PERFECT OBSESSION 15 || SEKILAS MEMORI

37.2K 2K 50
                                        

"Mencintaimu bukan hal sulit, memilikimu yang sulit."

- Yudhistira Sabhara -

©©©

Radea benar-benar bosan sekali. Sudah seminggu ini dia terus diam saja di rumah selama liburan. Orang-orang juga pergi bekerja dan tinggal hanya dia seorang di rumah. Tadi dia juga sudah bertelepon dengan Ayah dan Ibunya. Mereka berkata bahwa jika tidak ada halangan dan Ayahnya sudah cukup sehat, bulan depan mereka akan pulang lebih cepat. Saat mendengarnya, tentu saja Radea sangat senang. Bukankah itu artinya Ayahnya memiliki peluang untuk sembuh?



"Huaa bosen banget gue!!" teriak Radea.

Saat kepalanya tengah menengadah, beberapa pelayan terlihat berlarian kecil mendekat ke arahnya. Mereka menunduk dengan takut-takut membuat Radea justru menjadi bingung melihatnya.

"Maaf, Nona. Ada yang bisa kami bantu?"

"Hah? Enggak, gak ada kok. Tadi cuma lagi ngulet aja hehe..." jawab Radea canggung.

"Oh, ya sudah Non, nanti kalau butuh sesuatu, panggil saja saya atau pelayan lain."

"Oh iya oke kalau gitu."

Radea meringis setelah mengatakan hal itu. Sebenarnya siapa yang membuat para pelayan itu menjadi berubah sangat memperhatikan dirinya? Sebelumnya memang pelayan memperhatikan dirinya tapi tidak berlebihan juga seperti ini. Dia jadi merasa seperti Elang yang selalu dikelilingi oleh beberapa pelayan disekitarnya.

"Daripada disini mending gue pergi ke kantor Kak Yudhis." gumam Radea terkekeh.

Dengan langkah tergesa dia masuk ke dalam kamarnya mengambil jaket miliknya. Radea keluar rumah dengan siulan yang keluar dari mulutnya. Dia menuju garasi namun tidak menemukan Joko supir yang biasanya selalu mengantar jemput Radea sekolah. Radea mengendikkan bahunya lalu dia melihat kunci yang menggelantung di dekat pintu masuk rumah di garasi. Dia mengambil kunci itu lalu matanya melihat motor matic berwarna hitam terparkir juga disana. Motor yang biasa dipakai para pembantu untuk pergi berbelanja.

Radea memilah-milah kunci di gantungan lalu mencocokannya pada motor hutam itu. Setelah tiga kali percobaan, akhirnya dia menemukan kunci yang cocok. Gadis itu tersenyum setelah berhasil menyalakan motornya. Setelahnya Radea naik ke atas motor dan mulai menjalankannya perlahan. Dia jadi bertanya-tanya, bagaimana jika Yudhis tahu kalau dirinya ke Kantor menggunakan motor sendiri? Memikirkannya membuat Radea terkekeh sendiri.

©©©

Tidak seperti hari pertama waktu dia datang ke kantor Yudhis dengan mudahnya. Kali ini Radea harus berhadapan dengan receptionist yang melihatnya saja sudah sangat sinis sekali. Belum lagi saat dia mengatakan kalau ingin bertemu dengan Yudhistira, wajahnya seakan berubah menjadi macan betina yang siap melahirkan. Sangat menyeramkan.

"Buat apa kamu bertemu Pak Yudhis? Memangnya kamu sudah membuat janji dengan beliau?"

"Saya..."

"Hah! Tidak perlu mendengar jawabannya saya sudah tau. Mana mungkin bocah kecil seperti kamu mengenal Pak Yudhis." potong wanita bertubuh sintal itu dengan sinisnya.

"Mba, saya itu..."

"Mba? Memangnya kamu pikir saya Kakak kamu apa?"

"Hadeh! Yaudah deh tante, jadi gini..."

Perfect Obsession [TERBIT] (JUPITER SERIES #1) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang