Orang-orang mengatakan, dunia memiliki banyak sisi.
Maka inilah sisi gelap dunia yang belum banyak diketahui. Tentang kekuasaan, tentang hak, tentang kekejian, tentang tarik ulur pengkhianatan yang tidak pernah lepas dari jengkal hidup dan pararel.
...
Sesekali perubahan itu ada, Mereka tidak mengenal waktu, Mereka menelisik secara sembunyi, Dan mengubah cerita biasa menjadi cerita yang tidak diinginkan.
.
tw: be careful. mentioned heavy content including blood, damnedwords, and may some scenes that disgust you.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagar hitam kumuh dan berkarat di hadapan tampak menjulang hening, memberitahu siapa saja yang melintas jika area ini bukanlah tempat untuk bermain-main. Guna sebenarnya adalah sebagai pelindung fasad sebuah bangunan yang lama sekali tidak digunakan, memenjarakan sepi dan gelap menakutkan di balik pilar-pilarnya.
Atau mungkin digunakan, sesekali, meski tidak seteratur dahulu di mana banyak gelimang nyawa yang dihabiskan di sini. Menyisakan aroma darah tanpa belas kasih, meninggalkan bekas keji pada setiap entitas yang berakhir tragis atas nama kekuasaan.
Jika seorang penguasa tidak suka, garis finalnya hanyalah satu; mati.
Para penguasa tidak akan pernah segan mengincar siapa saja yang tidak mereka sukai, menemukan incarannya pun mudah, yang dibutuhkan cukup sebatas niat dan akses luas untuk mempersempit lorong-lorong pelarian sampai tak ada lagi celah bagi mereka untuk melarikan diri dari penyiksaan berujung kematian.
Banyak orang-orang yang lebih memilih untuk bersembunyi, bagaimanapun caranya agar tidak ditemukan. Namun keputusan serupa tidak pernah menjadi pilihan terakhir untuk bertahan hidup bagi Wonpil. Jika masalah itu memang miliknya, maka ia juga akan menyelesaikannya dengan atau tanpa tangan sendiri.
Persis seperti saat ini, di mana langkah Wonpil terbuka tegas lebar-lebar tanpa ada ketakutan atau keraguan yang bisa menghentikan sorot mata tajam itu menelisik setiap celah, atau saat rungunya yang sensitif itu mulai menangkap sayup-sayup suara berfrekuensi rendah di balik bongkahan dinding dan puing rongsokan di sisi lain gerbang masuk. Pun masih dengan keberanian yang sama, juga tanpa membuang waktu, Wonpil menghitung satu sampai lima sebelum akhirnya mengarahkan ujung mengilap revolver dan segera menembak mati dua orang bersenjata laras panjang yang diam-diam mengintai di balik bongkahan tersebut dalam waktu kurang dari lima detik.
Kim Wonpil selalu punya strategi kecil untuk menembak mati seseorang dengan mudah, baginya, cukup hantam bagian yang menurutnya fatal menggunakan proyektil panas itu, dan bagian yang paling digemari Wonpil sejak dulu tidak pernah berubah, setiap orang yang menjadi korbannya akan lebih dulu mendapat tembakan pertama di area leher dan yang kedua di area dada. Karena, kedua area itu adalah tempat terbaik untuk menyarangkan sebuah proyektil, tentu itu juga menurut Wonpil sendiri.