shashvimsati - titik tenang

1.2K 251 39
                                    

*

ratimaya — shashvimsati

*

Lingga pulang dari kontrakan ayahnya saat dini hari menjelang, sekitar pukul setengah satu pagi. Ia meninggalkan ayahnya yang tertidur pulas di tikar setelah melayangkan beberapa kecupan di dahi, pelipis, tangan, pipi, dan rambut ayahnya yang memutih. Kemungkinan besar polisi akan membawanya hari ini. Kemungkinan yang lebih besarnya, ayahnya akan dieksekusi di Nusakambangan, sebuah daerah yang jauh dari tempatnya berpijak sekarang.

Kalau ditanya senang atau tidak, Lingga tentu amat senang. Perjuangannya menemui hasil, meski banyak yang belum ia katakan berhasil.

Dengan wajah lesu campur bahagia dan kantong mata yang setia di bawah matanya, Lingga memasuki sekretariat untuk menyapa teman-temannya yang sedang sibuk mempersiapkan segala bentuk untuk pembukaan pekan olahraga antarfakultas yang akan diadakan esok hari tersebut.

"Siang!"

"Siang juga, Bang!" Beberapa adik tingkat menyambutnya.

Lingga berjalan ke arah Rajendra yang sibuk memeriksa rundown acara. "Pokoknya gue nggak mau tau panitia divisi kesehatan harus udah stand by di belakang peserta sebelum pembukaan. Terus, nih, dokumentasi juga kudu gerak cepat. Baterai kamera kudu full, memori harus tersedia banyak ruang kosong, alat-alat juga udah stand by." Begitu kira-kira yang Lingga dengar dari bibir Rajendra yang tengah berdiskusi dengan Gusti, selaku seksi acara.

Gusti mengangguk setelah Rajendra menutup diskusinya. Ia mencatat beberapa poin penting yang Rajendra sampaikan, lalu pamit untuk memperbaikinya.

"Lo udah makan?" Rajendra menunjuk keranjang yang berisi beberapa lontong, kerupuk, sayur, dan buah. "Kalau belum, makan dulu. Bakal lembur kita hari ini." Setelahnya, ia kembali memeriksa beberapa berkas laporan pra-acara dari beberapa divisi.

"GOR udah siap?"

"Udah. Anak-anak kan udah dapat tanggungjawabnya masing-masing, jadi udah pada meluncur. Dekorasi udah siap. Soundsystem juga udah. Pokoknya udah semua deh. Udah ready."

"Terus, kenapa masih kudu lembur? Katanya semua udah beres."

Rajendra menghentikan aktifitasnya, ia menatap Lingga dan menggeser kursinya agar berada di samping Lingga. "Bukan anak-anak yang lembur. Tapi gue, lo, sama Janita."

Lingga memundurkan tubuhnya karena wajah Rajendra, ia rasa terlalu dekat. "Kenapa gue? Ada apa?" tanyanya.

Kursi kembali digeser oleh Rajendra. Ia menarik kepala Lingga dan berbisik di telinganya. "Lo kemarin nggak datang rapat, Ling. Gue curiga kalau lo udah nemuin bokap lo."

Alis Lingga terangkat sebelah. "Tau dari mana?" tanyanya penuh selidik.

Rajendra berdecak sebal. "Eh, Lingga, kan gue udah bilang tadi kalau gue curiga. Gue nggak tau dari siapa-siapa, itu cuma asumsi gue. Atau jangan-jangan," Rajendra menuding ke arah Lingga sambil menebak-nebak. "Lo beneran udah ketemu sama bokap lo, ya? Ngaku lo?"

"Iya, gue udah ketemu sama bokap gue."

"HAH? KAPAN?" Janita yang ingin menyerahkan laporan keuangan acara ke Rajendra, spontan teriak saat mendengar apa yang Lingga ucap. Hal itu juga membuat semua yang ada di sekretariat menoleh ke arahnya. "Hehe, maaf ya. Lanjutin aja nggak apa-apa." Ia meringis meminta maaf dan ikut duduk di samping Rajendra, tepat di kursi yang diduduki laki-laki itu.

RATIMAYA [✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang