Kasus

1.2K 112 15
                                        


**********Happy Reading***********

Typo everywhere
Fanfic abal-abal

Up!!!!!
















"Makanya nona mendapat latihan sangat keras, jika dulu nona sering berlatih di kediaman mungkin ini_"

"Baiklah baiklah aku mengerti, kau bisa menghentikan ocehanmu".

Jungkook mengembungkan pipinya kesal, Ji Yu hanya tertawa kecil melihat tingkah nona nya itu.

"Tapi nona, sekarang mungkin kita bisa melatih kekuatan itu", sahut Ji Yu mengembalikan perhatian Jungkook padanya.

"Aku akan bersiap!" Ujar Jungkook terdengar penuh semangat.

.
.
.
.
.









Pagi yang cerah namun tak secerah perasaan Jimin sekarang, sejak kemarin dan kemarin-kemarinnya lagi dia terus merasa khawatir berlebihan. Bagaimana tidak, terhitung hingga saat ini, batas waktu Taehyung hanya tinggal seminggu lagi. Kondisi kota dan sekitarnya juga nampak sangat mencekam, sudah lebih dari 10 kasus kematian yang terjadi kurang dari sebulan dan lagi gejala alam yang menjadi tak menentu akhir-akhir ini. Jika dari penjelasan Seokjin ini terjadi karena energi negatif semakin meningkat dalam artian semua ini adalah ulah dari roh jahat itu. Entah apa yang direncanakannya, tapi yakin itu sangatlah berbahaya.

"Kepalamu nampak akan meledak Jim, apa yang sedang kau pikirkan?"

"Hoseok?!" Sahut Jimin kaget.

"Iya ini aku, ada apa? Kau nampak punya banyak pikiran? Apa ini tentang Yoongi-Hyung?"

"Kau memanggilnya dengan Hyung? Dia tetap dosenmu di kampus loh".

Hoseok hanya mengangkat bahu tak peduli, ia memilih mendudukkan dirinya disamping Jimin yang kembali merenung, menatap lurus kedepan tanpa gairah.

"Kau tak mau memberitahuku? Sejak tadi kau terus melamun".

"Hahh.. Hoseok, apa kau tak merasa aneh akhir-akhir ini?"

"Aneh? Kalau yang kau maksud itu tingkat bunuh diri dan kriminalitas yang belakangan ini meningkat maka ya aku merasakannya".

"Selain itu?"

"Selain itu? Apa maksudmu?"

"Bukankah belakangan udara terasa lebih berat dan lagi cuaca kadang mendadak berubah-rubah".

"Ah! Kau benar, aku juga merasa seperti itu. Lalu memangnya kenapa? Kau tahu sesuatu?"

Jimin tidak menjawab dan lebih memilih menatap langit dari balik jendela. Awan hitam nampak menutupi sinar mentari pagi ini. Raut wajah Jimin terlihat sangat gelisah, ia sangat khawatir dengan nasib dua temannya dibanding nasibnya sendiri.

"Jim, sejak tadi apa yang kau pikirkan sih?"

"Aku... Khawatir dengan mereka berdua", jawab Jimin pelan.

"Hah?"

.
.
.
.
.
.

Hoseok mendengus melihat Jimin yang menyantap makanannya dengan gerakan slow motion. Irene yang berada disampingnya hanya menatap dengan bingung. Akhir-akhir ini semangat Jimin menurun nyaris menyentuh titik nol, dan dia sama sekali tak pernah mau membicarakan masalahnya pada kedua orang itu. Ini dimulai sejak Jungkook memutuskan cuti untuk sementara waktu, berdampak pada semangat Jimin yang ikut bercuti juga.

"Jim, kau sedang sakit perut?" Tanya Irene kemudian menyadarkan Jimin dari lamunannya.

"Hah? Apa? T-tidak, aku hanya tidak nafsu makan", jawab Jimin.

Curiosity//kthXjjkGS [Proses]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang