"Menyampaikan kelebihan diri dibilang sombong. Maaf, itu bukan sombong tetapi kenyataan yang harus lo semua terima."
- Yudhistira Sabhara -
©©©
Masih pada waktu dan tempat yang sama, Yudhistira menatap tajam lelaki remaja di hadapannya. Dia tidak peduli kalau harus melawan seorang anak yang usianya bahkan jauh dibawahnya untuk melindungi apa yang dia tetapkan menjadi miliknya. Dia tidak suka berbagi, apalagi jika kepemilikannya diganggu gugat.
"Kak, jangan begitu ke Kevin. Dia cowo yang waktu itu Rara pernah bilang. Kakak gak percaya sama Rara waktu itu di mobil."
"See? Dia aja ngebelain gue. Lo siapa? Sok mau ngancem gue segala."
"Kevin!"
"Saya masih bersikap baik dengan memberimu pilihan. Kamu ingin mundur sendiri atau saya yang akan memaksa kamu. Jangan mencoba bermain-main dengan saya! Kamu bukan level saya."
"Kak..."
"Lo pikir gue takut?" potong Kevin.
"Terlalu pemberani bisa membuatmu kalah lebih cepat. Pikirkan saja lebih dulu." ujar Yudhis santai.
"Jangan pikir karena ancaman lo, gue bakal mundur. Radea terlalu berarti buat gue lepas cuma karena ancaman dari lo!"
"Kita liat nanti, seberapa jauh kamu bisa bertahan."
Yudhistira sudah berbalik ingin menuju mobilnya saat Kevin kembali bersuara lagi. Perkataan yang mampu membuat api amarah Yudhis menyala semakin tinggi.
"Apa yang bisa lo lakuin pak tua? Gue pengin ngehajar lo aja masih harus mikir karena lo orang tua dan beruntung gue masih punya sopan santun." ujar Kevin mengejek sambil tersenyum sinis.
"What the..." Ujar Radea tidak tahu harus berkata apa lagi.
Kedua telapak tangan Yudhis sudah terkepal erat. Dia melangkah maju menghampiri Kevin dengan cepat. Saat tangan kanannya sudah terayun ke arah lelaki itu, seseorang dari sampingnya lebih cepat menghadangnya sambil terengah karena berlari. Melihat orang di hadapannya membuat emosi Yudhis semakin membara. Dis menyentak tangan yang menahannya dengan kesal.
"Ngapain lo disini?!" bentak Yudhis.
"Lo ngapain disini? Bukannya pulang malah ribut di parkiran. Anak orang ini Yud, masih bocah jangan asal lo embat aja."
"Lo pikir gue peduli? Jangan ikut campur, Cup."
"Gue tau lo gak akan peduli apapun kalau udah emosi, tapi seenggaknya jangan di depan Radea."
Mata Yudhis melirik ke arah Radea yang berdiri layaknya patung karena terlalu terkejut. Selama ini Yudhis selalu bisa mengontrol emosi saat berada di sekitar Radea, tapi sekarang kendali emosinya terlalu besar dibanding logikanya.
"Pengecut!" ejek Kevin.
"Bangsat! Gue lagi menyelamatkan lo dari kematian, bocah! Jangan buat gue harus ditubruk banteng karena bacot lo itu!" bentak Ucup.
"Gue gak perlu bantuan lo! Gue bisa ngeladenin si Om-Om itu!"
"Anjing! Jangan buat gue yang abisin lo disini, bocah! Pergi lo dari sini, dia bukan lawan lo. Percaya sama gue, dia gak akan pernah main-main sama kata-katanya. Lo bisa aja abis ditangan dia!" ujar Ucup yang ikut terbawa emosi.
"Kevin, kamu pergi dari sini! Kita bisa omongin masalah kita nanti." ujar Radea setelah sadar dari keterkejutannya.
"Tapi, De...."
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Obsession [TERBIT] (JUPITER SERIES #1)
Romance#1 in romance 20/05/2020 [SPIN OFF ANTARIKSA] Dalam hidup seorang Yudhistira Sabhara kata cinta hanyalah sebuah lelucon tidak penting. Kejadian yang menimpa dirinya membuatnya tidak ingin berurusan dengan perasaan seperti cinta. Karena hal itu yang...
![Perfect Obsession [TERBIT] (JUPITER SERIES #1)](https://img.wattpad.com/cover/198978356-64-k680172.jpg)