"If you want to smile just for second, i believe that you will get this world in your hand"
- Radea Pitasari G -
©©©
"Selamat pagi!"
Sapaan riang itu terdengar di ruang makan yang sekarang sudah terisi oleh anggota dari keluarga Sabhara. Rivaldi dan Riana tersenyum meliht kedatangan gadis muda itu dengan ceria. Begitu juga dengan Senjana yang sedang memangku Elang, putra pertamanya.
"Selamat pagi, Radea. Gimana tidurnya semalam? Nyaman berada disini?" tanya Riana.
Radea duduk disamping Senjana lalu tersenyum pada Riana sebelum menjawab pertanyaan wanita itu.
"Nyaman dong, Tante. Radea senang justru disini, apalagi ada Elang yang unyu ih gemes deh!" jawab Radea menoel pipi Elang yang menggembung karena makanannya.
"Jangan sungkan disini yah, Dea. Anggap aja ini rumah kamu sendiri." ujar Rivaldi.
"Iya, De. Nanti kalau butuh sesuatu bilang aja sama aku atau Kak Atar dan Kak Yudhis." tambah Senjana.
"Beres Kak."
"Excuse me! Apa Yudhis satu-satunya yang gak tau kalau dia itu siapa disini?"
Yudhis yang sejak tadi diam sekarang mulai bersuara. Dia sendiri bingung kenapa kedua orang tuanya tampak sangat antusias menyambut gadis muda itu. Ditambah dengan interaksinya bersama Elang yang terlihat cukup dekat. Kepergiannya selama seminggu ini ternyata membuatnya tampak seperti orang bodoh sekarang.
"Dia anaknya Om Sastro, Yud. Temannya Papa yang pernah hadir di pernikahan bokap dulu. Lo gak inget? Ini anak yang pernah nempelin lo gak mau lepas-lepas dulu." ujar Antariksa menatap Yudhis geli.
"Ih masa Dea begitu sih Kak! Gak mungkin." elak Radea.
"Emang gitu kok. Kakak masih inget banget muka polos kamu yang ngeliatin Kak Yudhis terus seakan dia itu pangeran dari negeri dongeng. Begitu dikenalin eh gak mau lepas dari gandengannya Kak Yudhis kamunya. Malah sempat nangis gak mau pulang, iya kan Ma?" tambah Antariksa.
Riana dan Rivaldi sontak tertawa mendengar penuturan Antariksa. Mereka ingat jelas saat gadis kecil berumur 7 tahun yang dulu sangat menempel pada Yudhistira. Gadis berkucir kuda yang mempunyai senyum manis serta lesung pipi di sebelah kiri saat itu mampu membuat Yudhis yang kaku menjadi meleleh. Mereka masih ingat bagaimana gemasnya lelaki itu mencium pipi Radea kecil dengan gemas, bagaimana dia tertawa lepas menghadapi Radea yang masih sangat polos dan imut. Semua itu masih jelas teringat di ingatan mereka semua, namun sepertinya Yudhis sendiri sudah melupakannya.
"Eyang kenapa sih ketawanya kenceng gitu? Emang apa yang lucu, Ma?" Elang bertanya sambil menatap Ibunya.
"Elang kepo nih." jawab Antariksa yang mengambil alih untuk membawa Elang ke pangkuannya.
Antariksa menggelitiki perut putranya sampai dia tertawa lepas. Senjana bahkan sampai memukul lengan Atar untuk berhenti karena Elang masih harus makan.
"Masa sih gue kayak gitu?" tanya Radea pada dirinya sendiri.
"Kalo kamu gak inget mungkin wajar, Dea. Tapi masa kamu lupa, Nak?" tanya Riana menoleh ke Yudhis di sebelahnya.
"Ck! Anak kecil yang pake bando kelinci di kepalanya Yud. Rambutnya dikucir kuda terus dandanannya kayak princess gitu. Si Rara! Dulu panggilannya Rara kalau gak salah." tambah Antariksa gemas.
Dahi Yudhis yang tadi berkerut mulai melonggar. Sekarang gikiran matanya yang membulat seperti terkejut dengan fakta yang baru dia terima. Lalu kemudian tatapannya jatuh pada gadis yang juga menatapnya sambil mengerjapkan mata, mungkin masih bingung karena tidak bisa mengingatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Obsession [TERBIT] (JUPITER SERIES #1)
Romance#1 in romance 20/05/2020 [SPIN OFF ANTARIKSA] Dalam hidup seorang Yudhistira Sabhara kata cinta hanyalah sebuah lelucon tidak penting. Kejadian yang menimpa dirinya membuatnya tidak ingin berurusan dengan perasaan seperti cinta. Karena hal itu yang...
![Perfect Obsession [TERBIT] (JUPITER SERIES #1)](https://img.wattpad.com/cover/198978356-64-k680172.jpg)