PERFECT OBSESSION 30 || MENCINTAI TANPA BATAS

33.9K 2.2K 214
                                        

"Cinta butuh pengorbanan, maka biar aku saja yang berkorban."

- Yudhistira Sabhara -

©©©

Selesai dari pemakaman, semua orang kumpul di rumah kediaman keluarga Gunawan. Anggota keluarga dari Anin dan Sastro datang dari Semarang maupun Bali. Mereka terkejut sama seperti Radea sewaktu pertama kali mendengar kabar kematian keduanya. Tidak menyangka kalau nasib keluarga mereka bisa sampai setragis itu mengalami kecelakaan.

Setelah selesai melakukan doa, Radea langsung masuk ke dalam kamarnya. Tamu yang lain akan menginap beberapa hari di rumah ini, begitu juga Yudhis dan Radea. Sementara Rivaldi dan yang lainnya kembali ke kediaman keluarga Sabhara.

Radea duduk termenung di atas kasur menatap figura yang terletak di nakas samping tempat tidur. Foto keluarga disaat kedua orang tuanya masih hidup. Wanita itu masih merasa bahwa semua ini hanyalah mimpi. Rasanya terlalu cepat dan sangat mengejutkan. Beberapa hari sebelum menerima kabar ini, dia bahkan masih berteleponan dengan Mamanya. Wanita paruh baya itu berkata kalau mereka baik-baik saja dan sehat. Tetapi dua hari kemudian, dia malah mendapat berita seperti ini.

Satu elusan lembut hadir di kepalanya, membuatnya sadar dari lamunannya. Yudhis berdiri di hadapan Radea. Dia kemudian berlutut di hadapan wanita itu dan mendongak menatap wajah sendu istrinya. Yudhis menyentuh tangan Radea dan membawanya untuk dikecup.

"Istirahat, sayang." Ujar Yudhis lembut.

"Aku belum ngantuk."

"Aku tau kamu sedih, tapi jangan berlarut-larut. Orang tua kamu pasti sedih liat kamu begini."

"Aku mau tanya. Gimana caranya kamu bisa menghilangkan kesedihan saat ditinggal pergi orang yang paling kamu sayang?" Tanya Radea pelan.

"Maksud kamu ibuku?"

Radea mengangguk.

"Aku bertemu kamu. Saat aku melihat mata kamu yang cerah, dunia aku seakan terbentuk lagi. Di dekat kamu, aku bisa merasa nyaman. Aku merasakan kebahagiaan yang jarang aku dapatkan. Karena itu, aku ingin memiliki kamu seumur hidupku. Kamu cuma milikku, Ra. Gak ada yang boleh menyentuhmu selain aku."

"Tapi kemudian tanpa sadar, aku sudah menyakiti kamu. Mengekang kamu saat itu. Aku melarang kamu berdekatan dengan anak lelaki seumurmu. Aku membuat kamu gak punya banyak teman, sehingga kebiasaan itu terbawa sampai kamu remaja. Aku tau kamu gak punya banyak teman di sekolah, bahkan bisa dibilang gak punya. Kamu susah bersosialisasi, dan itu karena aku. Maaf, Ra. Tapi itu satu-satunya caraku terbebas dari rasa sakit yang menimpaku saat itu. Aku melupakan bagaimana sedihnya melihat ibuku meninggal, dan itu cuma bisa dilakukan sama kamu. You are my medicine."

"Papa pernah cerita, dia menyuruh kamu pergi jauhin aku."

"Hm. Waktu aku bilang ke mereka kalau aku mencintaimu dan ingin menikah denganmu setelah kamu lulus SMP. Saat itu aku baru tau tentang rencana Papa menyekolahkanku di Oxford, sedangkan aku gak mau pisah sama kamu. Aku pikir kalau aku kuliah di Jogja masih bisa bertemu kamu beberapa kali dalam seminggu, tapi kalau di luar negeri maka itu akan sulit. Jadi aku berpikir bagaimana agar aku bisa bersama kamu terus, sampai ide menikahimu muncul dikepalaku. Sebenarnya saat itu aku ingin menikahimu diumurmu yang ke 8 tahun, tetapi aku menggantinya menjadi lulus SMP."

"Kamu mau menikahi anak yang baru lulus SMP?" Tanya Radea tersenyum kecil sedikit terhibur mendengar cerita Yudhis.

"Apa boleh buat? Aku gak bisa tanpa kamu, Ra. Memikirkan aku harus menunggu beberapa tahun kamu lulus SMP saja saat itu aku merasa bisa gila. Aku gak akan bertemu kamu selama itu dan aku gak bisa membayangkannya saat itu."

Perfect Obsession [TERBIT] (JUPITER SERIES #1) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang