PERFECT OBSESSION 14 || KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN

37.2K 2.1K 40
                                        

"Manfaatkan waktumu sebaik mungkin sebelum dia menghilang."

- Yudhistira Sabhara -

©©©

Malam ini senyum Yudhis tidak bisa hilang dari wajahnya. Bersantai di dekat kolam renang tangan yang saling bertautan dengan Radea adalah hal terbaik di hidupnya. Gadis itu masih terus berceloteh tentang sekolahnya, orang tuanya dan berbagai hal lainnya. Yudhis tidak keberatan sama sekali. Dia justru senang jika Radea terus bercerita apapun tentang dirinya. Dia jadi bisa mengerti lebih jauh mengenai gadisnya itu.

"Kalau Kak Yudhis dulu pernah gak bolos sekolah?" tanya Radea menatap Yudhis yang duduk di sebelahnya.

"Hm?" respon Yudhis.

"Rara tanya, Kak Yudhis dulu pernah bolos sekolah gak?"

"Pernah. Dulu waktu SMA sama Kak Atar."

"Oh iya? Kak Atar bolos sekolah? Wah ternyata kalian anak-anak bandel yah?"

"Kalau kamu tau gimana kami dulu, bisa kaget kamu."

"Emang gimana? Ceritain dong!" pinta Radea.

"Ceritain apa?" tanya Yudhis membawa tangan Radea yang ada di genggamannya untuk dikecup.

Merasakan tangannya yang dikecup oleh Yudhis, wajah Radea memerah tanpa bisa dia cegah. Kenapa sih lelaki itu bisa semanis seperti sekarang?

"T-tentang itu, Kak Yudhis dulu waktu sekolah."

"Ngapain cerita tentang masa lalu? Mending cerita rencana masa depan kita nanti." jawab Yudhis.

"Apaan sih?" elak Radea menutupi rasa merinding saat mendengar ucapan Yudhis.

"Kamu cantik, Ra."

Yudhis membelai pipi Radea yang tadi tertutup oleh rambut panjangnya. Melihat gadis itu sedekat ini, dia jadi kembali teringat tentang gadis muda yang dulu selalu dia ajak bepergian. Anak kecil yang suka menempel padanya dan dia tidak pernah merasa terganggu dengan hal itu.

Radea adalah hal yang datang untuk membuat Yudhis mampu terus bertahan di saat dunianya tengah hancur di bawah kakinya. Kebahagiaan yang diberikan kepadanya untuk terus dia jaga sampai kapan-pun. Dia tidak bisa melepaskan gadis itu lagi hanya karena kesalahan tidak berarti yang pernah dia lakukan dulu. Tidak, walaupun gadis itu nanti yang memintanya sendiri. Bahkan jika Yudhis harus memaksa dunia untuk memberikan Radea padanya, dia akan melakukan hal itu.

"Belajar gembel dimana sih? Rara merinding tau gak?!"

"Aku gak gembel. Itu tadi serius, kamu cantik."

"Apaan sih pake aku-akuan?" ujar Radea memalingkan wajahnya yang memerah.

"Enak kayak gitu. Jadi lebih akrab aja."

"Tapi masih aneh buat Rara."

"Dibiasain dong, Ra. Besok kalau kita nikah emang kamu mau panggil aku Kakak terus? Aku kan bukan saudara kamu." ujar Yudhis lalu mengecup pipi Radea sekilas.

"Hah?"

Radea menatap Yudhis dengan mata melotot. Dia tentu saja terkejut dengan pernyataan lelaki itu. Menikah? Hello, dia saja belum lulus sekolah tapi sudah dilamar duluan. Sebenarnya Radea sendiri mau sih, tapi tidak secepat ini juga.

"Hm?" respon Yudhis tanpa berusaha menjelaskan.

"Tadi Kak Yudhis bilang apa?"

"Menikah."

"Siapa yang mau nikah?"

"Kita."

"Jangan bercanda, Kak."

Perfect Obsession [TERBIT] (JUPITER SERIES #1) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang