PERFECT OBSESSION 33 || KESENDIRIAN YANG MEMUAKKAN

35.3K 2.1K 460
                                        

"Aku hanya menginginkan satu hal yang tersisa di dunia ini, kamu. Namun itu juga harus terenggut dariku."

- Radea Pitasari G -

©©©

Radea terbangun dari tidur siangnya saat mendengar suara tangisan serta teriakan di ruang keluarga. Tangisan yang sangat keras bahkan sampai terdengar sampai kamarnya yang notabennya lumayan kedap suara. Dia bangun dari ranjang hendak menuju ke arah ruang keluarga. Entah kenapa firasatnya tiba-tiba menjadi tidak enak. Terakhir kali dia pernah melakukannya saat kedua orang tuanya meninggal. Dia menangis dan berteriak sampai suaminya datang memeluknya. Sekarang apa lagi yang terjadi?

"Putraku hiks.... Putraku! Kenapa harus begini? Kenapa harus selalu Yudhistira..."

"Kita harus ke rumah sakit, Ma. Papa sedang dalam perjalanan sekarang. Mama harus kuat." Ujar Senjana memeluk Riana dengan air mata di pipinya.

"Mama?" Panggil Radea.

Senjana dan Riana seketika melihat ke arah Radea yang berdiri menatap mereka berdua bingung.

"Ada apa, Kak?" Tanya Radea mendekat.

"Ra..."

"Mama, kenapa?"

Radea ikut memeluk Riana berusaha menenangkan wanita paruh baya itu juga. Namun, Riana justru memeluk Radea dengan erat seperti berusaha menguatkan dirinya. Kening Radea berkerut merasakan Riana yang seperti ingin menguatkan diri untuk berbicara.

"Yudhistira meninggal karena kecelakaan." Ujar Riana dalam satu tarikan nafas masih memeluk Radea.

Tubuh Radea seketika langsung melemas. Tatapannya menjadi kosong seketika. Hatinya langsung terasa hampa mendengar perkataan Riana. Dia menatap Senjana hendak memastikan apa yang dia dengar, namun wanita itu hanya menatapnya dengan air mata seakan memberikan tatapan prihatin.

Radea melepaskan pelukan Riana, dia menatap wanita paruh baya itu dengan pandangan hampa. Dia berbalik, hendak melangkah kembali ke kamarnya. Senjana yang melihat itu menghadang langkah Radea dengan berdiri di depan iparnya. Dia melihat Radea yang hanya diam, tidak ada air mata yang keluar. Hanya wajah datar tanpa ekspresi apapun. Ekspresi yang menyatakan betapa hidupnya seperti tidak berguna lagi.

"Ra?"

"Yudhis gak mungkin meninggal. Dia janji akan pulang secepatnya. Berita itu gak benar, Kak. Yudhistira gak mungkin meninggal." Ujar Radea datar.

"Antariksa ada di rumah sakit sekarang. Jenazah Yudhis masih ada di ICU. Dia udah meninggal Radea. Yudhistira, dia udah gak ada." Ujar Senjana pelan dengan air mata mengucur.

Kata-kata Senjana memukul hati wanita di hadapannya. Seketika kepala Radea seperti berputar. Dadanya sesak, bahkan dia merasa tidak bisa bernafas sekarang. Air mata Radea mulai turun ke pipinya. Dia menggelengkan kepala keras, baru beberapa jam mereka berpisah. Dia baru melepaskan Yudhis beberapa jam, dan sekarang suaminya pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.

"Gak. Yudhis gak mungkin meninggal. Dia gak mungkin meninggal." Racau Radea.

"Ra, kita harus ke rumah sakit."

"Ngapain kita kesana?! Yudhis gak meninggal! Dia gak mungkin tinggalin Radea!! Dia udah janji akan pulang! Dia pasti pulang. Dea gak akan kemana-mana sampai Kak Yudhis pulang."

Perfect Obsession [TERBIT] (JUPITER SERIES #1) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang