PERFECT OBSESSION 6 || GOSIP MURAHAN

45.1K 2.7K 50
                                        

"Ketika orang yang kita percaya menyebarkan hal buruk tentang kita. Oh oke, biarkan Tuhan yang membalasnya."

- Radea P.G. -

©©©

Alarm jam berbunyi sangat nyaring untuk ketiga kalinya dan membuat gadis yang tengah bergelung di dalam selimut menggeliat terganggu. Tangannya terangkat menutupi telinganya namun tetap saja suara itu tidak hilang. Dengan kesal dia mengambil jam di meja sebelah tempat tidur lalu mengambil batu baterai secara paksa dari dalam jam. Setelah itu dia tersenyum senang dan kembali berbaring menenggelamkan dirinya di dalam selimut.

Sementara Yudhis, pria yang sejak tadi menonton kelakuan gadis remaja itu mematikan alarm sampai mencabut baterai jam hanya bisa melongo. Dia sengaja menyalakan alarm sampai tiga kali tapi cara terakhir gadis itu mematikan alarm benar-benar membuatnya kehilangan kata-kata. Saat ini dia memang berada di kamar Radea, bukannya tidak sopan memasuki kamar gadis, tetapi Mamanya, Riana meminta dirinya membangunkan Radea untuk bersiap sekolah. Biasanya pukul 6 pagi, gadis itu sudah siap dengan seragam dan turun untuk   sarapan di meja makan. Tetapi sudah pukul 6 lewat lima belas menit, gadis itu belum juga bangun. Sedangkan Riana masih sibuk karena harus pergi ke kantor pengacara miliknya hari ini.

"Dasar kebo! Rara bangun! Kamu gak sekolah hah?!" ujar Yudhis terpaksa membangunkannya dengan cara manual.

"Hmm gak! Sekolahnya roboh jadi muridnya diliburin." gumam Radea tidak jelas.

"Gini nih kalo kerjaannya ngehalu tiap hari. Bangun Ra! Udah jam enam lewat lima belas ini."

Radea membuka matanya dan melihat sosok Yudhis berdiri di samping ranjang dengan kedua tangan ditekuk di masing-masing pinggul. Radea terdiam sejenak sambil meyakinkan diri bahwa di hadapannya benar-benar seorang Yudhistira Sabhara.

"Ngapain malah bengong begitu?!" kesal Yudhis.

"Kenapa Om bisa disini? Gak sopan tau masuk-masuk kamar anak perawan." ujar Radea memindahkan posisinya bersender di kepala ranjang.

"Kayak kamu masih perawan aja." ejek Yudhis.

"Iya juga sih." jawab Radea terkekeh.

"APA? JADI KAMU BENERAN UDAH GAK PERAWAN?!" bentak Yudhis terkejut.

Melihat ekspresi Yudhis yang seperti kebakaran jenggot, Radea tertawa. Bahkan sekarang wajah Radea yang tadinya memang sudah merah menjadi tambah memerah.

"Segitu gak relanya gue udah gak perawan, Om? Takut keduluan yah start-nya? Haha...."

"Bercandaan kamu gak lucu, Ra! Hal kayak begini gak bisa dijadiin lelucon. Nama baik Papa dan Mama kamu yang dipertaruhkan." ujar Yudhis serius.

"Iya maaf, gak maksud gitu." ujar Radea lirih.

"Udah jam setengah tujuh, kamu bangun buruan mandi." ujar Yudhis berjalan menuju pintu kamar.

"Kalo... Gue gak masuk sekolah hari ini, boleh Om?"

"Gak boleh! Jangan keseringan bolos! Tambah hancur nanti nilai kamu." tambah Yudhis berbalik lagi menghadap Radea.

"Kayak Om dulu gak pernah bolos aja!" gerutu Radea.

Yudhis sudah mau membuka mulutnya bicara, namun benar juga kata Radea. Dulu dia juga sering bolos kalau ada urusan bersama anak-anak Jupiter.

Perfect Obsession [TERBIT] (JUPITER SERIES #1) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang