PERFECT OBSESSION 18 || MELARIKAN DIRI

31K 1.9K 60
                                        

"Sepintar apapun otakmu nyatanya cinta akan selalu bisa membuatmu tampak bodoh."

- Note -

©©©

Tidak ada yang bisa melawan seseorang dengan tingkat kekeraskepalaan seperti Yudhistira Sabhara. Luka tembak yang ada pada bahu sebelah kanannya sudah terpasang perban setelah sebelumnya satu peluru di ambil dan bekas lukanya telah dijahit oleh Ucup, sang dokter bedah. Beberapa kali rahang Yudhis mengeras menahan rasa sakit dari luka itu, namun tidak ada suara rintihan sedikitpun. Hanya raut wajahnya yang menegang saat Ucup mencoba mengeluarkan peluru itu dan juga saat dia menjahit lukanya.

Perlahan namun pasti, Ucup menempelkan perban untuk menutup lukanya. Dia kemudian meletakan alat-alat sederhana yang tadi dia pakai untuk mengambil peluru dari bahu sahabatnya ke atas nampan di meja nakas samping kasur. Lelaki itu menatap kesal Yudhis yang bersender pada kepala ranjang sambil menutup matanya mendongak ke langit-langit.

"Lo harus ke rumah sakit!" Ujar Ucup tanpa mau dibantah.

"Luka gue udah diobati, ngapain harus ke rumah sakit?" Jawab Yudhis lirih.

"Yud!! Luka lo cukup parah!! Paham gak gue ngomong?! Lo ditembak dari jarak dekat dan peluru itu tembus cukup dalam ke bahu lo!! Kalau lo gak ngelakuin X-ray maka gue gak tau harus gimana buat ngobatin lo. Bisa aja bahu lo mengalami cidera fatal kalau peluru tadi sampai ke tulang bahu lo!" Kesal Ucup membentak Yudhis.

"Yud, sekali ini aja dengerin Ucup. Dia bener, lo harus ke rumah sakit." Ujar Antariksa.

"Gue cuma butuh istirahat beberapa hari."

"Oh shit! Cidera bahu itu bahaya, Yud!! Apalagi bahu kanan lo yang kena. Lo gak akan bisa pake tangan kanan lo kayak dulu lagi. Kekuatan yang harus lo keluarin gak akan sebesar sebelumnya. Lo harus ikut terapi buat menyembuhkan bahu lo!"

"Kalau gue emang butuh terapi, maka lo bisa ngebantu gue di rumah. Gak ada rumah sakit!"

"Yud, gue emang dokter tapi seorang dokter tanpa alat-alat canggih medisnya semua juga percuma."

"Gue bakal beliin alat-alat itu, lo gak usah khawatir."

"Cih! Sekalian aja lo buka rumah sakit biar kalau lo kena tembak kayak gini lagi gak perlu bingung berobat kemana!" Sindir Ucup.

"Ide bagus! Harusnya dari dulu gue kepikiran buka RS biar gak susah kalau ada keluarga yang sakit. Kenapa gue gak kepikiran dari dulu?" Ujar Antariksa yang masih berada berdiri di sebelah ranjang.

"Padahal gue niatnya nyindir. Holang kaya emang beda." Gumam Ucup lalu mendengus.

"Ada kabar dari Bian?" Tanya Yudhis pada Antariksa.

Lelaki yang merasa di panggil itu menatap Yudhis lalu melihat ponselnya. "Belum ada."

"Ck! Ngikutin bocah aja dia gak becus! Harus gue sendiri yang jemput dia." Ujar Yudhis hendak bangkit.

"Mau kemana lo, hah? Lo mau luka Lo tambah parah lagi? Atau Lo mau tangan lo diamputasi sekalian?! Kesel gue!"

"Dia sendirian. Gue harus samperin dia, Cup."

"Emosinya lagi gak stabil, Yud. Dia masih marah dan belum bisa menerima penjelasan apapun. Biarin dia tenang dulu, gue yakin anak buah Atar pasti jagain Radea."

"Tapi.."

"Kalau lo masih belum percaya biar gue sendiri yang jemput Radea. Lo disini aja istirahat." Saut Antariksa.

Perfect Obsession [TERBIT] (JUPITER SERIES #1) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang