PERFECT OBSESSION 35 || KEMBALI DISAAT YANG SALAH

26.3K 1.7K 247
                                        

"Dia datang menawarkan kebahagiaan, tapi nyatanya aku hanya bahagia jika denganmu."

- Radea Pitasari G -

©©©

Katakan arti dari cinta. Apa yang bisa dimaksud mengenai perasaan itu? Apakah artinya hidup bersama selamanya? Atau bahagia walau hanya melihatnya bersama yang lain? Karena kenyataannya Kevin tidak merasakan keduanya. Dia tidak bisa hidup bersama selamanya dengan orang yang dicintainya, tetapi dia juga tidak bisa bahagia melihat orang yang dicintainya bahagia bersama orang lain.

Lalu, perasaan apa yang dia rasakan ini? Keegoisan?

Kevin mendengus memikirkannya, dia tidak bisa melakukan keduanya bahkan jika lelaki itu memaksanya. Mungkin, memang dia harus bersyukur karena itu. Kenyataannya, lelaki itu membuat dia dan Ibunya terbebas dari sosok monster yang selama ini menjadi Ayah kandungnya. Menyakitkan saat harus melepas orang yang dicintai demi orang lain yang juga dia cintai, Ibunya.

"Jangan salahin gue kalau akhirnya gue bertindak." Ujar Kevin menatap orang yang duduk di kursi seberang mejanya.

"Silahkan."

"Serius?"

"Kalau lo mau gue bikin remuk seluruh badan, bahkan kalau perlu sampai lo berharap gue ngebunuh lo daripada terus tersiksa."

"Cih, bajingan! Gue masih ngerasa aneh kalau ngomong sama lo."

"Apa boleh buat?"

Hening.

Selama beberapa menit, tidak ada lagi yang berbicara. Baik Kevin maupun orang itu. Seakan mengerti apa yang tengah ada di pikiran masing-masing, Kevin akhirnya berniat memecahkan kesunyian terlebih dahulu.

"Hari ini, gue mau ketemu sama dia. Doain yah?" Ujar Kevin tersenyum tipis.

"Gue doain, semoga dia ngusir lo dengan cara tersadis dan memalukan. Mungkin menggunakan satpam atau menendang bokong lo dari ruangannya."

"Sialan! Gue lagi berusaha mendapatkan hatinya lagi, tau!"

"Kayak lo bisa." Lelaki itu tersenyum remeh.

"Bisalah, sekarang dia udah janda. Inget? Janda!"

"Gue gak mau kena darah tinggi dan mempengaruhi kesehatan gue lagi! Berhenti bicara omong kosong, anak koruptor!"

"Lo yang berhenti bicara omong kosong, Anak buangan!"

Bukannya tersinggung, suara tawa mereka justru keluar dengan sendirinya. Entah sejak kapan mereka bisa menjadi terlalu dekat seperti ini. Rasanya sudah lama sekali dan baru kali ini bisa benar-benar terpampang nyata. Kedekatan mereka.

"Pergi. Buat dia tersenyum."

"Pasti, dia akan selalu tersenyum kalau sama gue."

Lelaki itu terkekeh, "kalau begitu pergilah, bajingan!"

"Berhenti memerintah gue, sialan! Tanpa disuruh gue juga mau pergi!"

"Semoga berhasil."

"Pasti berhasil!" Jawabnya sinis.

Perfect Obsession [TERBIT] (JUPITER SERIES #1) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang