PERFECT OBSESSION 23 || HULK YANG TERSEMBUNYI

31.6K 2.1K 135
                                        

"Lihatlah aku! Tersembunyi dalam kabut hitam yang membuatku tidak terlihat."

-Yudhistira Sabhara-

©©©

Yudhis baru saja keluar dari kamarnya pagi ini dengan pakaian yang sudah rapi. Dia lupa memberitahu para Radi untuk mengembalikan semua perabotan seperti semula. Dia hanya mampu menghela nafasnya melewati ruang tengahnya menuju ke tempat makan.

Pikirnya saat sampai disana, akan ada gadis cerewet yang semalam marah-marah padanya. Namun ternyata pelayannya Puri yang ada di dapur tengah memasak. Hari ini Yudhis berangkat ke kantornya agak siangan karena dia sekalian ingin menghadiri rapat. Yudhis duduk di salah satu kursi dengan makanan yang sudah matang. Puri membungkuk memberi salam padanya.

"Radea belum bangun?" Tanya Yudhis.

"Ibu masih di kamar, Pak. Saya sudah mengetuk pintu tetapi tidak dibukakan."

"Ini sudah jam 8 lewat, bisa tolong bangunkan dia lagi."

"Baik, Pak."

Puri bergegas meninggalkan dapur lalu menuju ke arah kamar Radea. Giliran di meja makan, Yudhis memijat keningnya mengingat perkataannya semalam. Dia benar-benar brengsek. Tidak salah jika Radea marah padanya. Dia yang membuat Radea seperti ini tapi dia yang marah. Benar-benar bajingan. Selang sepuluh menit kemudian, Puri kembali ke ruang makan dengan membungkuk.

"Maaf, Pak. Masih belum ada jawaban."

Yudhis menghela nafasnya, "biar saya saja. Terima kasih."

"Sama-sama, Pak."

Yudhis beranjak dari duduknya ke kamar Radea. Dia mengetuk pintu kamar berkali-kali namun tetap tidak ada yang menjawab. Sampai akhirnya dia berusaha membuka pintu kamar gadis itu namun hasilnya pintu itu terkunci. Alhasil, Yudhis terpaksa mengetuk pintu lagi dan kali ini jauh lebih keras dari sebelumnya.

"Radea, buka pintunya!"

Tidak ada jawaban.

"Buka pintunya sekarang atau pengobatan Papa kamu selesai sampai disini!" Ancam Yudhis.

Dan ancaman itu langsung berhasil. Pintu kamar terbuka menampakkan Radea yang masih mengenakan piyama tidur serta mata yang sembab. Gadis ini pasti menangis semalaman sampai matanya bisa sebengkak itu. Tidak bicara apapun, Radea justru berbalik dan kembali ke atas kasurnya lalu mengubur dirinya di dalam selimut. Melihat itu, Yudhis masuk ke kamar Radea dan duduk di pinggir ranjang. Posisi Radea saat ini membelakangi dirinya.

"Ayo sarapan!"

"..."

"Ini udah lewat waktu sarapan, Radea. Bangun sekarang!"

"..."

"Tetap tidak mau bangun? Baik, kalau begitu pengobatan Papa--"

"BERHENTI BAWA-BAWA NAMA PAPA!!" Teriak Radea dari dalam selimut.

Yudhis menahan senyumnya saat ini melihat tingkah Radea yang masih bocah. "Kalau begitu bangun dan sarapan!"

"Gak mau. Gue ini kan orang asing anggap aja begitu. Gak perlu di kasih makan. Lagian gue siapa? Cuma orang asing."

Helaan nafas kembali keluar, Yudhis mencoba menarik selimut yang menutupi Radea hingga kepala, namun gadis itu masih menahannya dengan kuat. Dia tahu pasti akan begini jadinya. Gadis yang dia hadapi sangat keras kepala. Jika Yudhis tidak memaksa untuk sarapan, bisa saja Radea tidak mau makan sampai malam. Gengsinya terlalu besar sama seperti dirinya. Kalau bisa dibilang, sebenarnya mereka sama sekali tidak cocok. Sama-sama keras kepala, egois, dan mempunyai gengsi setinggi langit.

Perfect Obsession [TERBIT] (JUPITER SERIES #1) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang