"Percayalah, hidup dengan topeng selama hampir seumur hidup itu sangat menyiksa."
- Yudhis Sabhara -
©©©
Amin, wanita berusia hampir setengah abad itu menangis pilu saat menatap ke arah ruang ICU dimana suaminya berada. Tadi pagi, suaminya baik-baik saja. Namun, tiba-tiba saja tengah malam tubuh suaminya mengalami kejang-kejang. Setelah operasi sekitar beberapa minggu lalu, kondisi suaminya sudah cukup membaik. Walau terkadang, dia memang masih sering mengeluh merasakan sakit pada dadanya. Malang nian nasib suaminya, bukan hanya satu penyakit yang ada dalam tubuhnya, tetapi sudah semacam komplikasi.
"Mama..."
"Ra, Papa kamu gimana? Kita harus gimana?" Tanya Anin masih menangis menghadap ke arah putri semata wayangnya.
"Papa pasti baik-baik aja, Ma." Ujar Radea tanpa bisa menyembunyikan rasa khawatir pada perkataannya.
Anin mundur dan tubuhnya merosot duduk di bangku tunggu dekat ruang ICU. Melihat itu, Radea ikut menghampiri Mamanya dan duduk sambil memeluk orang tuanya itu.
"Kemarin, Papa sempat cerita sama Mama. Papa senang sekali, Ra. Sampai sekarang, Mama masih bisa membayangkan Papa tersenyum bahagia seperti kemarin itu." Ujar Anin bercerita.
"Apa yang buat Papa senang, Ma?" Tanya Radea walau sepertinya dia sudah tahu jawabannya.
"Yudhis datang, dia bilang ingin melamar kamu menjadi istrinya. Mama ingin langsung menolaknya waktu itu mengingat kamu masih harus sekolah. Tetapi saat Mama melihat bagaimana Papamu tersenyum sangat lebar, membuat Mama mengurungkan niat itu. Setelah Papa masuk rumah sakit, menjalani berbagai macam tes. Baru pertama kali, Mama melihatnya tersenyum bahagia walau dalam kondisinya yang masih terikat dengan alat-alat medis. Mama gak bisa membuat Papa kecewa karena pilihan Mama."
Radea terdiam, dia tidak sanggup mengeluarkan kata-kata apapun sekarang. Dalam hatinya, dia merutuk Yudhis yang sudah berhasil menipu keluarganya. Bersikap layaknya seorang malaikat penolong padahal aslinya dia adalah seorang iblis tidak punya perasaan. Ayahnya sendiri telah terpedaya oleh wajah polos lelaki itu. Rasanya Radea ingin sekali meninju lelaki itu membuatnya tidak sanggup lagi menampilkan topengnya yang terlihat sangat menjijikkan.
"Ra, apa kamu mencintai Yudhis?" Tanya Anin pada putrinya.
"Apa perasaan Radea penting?"
"Sayang, walau Mama ingin melihat Papamu bahagia tapi Mama juga gak mau mengorbankan kebahagiaan anak Mama. Papa selalu menerima kabar tentang kamu di Indonesia. Kami tau, kamu sangat dekat dengan Yudhis. Jadi, karena itu Papa berpikir akan sempurna kalau kamu menikah dengan lelaki itu. Tapi, sekarang Mama merasa berbeda. Kamu sama sekali gak senang waktu Mama menyampaikan hal ini. Ada apa, Ra?"
Dengan melepaskan pelukannya pada Anin, Radea duduk sambil menoleh ke pintu ruangan Ayahnya di rawat. Dia ingin berkata sejujurnya, namun kembali bahwa semua itu pasti akan ada resikonya. Seumur hidupnya, dia belum pernah menjadi anak yang benar-benar bisa membanggakan kedua orang tuanya. Dia terkadang suka sekali membangkang. Sekarang, disaat orang tuanya membutuhkan bantuan, apa dia juga harus membangkang demi menuruti keegoisannya sendiri?
"Apa ini karena perusahaan? Papa ingin Radea menikah dengan lelaki itu, apa karena perusahaan, Ma?"
"Apa maksud kamu? Papa gak mungkin menjual anaknya sendiri. Dia memikirkan kebahagian kamu, dan Yudhis satu-satunya lelaki yang sangat dikenal oleh Papamu yang bisa menjaga kamu, Radea. Lagipula kenapa harus bersangkutan dengan perusahaan? Sama sekali gak, sayang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Obsession [TERBIT] (JUPITER SERIES #1)
Romance#1 in romance 20/05/2020 [SPIN OFF ANTARIKSA] Dalam hidup seorang Yudhistira Sabhara kata cinta hanyalah sebuah lelucon tidak penting. Kejadian yang menimpa dirinya membuatnya tidak ingin berurusan dengan perasaan seperti cinta. Karena hal itu yang...
![Perfect Obsession [TERBIT] (JUPITER SERIES #1)](https://img.wattpad.com/cover/198978356-64-k680172.jpg)