PERFECT OBSESSION 7 || A SECRET OF HIS LIFE

46.1K 2.7K 72
                                        

"Melupakan kebahagian karena sebuah keharusan adalah hal yang paling menyakitkan."

- Yudhistira Sabhara -

©©©

Mobil putih dengan kecepatan sangat tinggi memasuki halaman rumah sakit. Suara rintihan kesakitan dari Radea seakan membuat Yudhis menjadi semakin gila. Dia turun dari mobil menuju kursi penumpang dimana Radea berada. Lelaki membuka pintu mobil dan menggendong gadis itu berlari memasuki UGD.

Beberapa perawat membantu membawakan brankar untuk meletakan Radea. Setelah meletakan gadis yang sering menggodanya itu, Yudhis menatap sejenak wajah pucat Radea. Nafas Yudhis seperti tersengal tidak beraturan. Wajahnya penuh kekalutan luar biasa. Seumur hidupnya ini yang paling tidak ingin dia lihat lagi. Melihat orang dalam hidupnya merasakan kesakitan. Seperti Ibu kandungnya terdahulu.

"Maaf Pak, kami memerlukan data pasien dan urusan administrasi." ujar perawat pada Yudhis.

"Hah? Oh iya." jawab Yudhis seperti kehilangan fokusnya.

Dia melihat brankar Radea yang sudah dibawa oleh perawat dan dokter disana ke dalam satu ruangan. Yudhis memberikan keterangan pada perawat yang memintanya tadi lalu setelah memberikan semua keterangannya, dia bergegas menuju ke tempat Radea. Dokter disana yang melihat Yudhis datang segera menghampiri lelaki itu.

Pandangan mata Yudhis masih belum lepas pada Radea yang sekarang sudah terpasang infus serta masker oksigen. Melihat hal itu rasanya mata Yudhis mendadak panas.

"Bapak keluarga dari pasien itu?" tanya dokter.

"Iya, saya keluarganya." jawab Yudhis.

"Pasien ini terkena usus buntu, Pak. Dan sepertinya itu sudah sangat parah, melihat bagaimana reaksi pasien terhadap rasa sakit dari perutnya."

"Jadi dia harus di operasi?"

"Benar. Kami harus mengoperasi pasien."

Yudhis berkacak pinggang dengan tangan kiri lalu memutar tubuhnya ke belakang. Dia menghela nafasnya, terasa sangat sulit saat dikeluarkan. Seperti tengah menanggung beban sangat berat.

"Oke, siapkan jadwal untuk melakukan operasinya. Siapkam ruang VIP untuk rawat inapnya." ujar Yudhis kembali menghadap sang Dokter.

"Saya akan menjadwalkan operasinya, bagian administrasi yang akan mengurus mengenai ruang inap pasien."

Yudhistira hanya mengangguk menjawab perkataan Dokter itu. Para perawat mulai mendatangi dia memintanya kembali tentang urusan administrasi dan lain sebagainya. Dia tidak akan ambil pusing soal biaya, yang terpenting Radea bisa sembuh.

©©©

Ruangan berbau antiseptik obat-obatan menjadi tempat Radea sekarang tengah terlelap. Yudhis duduk di salah satu sofa yang tersedia disana. Wajahnya menunduk menghadap lantai. Dia baru saja memberi kabar pada Rivaldi mengenai keadaan Radea sekitar sepuluh menit yang lalu karena terlalu kalut sejak tadi. Mungkin sekarang keluarganya sedang menuju ke Rumah Sakit.

"Om?"

Panggilan lirih itu membuat Yudhis mendongak. Dia melihat Radea sudah bangun dan sedang menatapnya. Yudhis bangun dari duduknya lalu melangkah menuju ranjang gadis itu. Dia menatap keseluruhan wajah Radea yang masih pucat dengan khawatir. Dia takut jika gadis itu masih merasakan kesakitan.

"Kenapa? Ada perlu sesuatu? Atau perut kamu masih sakit?" tanya Yudhis berondong.

Radea tersenyum kecil, "enggak. Sekarang jam berapa?"

Perfect Obsession [TERBIT] (JUPITER SERIES #1) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang