamannya memandikan burung kakak tua warna putih. Dari rumah pamannya tersebut, Joko ditanamkan rasa ambisi yang amat kuat. Ia bahkan bisa menempati posisi teratas di peringkat kelasnya. Itu berlanjut hingga ia SMA dan melanjutkan perguruan tinggi.

Kerap kali Joko bertanya pada dirinya sendiri di depan cermin di kamar megah nan mewah yang ia tempati bersama keluarga kecilnya. Saat ia tengah berangkat kerja, pada waktu-waktu tertentu ia merapikan kemeja dan jas, atau saat ia pulang dengan segelintir surat yang berisikan perjanjian yang melibatkan uang. Kadang, Joko merasa dirinya sangatlah menyedihkan sekaligus membanggakan. Ia sukses membuat sistem pendidikan di Indonesia itu merata. Joko pun semakin memperhatikan anak-anak dengan kondisi ekonomi dan fisik yang terbatas, menyemangati mereka yang putus asa untuk kuliah. Bahkan tak segan-segan mengalirkan banyak dana di beberapa beasiswa untuk anak yang memiliki keinginan untuk kuliah tapi tak ada biaya.

RATIMAYA [✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang