*
Satu minggu sebelum UKK,memang seperti tradisi SMAN Dewantara untuk melaksanakan class meeting. Biasanya classmetting akan diadakan perwakilan pertingkatan. Classmetting tahun ini osis akan mengadakan basket putra dan basket putri,yang akan menang bisa mendapatkan hadiah berupa jajan-jajan warung. Ngirit ini mah.
Ronde pertama dimainkan oleh basket putra perwakilan kelas 10 melawan kelas 11,dalam waktu lima belas menit. Dan ronde kedua dimainkan basket Putri perwakilan kelas 10 melawan kelas 11.
Banyak sekali pujian dan semangat yang dilontarkan untuk pemain. Cacian yang juga dilontarkan jika bola masuk dari lawan. Ya begitulah permainan.
"Al,Lo yang main kann?"tanya Devi disamping Alya
"Enggak,bukannya anak basket ya yang main."jawab Alya.
"Ohh, gituuu"
Dari kejauhan tampak tim basket putri kelas 11 yang memakai baju merah perpaduan warna biru. Tim basket kelas 11 akan di pimpin oleh Tania,teman sekelas Alya.
Permainan dimulai,bola mulai di pantul kan dan di lempar ke teman, dipantulkan lagi dilempar lagi,dan dimasukkan ke dalam ring. Dan,satu poin untuk tim kelas 11. Di seberang sana juga ada pasukan cheerleader yang memandu sorak-sorak untuk menyemangati pemain. Di ekskul cheer pada tahun ini dipimpin oleh Rindi.
Untuk babak ketiga yaitu,basket putra perwakilan kelas 11 dan kelas 12. Ini juga merupakan final dari basket putra. Pasukan cheerleader tambah lagi bersorak dengan heboh. Perpaduan yang indah antara suara, gerakan,dan semangat yang tinggi.
"Yeyyyyyy!"
"ALVANNN!"
"Alvan...."
"ALVANNN!"
Riuhan teriakan penonton heboh saat melihat Alvan yang sengaja melepas bajunya dan menampakkan perutnya yang kotak-kotak. Keringat membasahi badannya membuatnya lebih tampan dan cool.
"Yeyyyy!
"Menangggg!".
Final basket putra dimenangkan oleh kelas 11. Alvan yang sering memasukkan bola,langsung saja digendong oleh temannya dan di lempar ke atas begitu saja,seperti aksi cheer. Banyak perempuan yang memberikan minum atau handuk padanya,tapi reaksi Alvan hanya diam dan tak perduli.
"Ish,caper banget sih"ucap sengit Alya memandang Alvan
"Iya,caper sampe Lo cemburu"goda Sindi,Alya uang mendengar segera memasang muka dinginnya dan segera pergi dari lapangan.
Tujuan Alya kesini pertama hanya untuk melihat Alvan main,hanya itu. Dia sudah selesai,buat apa Alya masih di lapangan. Pikirnya.
Alya berhenti di kamar mandi samping tangga menuju lantai dua. Dia menutup pintu dan segera cuci muka,jujur saja hari ini dia sangat mengantuk karena bergadang menyelesaikan membaca novel barunya.
Saat dia akan keluar,tiba-tiba pintu kamar mandi terkunci. Panik dan khawatir. Dia segera meminta tolong dan mencoba membuka pintu. Beruntung dia membawa hp saat ini. Dia segera menghubungi Sindi, sahabatnya.
"Sin... Sindi?"
"Eh,Lo kenapa. Kok nangis sih?"
"Kenapa Al?"
"Guee..guee kekunci di kamar mandi."
"Hah? Kamar mandi mana?".
"Kamar mandi..."
Tut...
Nasib memang,hpnya lowbat. Alya segera membanting hpnya dengan tangisnya yang makin menjadi. Lampu kamar mandi tiba-tiba dimatikan.
"Aaaaa.."
"Mama,tolongin Alya..."
"Abang....."
Teriakan Alya tak jelas sambil mengedorkan pintu. Sebenarnya Alya tak takut jika tak ada lampu,tapi sekarang posisinya beda,dia di kamar mandi. Sudah kamar mandi dikenal angker,dia terkunci,dan lampu mati. Lengkap sudah.
"Tolongg!!! Tolongg!!"
"Tolong!!! Bukain guee!"
Seseorang di luar yang melihat ketakutan Alya tersenyum senang dan menambahkan sebuah plang bertulis
Toilet rusak,silahkan ke toilet lain!
Seseorang itu segera pergi dan kembali ke lapangan.
Sahabat Alya berusaha mencari di semua toilet depan. Toilet dekat kantin, toilet belakang,dan toilet belakang tangga. Semua toilet sudah dicari dan tak menemukan Alya. Mereka sangat khawatir dan bingung harus lapor pada siapa.
"Kita bilang sama Bu Eva aja lah"usul Sindi.
"Jangan! Nanti Bu Eva panik terus pingsan gimana.."jawab Reyna.
Devina hanya mengeluarkan tangisnya. Mereka bertiga sedang berada di belakang taman sekolah.
"Seandainya Alvan masih sama Alya." Ucap Sindi menerawang masa lalu Alya dan Alvan.
"Udah deh. Ayo kita cari lagi..!"ajak Reyna frustasi dan pergi dari taman belakang.
"Aku gak kuat lagi."batin Alya di dalam kamar mandi. Alya terduduk di sandaran dinding,matanya melemah,dan akhirnya pingsan ke arah kanan.
*
"Kok muka mereka kaya habis nangis ya,terus Alya kemana"ucap Revan pelan saat tak sengaja melihat sahabat Alya kelelahan dan membeli minum.
Alvan yang mendengar kata Alya,langsung menoleh mendapatkan sahabatnya saja. Kemana gadis itu. Batinnya.
"Van,Alya mana yaa"ucap Revan berusaha memancing Alvan.
"Kenapa tanya gue sih! Gue bukan bapaknya."jawab Alvan kesal.
"Iya Lo bukan Bapaknya,tapi calon bapak dari anak-anaknya."goda Dion yang ikut gabung bersama Alvan dan Revan.
Hahahaha.. tawa Revan dan Dion pecah,sedangkan Alvan hanya berusaha menahan tawanya saja.
"Tanyain yuk!"ajak Dion dan segera berdiri mengikuti sahabat Alya.
"Kalian kenapa?"tanya Dion setelah sampai di hadapan mereka.
"Alya ilang"jawab cepat Devina.
"Ha? Jangan bercanda deh"ucap Dion dengan sedikit kekehannya.
"Gue gak bercanda Dion!"bentak tak sadar Devina. Dion yang kaget langsung tersadar dan mulai khawatir.
"Ilang kemana?"
"Dia tadi bilang ke kamar mandi,tapi kita cari ke semua kamar mandi gak ada. Kita bahkan sempat cari ke kamar mandi laki-laki"jelas Reyna pada Dion.
Dion langsung saja pergi dari hadapan mereka dan memberi tau Revan dan Alvan.
"Alya ilang!"
Degg
Semulanya Alvan yang hanya bermain hp menoleh langsung ke arah Dion.
"Jangan bercanda!"ucap Alvan dingin.
"Gue gak bercanda Van. Sahabatnya yang bilang.."
"Ilang kemana?" Tanya Revan.
"Katanya ke kamar mandi,tapi..."belum sempat Dion menjawab penuh,Alvan langsung berlari mencari Alvan.
Sungguh hatinya sangat khawatir dan cemas atas keadaan gadisnya. Eh,mantan maksudnya. Dia segera mencari di toilet terdekat tapi tak ada. Saat akan naik tangga,dia melihat toilet dengan plang tulisan toilet rusak.
Alya cerdas mana mungkin dia bermain disitu,tapi kenapa hati kecilnya mengatakan gadis itu disana. Dengan sedikit kesal dia berjalan ke arah toilet itu dan mengetok pintu cepat.
"Van,buang-buang waktu aja. Itu toilet rusak,gak mungkin Alya disana!"nasihat Dion pada Alya.
Alvan hanya diam dan mengetok pintu lebih cepat dan kasar lagi.
"Dia gak ada disitu"ucap Devi pelan yang baru saja sampai disana.
"Iya,kita tadi udah ngecek Van"jelas Sindi kembali.
"Revan,Dion bantu gue dobrak toilet ini!"ucap dingin Alvan. Mau tak mau Revan dan Dion ikut mendobrak dengan sekuat tenaga.
Brak!
"ALYAAAAA!!!!"
"ALYA!"
"Alyana.." batin Alvan langsung mengendong Alya untuk keluar dari toilet.
*Vote dan komen!
KAMU SEDANG MEMBACA
Ketos dan Waketos (END-REVISI)
Teen FictionPROSES REVISI - END Saling mencintai saja tidak cukup, namun di butuhkan pengorbanan untuk mempertahankan sebuah hubungan. Di balik kisah ini, terdapat pelajaran berharga untuk masa depan. Salam dari Alya dan Alvan. Pasangan penuh cinta.
