Suara pt.2

1K 98 3
                                        


~~~~~~~~~~Happy Reading~~~~~~~~~

Typo everywhere

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H😇













Sebuah suara tiba-tiba terdengar memanggil namanya, membawa kembali kesadaran Jungkook yang tadi sempat teringat masa lalu. Ia menoleh kesana kemari mencari sumber suara, tapi karena tidak begitu jelas terdengar Jungkook tidak tahu dari mana asalnya.

"Jungkook..."

Kembali terdengar, kali ini Jungkook bisa dengan jelas mendengar darimana arah datangnya sumber suara itu. Sebuah pintu di dekat tangga adalah jawabannya, Jungkook berjalan mendekati pintu tersebut, sebuah pintu yang jelas Jungkook tahu mengarah kemana, gudang tempat barang-barang Ibunya.


.
.
.






"Nona.. Jungkook tidak sadarkan diri, anda diminta untuk kembali ke kediaman, segera".

Kata Ji Yu terngiang kembali di pikiran Seokjin, tiba-tiba saja saat sedang asik menyiksa--melatih Taehyung, ia diminta segera kembali. Seokjin tak paham, latihan apa yang diberikan Ibunya sehingga Jungkook sampai tak sadarkan diri lebih dari sehari dan kenapa ia baru di beritahu sekarang. Panik, sekarang Seokjin benar-benar panik, ia begitu khawatir setelah melihat pemandangan langit yang kian menggelap. Ia sadar penyebab Jungkook tak sadarkan diri ini mungkin ada kaitannya dengan kondisi energi kegelapan sekarang ini.

"Taehyung, cepat kita harus pergi sekarang".

.
.
.
.
.









#JeonJungkook





Melangkah perlahan, Jungkook mulai membuka pelan pintu gudang tersebut, khawatir jika tiba-tiba yang ia temui di dalam adalah sesuatu yang mengerikan. Untung saja tidak ada sesuatu yang ia takutkan di dalam sana, hanya ada barang-barang lama milik Ibunya. Lalu sekarang, dari mana asal suara itu? Jungkook dengan jelas mendengar arahnya dari dalam sini namun tidak ada siapapun di gudang tersebut.

"Apa aku salah dengar?"

Jungkook memilih untuk kembali keluar dari gudang, namun sialnya pintu gudang tersebut tiba-tiba tertutup dan terkunci. Beberapa detik kemudian gudang yang berisi banyak barang tersebut mendadak kosong, pintu yang ada dihadapan Jungkook perlahan ikut menghilang seperti barang-barang yang ada di ruangan tersebut dan hanya menyisahkan satu lemari besar. Jungkook terkejut menyaksikan semua peristiwa itu, ia berdiri diam tak bergeming dari tempatnya.

"Aku jelas-jelas bermimpi sekarang".

"Jungkook..."

Kembali, suara itu terdengar, mengalihkan perhatian Jungkook langsung pada lemari besar yang menjadi satu-satunya barang yang tersisa. Karena penasaran dan merasa dirinya tengah bermimpi, Jungkook mendekati lemari itu.

Lemari itu lebih tinggi dari tubuh Jungkook dengan dua pintu serta ukiran-ukiran yang menghiasinya, tampak jelas seperti lemari tua antik. Jungkook sedikit ragu untuk membuka pintu lemari, namun dirinya juga penasaran ingin tahu isi lemari tersebut. Tangannya terulur mulai membuka pintu lemari itu secara pelan, meski sedikit memakan waktu Jungkook berhasil membukanya dan ternyata lemari tersebut kosong... tak ada apapun di dalamnya.

"Baiklah.. Ini mulai semakin menyeramkan"

Jungkook hendak menutup lemari tersebut, tetapi tiba-tiba saja dinding di ruangan tersebut mulai merambat pola-pola yang saling terangkai dan hampir memenuhi di setiap sudut ruangan. Semua pola-pola berasal dari belakang lemari yang ada di hadapan Jungkook sekarang. Jungkook menunduk menatap lantai dan kemudian melihat sekelilingnya, ia tampak familiar dengan pola itu, ia seperti pernah melihatnya disuatu tempat, tapi ia lupa.

"Dimana aku pernah melihat ini?"

"Ah.. Benar, ini seperti pola yang waktu itu".

Jungkook yang sibuk dengan pikirannya mulai kembali mendengar suara samar-samar, tidak memanggil namanya lagi kini lebih mirip dengan suara orang yang berbincang dan sepertinya berasal dari belakang lemari tua itu. Jungkook langsung mulai berusaha menyingkirkan lemari tersebut dan melihat apa yang sebenarnya ada di belakangnya.

"I-ini..."

Terkejut, Jungkook tanpa sadar melangkah mundur saat melihat apa yang ada di hadapannya. Persis seperti dugaannya, ia begitu mengenali pola itu, pola yang sama waktu ia berada di ruang penyegelan, pola itu membentuk sebuah pintu yang Jungkook harap tidak mengeluarkan sesuatu yang tidak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.

"Mengingatku, hm?"

Tubuh Jungkook kaku, suara bisikan yang tepat berada disamping telinga kanannya membuat ia tak bisa menggerakan tubuhnya. Suara yang begitu menyeramkan, hingga mampu membuatnya gemetaran. Jungkook bisa merasakan jari-jari panjang milik sosok itu perlahan bergerak menelusuri bahu hingga ke lehernya. Secara otomatis, Jungkook memejamkan mata dan menahan napas saat merasakan tangan dingin itu menyentuh kulit lehernya dan tetap terus bergerak.

"Ini tidak begitu lama dari pertemuan terakhir kita, bukan?"

"Ku harap kali ini kau tidak melupakanku lagi, Putri Jeon?"

Jungkook bergidik ngeri mendengar suara itu, lidahnya kelu dan tubuhnya gemetaran. Sinyal bahaya terus-menerus dirasakan oleh Jungkook, ia ingin melepaskan diri dari intimidasi sosok tersebut, tapi Jungkook takut sangat takut hingga dia tidak tahu harus bagaimana.

"Jadilah anak baik dan ikutlah dengan tenang".

Kaki Jungkook melangkah pelan ke arah pola pintu tersebut seiring dengan langkah sosok di belakangnya, Jungkook tak bisa lagi mengendalikan kakinya seolah tubuhnya di kendalikan. Ia terus dibawa menuju ke sana dan berusaha sekuat tenaga mengambil alih tubuhnya kembali.

"Usaha yang bagus, tapi sudah kukatakan untuk ikut dengan tenang, bukan?"

'Tubuhku.. Ku mohon siapapun.. Tolong aku..'

Jungkook semakin dekat dengan pintu itu, perlawanan untuk mencoba mengembalikan kendali dirinya benar-benar percuma, tapi dirinya tidak akan menyerah. Jungkook kembali berusaha menghentikan langkah kakinya, dengan sekuat tenaga Jungkook mencoba dan akhirnya langkahnya semakin pelan. Usaha Jungkook menghadirkan geraman tak senang dari sosok tersebut, mereka berhenti dengan jarak yang begitu dekat kurang dari tiga langkah lagi.

"Simpan tenagamu Putri, setidaknya untuk tetap hidup".

Sosok itu menyeringai pada usaha Jungkook, ia kembali mengambil langkah dan otomatis kaki Jungkook kembali ikut melangkah dengan sedikit tertahan, namun tak cukup untuk membuatnya berhenti.

"Sebentar lagi... Sebentar lagi... Tubuhmu akan menjadi milikku. Kau akan jadi wadah yang sempurna untuk rohku".

'Tidak.. Aku tidak mau.. Siapapun tolong aku... Ibu...'

Hanya selangkah lagi hingga mereka masuk kedalam pintu tersebut, namun tiba-tiba saja tubuh Jungkook ditarik--direbut lebih tepatnya. Jungkook terkejut dan mencoba melihat siapa yang menariknya sekaligus menolongnya dari sosok menyeramkan itu.

"Berani-beraninya kau!"

Sosok menyeramkan itu menggeram marah saat rencananya dikacaukan, ia menatap nyalang ke arah orang yang mengambil Jungkook. Tubuhnya cukup tinggi dan ramping, jelas sekali ia terlihat seperti seorang wanita dengan jubah dan tudung energi yang menutupinya. Jungkook juga menatap sosok berjubah itu, tapi tatapan Jungkook berbeda, tatapannya penuh keterkejutan.

"Seharusnya aku yang bilang begitu", ucap sosok itu seraya melepas tudungnya.

"Berani-beraninya kau menyentuh putriku".

"Ibu!!"

.
.
.
.
.
.
.
.
.





See you :*





Curiosity//kthXjjkGS [Proses]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang