*
ratimaya — astavimsati
*
"Rajendra?" tanya Lingga mengikuti ke mana telunjuk kanan Janita mengarah. Janita mengangguk pelan. "Kok bisa?"
"Ada beberapa hal yang ngebuat Rajendra jadi obat buat gue, apalagi perihal Mama. Baru dia, Ling, orang luar yang bukan keluarga gue, yang berhasil bikin Mama nggak terlalu takut lagi sama piano." Janita masih tetap menatap Rajendra yang kini tengah bergembira sambil loncat-loncat dengan kedua tangan yang merangkul bahu Sena dan Deka di sisi kanan dan kiri.
"Berarti gue bukan satu-satunya obat lo, ya?" Lingga melirik Janita dari arah samping wajah perempuan itu. Ketika Janita membalas tatapannya, Lingga justru menoleh ke samping.
"Emang bukan satu-satunya. Tapi salah satunya."
Irama lagu Buat Aku Tersenyum dari Sheila On 7 masih menemani masa nostalgia di area GOR. Entah karena terlalu menikmati penampilan bintang tamu atau entah karena lupa kalau orang di sampingnya adalah Lingga, Janita secara perlahan menaruh kepalanya di bahu laki-laki itu. Tangan kanannya melingkari pinggang Lingga. Satu tangannya lagi memegang ponsel. Bibir Janita juga ikut bernyanyi dan tak menyadari kalau Lingga menatapnya penuh arti.
Tidak mau merusak rasa nyaman yang Janita rasakan, Lingga membalas tingkah Janita dengan mengelus rambut perempuan itu. Satu tangannya melingkar di baju Janita. Satunya lagi dibiarkan tak memegang apa apa.
*
Rajendra tahu kapan ia harus maju dan kapan ia harus berputar arah. Ia tahu kalau tadi Janita dan Lingga saling berpelukan setelah Sheila On 7 selesai tampil dengan lagu terakhir mereka yang berjudul Itu Aku. Bohong kalau tidak merasa sesak. Dusta kalau tidak merasa cemburu. Sebuah kekeliruan kalau Rajendra tidak merasa sakit hati karena melihat itu.
"Masih mau ngejer?" Suara Sena bersaut dari samping kanan Rajendra. Laki-laki itu mengajaknya berbicara dengan mata dan tangan yang terfokus pada kamera ponsel. "Kalau capek, istirahat. Ken Arok bunuh Tunggul Ametung juga butuh persiapan." Ia terbahak setelah menyadari betapa bodohnya kalimat yang terakhir.
Rajendra berdecak. Ia menggelengkan kepalanya. "Nggak tau gue. Rasanya makin ke sini, makin hambar. Nggak spesial lagi, padahal gue tau kalau dia juga suka sama gue."
"Mungkin lo cuma merasa tertarik aja. Merasa tertantang. Merasa ingin membuktikan kalau eksistensi lo itu ada." Sena memasukkan ponselnya ke saku celana. Kepalanya menoleh sebentar ke arah Lingga dan Janita yang kini sudah pergi dari lokasi terakhir.
"Nggak, Sen. Ini tuh lebih dari merasa tertarik. Bukan suatu ketertarikan semata. Lebih dari itu karena melibatkan perasaan yang emang benar-benar tulus dari kedua belah pihak. Gue dan Janita. Gue pun nggak merasa bahwa gue ini harus dihargai keberadaannya atau dihormatinya kedudukannya di organisasi. Gak apa-apa kalau emang makna tertarik itu gue yang suka sama Janita, tapi kalau maknanya berlawanan semacam ingin membuktikan kalau Janita itu nggak seperti yang gue bayangkan sebelumnya, sorry, nggak begitu."
"Lo berapi-api menjelaskan kalau pernyataan gue itu salah total. Tapi sadar nggak sih kalau pernyataan lo tadi emang memperkuat pernyataan gue?" Rajendra hanya diam saja. "Gue tau sejak awal gimana perhatiannya Lingga ke Janita. Budak cinta yang bukan budak, tapi rajanya. Lingga mengendalikan semua perasaannya dengan hati-hati, tanpa paksaan, tanpa mengharapkan balasan yang sesuai. Satu yang membedakan lo sama Lingga," Sena memberi jeda, membuat Rajendra menoleh ke arahnya. "Lo terlalu berambisi, sedangkan Lingga menerima semua perasaan Janita dengan besar hati. Coba lihat diri lo sendiri. Aneh nggak sih tiba-tiba suka sama orang yang bahkan... sama sekali nggak lo peduliin? Ayo lah, Jen, nggak semua cinta itu ditemukan sekarang. Nggak semua balasan perlakuan lo dapat manisnya sekarang."

KAMU SEDANG MEMBACA
RATIMAYA [✓]
Romansyou're the light you're the night you're the light in my night #note : republish