"Jangan tinggalkan aku, lagi!"
- Radea Pitasari G -
©©©
Melihat wanita yang dicintai tengah berbaring di ranjang Rumah Sakit dengan infus yang terpasang benar-benar menyakiti hatinya. Namun, dia masih bersyukur karena Tuhan masih berbaik hati untuk tidak mengambil wanita dan juga calon anaknya. Jika hal itu terjadi, dia tidak tahu lagi apa yang harus di lakukan. Dia mungkin akan gila karena kehilangan keduanya.
Yudhis menggenggam tangan wanita itu dengan penuh kelembutan. Dia menyingkirkan rambut yang ada di dahi Radea. Sudah satu bulan dia tidak melihat Radea sedekat ini. Menyentuhnya seperti sekarang, walau terakhir kali dia menyentuh wanita ini baru beberapa hari lalu saat Radea tengah demam. Namun, itu tidak bisa menghilangkan perasaan rindunya pada istrinya.
Selama beberapa minggu terakhir, Yudhis harus berusaha sekuat tenaga agar bisa menyembuhkan luka yang didapatkannya dari kecelakaan itu. Kakinya mengalami patah tulang, kepalanya mengalami pendarahan hebat waktu itu. Belum lagi beberapa kaca yang sempat menusuk bagian perutnya. Membayangkan bagaimana perjuangannya waktu itu membuat dia merasa bahwa semua ini adalah keajaiban. Jika tidak mengingat Radea masih membutuhkannya. Jika dia tidak di beritahu mengenai kehamilan wanita ini, mungkin saat itu Yudhis sudah menyerah. Rasanya sangat menyakitkan seperti dia tengah berada di ambang jurang kematian, dan jika dia salah bergerak saja maka nyawanya tidak akan selamat.
Perlahan mata Radea terbuka dengan perlahan. Wanita itu mengerutkan kening saat melihat cahaya yang begitu terang masuk ke retina matanya. Kepalanya seketika merasakan pusing, bahkan perutnya juga melilit merasa mual. Mengingat perutnya, tangannya langsung terangkat merabanya. Dia melihat ke bawah dengan perasaan khawatir. Air matanya tanpa bisa dicegah langsung turun. Apakah janinnya baik-baik saja?
"Dia baik-baik saja. Dia selamat, sayang."
Suara lembut itu mengalihkan perhatiannya. Dia menoleh ke arah seseorang yang duduk di kursi tunggu sebelah ranjangnya sambil tersenyum. Sekarang air matanya kembali mengucur deras. Ternyata dia masih berada di alam mimpi. Dia masih belum terbangun. Lelaki itu harus kembali dalam mimpinya dengan senyuman yang selalu menenangkannya.
"Jangan menangis. Aku disini, Ra." Ujarnya menghapus air mata Radea.
"Gak! Kamu gak disini. Kamu cuma mimpi aku, nanti kalau aku bangun, kamu pasti akan menghilang. Kamu gak disini, Yudhistira. Kamu gak nyata."
Radea menangis dan kali ini tubuhnya bergetar karenanya. Dia mengangkat kedua tangannya untuk menutupi wajah yang sudah berlinang air mata. Tidak ada yang mengerti bagaimana tersiksanya dia karena merindukan lelaki ini. Tidak ada yang bisa memahami keinginan terbesarnya yang ingin memeluk suaminya dalam keadaan nyata, bukan hanya delusi semata.
"Aku disini, sayang. Aku kembali, untuk kamu dan anak kita."
"Pergi! Aku mohon pergi kalau kamu cuma mau menetap untuk sementara. Aku gak mau berharap lagi, terlalu menyakitkan saat melihat harapan itu cuma tinggal harapan."
Tidak tahan melihat tangisan dari istrinya, Yudhis berdiri lalu duduk di samping ranjang. Dia mengangkat tubuh Radea sampai terduduk di pangkuannya. Posisi yang sering mereka lakukan sebelum kejadian kecelakaan itu terjadi. Yudhis merasakan tubuh Radea yang masih bergetar karena tangisan wanita itu. Dengan perlahan, dia melepaskan kedua tangan Radea dari wajahnya, penuh kehati-hatian terhadap infus yang masih terpasang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Obsession [TERBIT] (JUPITER SERIES #1)
Romance#1 in romance 20/05/2020 [SPIN OFF ANTARIKSA] Dalam hidup seorang Yudhistira Sabhara kata cinta hanyalah sebuah lelucon tidak penting. Kejadian yang menimpa dirinya membuatnya tidak ingin berurusan dengan perasaan seperti cinta. Karena hal itu yang...
![Perfect Obsession [TERBIT] (JUPITER SERIES #1)](https://img.wattpad.com/cover/198978356-64-k680172.jpg)