PERFECT OBSESSION 34 || MERINDUKAN SANG PANGERAN

29K 2K 385
                                        

"All I want is you."

- Radea Pitasari G -

©©©

Menginjakkan kaki di rumah ini sangatlah berat. Rumah dari keluarga suaminya yang penuh kenangan bersama. Radea dituntun oleh Senjana dan Riana memasuki rumah perlahan. Dia masih harus menggunakan kursi roda untuk sementara waktu karena janin yang dia kandung masih terlalu lemah. Janin itu masih sangat muda dan sulit untuk Dokter saat itu mendeteksinya. Semua baru diketahui saat dirinya masuk ke rumah sakit dan di periksa di sana. Radea bersyukur percobaan bunuh dirinya tidak berhasil. Jika itu terjadi, maka dia akan membunuh anaknya sendiri. Membunuh sebagian diri dari suaminya yang berada di dalam kandungannya.

"Kamu perlu sesuatu lagi, Ra?" Tanya Senjana saat sudah sampai di dalam kamar iparnya.

Radea masih terdiam melihat ke sekelilingnya. Kamar milik Yudhistira, suaminya yang sudah pergi untuk selamanya. Foto-foto mereka masih berada disana. Tidak ada yang berubah. Meja kerja Yudhis juga masih berada di ruangan itu. Bahkan dia masih bisa mencium aroma dari parfum suaminya sendiri disini.

"Kamu--- mau pindah kamar, sayang?" Kini giliran Riana yang bertanya pada menantunya.

"Gak perlu. Makasih, Ma." Ujar Radea lirih.

Selepas mendengar jawaban dari Radea, kedua wanita itu keluar dari kamar meninggalkan Radea dalam kesunyian yang menyesakkan. Wanita itu berdiri dari kursi rodanya menuju ke jendela yang terbuka. Sinar mentari langsung menyentuh kulitnya saat dia berdiri di dekat sana. Perlahan Radea menarik gorden sampai sinar itu tidak terlihat lagi. Kamarnya sekarang menjadi temaram.

Dia kembali berjalan menuju ke arah lemari tempat pakaian-pakaian suaminya di gantung. Terdapat jas serta kemeja yang ada di sana. Radea menyentuh salah satu kemeja putih yang biasa dipakai oleh Yudhis untuk berangkat kerja. Dia mengambilnya, membawanya menuju ke ranjang. Radea duduk di tepi kasur memandang ke arah kemeja yang ada di pangkuannya. Wangi Yudhis masih bisa dia rasakan di pakaian itu. Bagaimana bisa suaminya pergi secepat ini? Bagaimana bisa?

"Aku mengerti. Aku mengerti bagaimana rasanya menjadi Ibumu waktu itu, Yudhistira. Aku mengerti." Gumam Radea dengan mata berkaca-kaca.

"Apa ini cara kamu membalasku karena menghina Ibumu? Apa ini cara kamu membuatku sadar kalau ini sama sekali gak mudah untuknya? Apa aku benar?"

Tidak ada jawaban. Tidak akan ada yang menjawab semua pertanyaannya itu. Tidak ada lagi pelukan yang akan menaunginya saat dia menangis. Semua sudah menghilang, tidak akan ada yang tersisa lagi. Kini tinggal dia sendiri, bersama dengan calon anak yang ada di dalam perutnya.

"Aku gak akan pernah menjadi seperti Ibumu, Yudhistira. Aku gak akan memperlakukan anakku seperti dia. Anakku gak akan mendapatkan nasib yang sama denganmu walau dia sama-sama kehilangan Ayahnya sejak kecil, bahkan sejak dalam kandungan. Anakku--- dia gak akan menjadi sepertimu. Gak akan."

Radea menggelengkan kepala, membuat air matanya jatuh. Dia memeluk kemeja putih itu dengan isak tangis tertahan. Belum ada satu minggu dan dia sudah merindukan suaminya. Bagaimana dia akan menjalani hari-hari kedepannya nanti?

©©©

Sebulan sudah kepergian Yudhis, tetapi tidak ada perubahan dari Radea. Wanita itu menjalankan hari-harinya seperti tidak memiliki gairah hidup. Semua kegiatannya dilakukan layaknya robot. Dia tidak lagi dekat dengan keluarga dari suaminya itu. Dia sering menghabiskan waktunya sendiri. Menenangkan pikiran yang terkadang masih terus mengenang suaminya tanpa henti.

Perfect Obsession [TERBIT] (JUPITER SERIES #1) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang