"Jangan mengujiku soal hak kepemilikkan kalau kamu tidak mau melihatku berubah."
©©©
Radea saat ini tengah berbaring di ranjang besar berwarna putih dengan suasana kamar yang bernuansa abu-abu itu. Di sampingnya sudah ada lelaki yang beberapa jam lalu bertengkar dengannya. Dia melihat betapa damainya lelaki itu di dalam tidurnya.
Malam ini, Yudhis memang meminta Radea untuk menemaninya tidur. Hanya tidur, tanpa melakukan hal aneh-aneh lainnya. Lelaki itu bilang sudah beberapa malam terakhir dia tidak bisa tidur nyenyak. Namun kelihatannya malam ini lelaki itu bisa tidur sangat lelap sekali. Dengan tangan kanan menggenggam tangan Radea dan membawanya ke atas perut lelaki itu tanpa terlepas. Radea tidak keberatan sama sekali jika harus bergandengan sepanjang malam seperti ini, yang terpenting lelaki di sampingnya bisa tidur tanpa gangguan.
"Apa yang terjadi sama kita di masa lalu? Rasanya... ada satu keping puzzle yang hilang dan membuat gambar itu gak lengkap. Apa itu bisa buat Rara kehilangan Kakak lagi?" Gumam Radea menatap Yudhis.
Radea bangun dari tidurnya lalu melepaskan genggaman tangannya dari Yudhis dengan perlahan. Dia duduk di samping ranjang sambil melihat-lihat ruangan dari lelaki yang masih tertidur itu. Kamarnya masih sama seperti terakhir kali dia masuk kesini. Kemudian, dia melihat ke arah satu meja yang penuh dengan dokumen Yudhis. Meja yang mungkin biasa dipakai lelaki itu mengerjakan beberapa pekerjaan yang tidak sempat dia selesaikan di kantor. Merasa tertarik, Radea berdiri melangkah ke arah meja itu.
Di atas meja itu hanya ada beberapa tumpukan dokumen perusahaan. Radea berjalan mengitari meja lalu duduk di kursi besar dekat meja itu. Radea bersender sambil menggoyangkan kursi itu menikmati betapa nikmatnya duduk di kursi empuk itu. Masih dengan rasa penasaran tinggi, Radea menyentuh laci pertama di bawah meja lalu menariknya. Disana dia menemukan beberapa flashdisk dan beberapa amplop cokelat besar.
Setelah itu, Radea kembali mendorong laci itu kembali seperti semula. Kemudian dia membuka laci kedua dan pemandangan tidak terduga terjadi. Dia membelalakkan matanya saat menemukan sebuah pistol disana dengan persediaan peluru di sampingnya. Radea menahan nafasnya saat melihat terdapat pisau lipat juga berada disana.
Seketika tangan Radea bergetar ketakutan. Dua benda itu seperti mempunyai cerita sendiri di dalam hidupnya. Tiba-tiba saja perasaan sesak itu kembali lagi. Kepalanya terasa berputar dengan bayangan-bayangan gelap itu muncul. Dia kembali di hadapkan dengan kepingan puzzle itu lagi.
Yudhis berdiri disana dengan pakaian yang sudah beberapa terciprat bercak darah. Tangannya masih setia memberikan pukulan kepada lelaki yang bahkan sudah terkapar di lantai. Lelaki itu terlihat sudah tidak sadarkan diri dengan wajah yang mungkin sudah tidak berbentuk lagi.
Kemudian, pandangan Yudhis menoleh ke arah seorang gadis kecil yang sudah berjongkok ketakutan sambil memeluk kedua kakinya.
"Rara..."
"Pergi! Jangan deketin, Rara! Hiks... Rara takut. Rara takut."
"Ra, ini Kak Yudhis. Ini Kakak, Ra. Jangan takut." Ujar Yudhis lembut berniat mendekati Rara.
Baru beberapa langkah, gadis cilik itu justru berteriak histeris tidak mau Yudhis mendekatinya.
"Ini Kak Yudhis, Ra. Kenapa Rara harus takut?" Bujuk Yudhis sudah berkaca-kaca melihat bagaimana ketakutannya gadis cilik itu.
"Kak Yudhis...?" Cicit Rara.
"Iya, ini Kakak." Jawab Yudhis perlahan melangkahkan kakinya lagi menuju Rara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Obsession [TERBIT] (JUPITER SERIES #1)
Romansa#1 in romance 20/05/2020 [SPIN OFF ANTARIKSA] Dalam hidup seorang Yudhistira Sabhara kata cinta hanyalah sebuah lelucon tidak penting. Kejadian yang menimpa dirinya membuatnya tidak ingin berurusan dengan perasaan seperti cinta. Karena hal itu yang...
![Perfect Obsession [TERBIT] (JUPITER SERIES #1)](https://img.wattpad.com/cover/198978356-64-k680172.jpg)