Bintang terus melihat ponsel nya, banyak berita tentang diri nya. Bintang hanya menghela nafas melihat berita yang berkaitan dengan perusahaan ayah nya. Tidak ada rasa terkejut, karena ini bukan pertama kali nya diri nya jadi trending topic yang berkaitan dengan perusahaan ayah nya.
“Jangan dipikirin, gue akan ngurus semua nya.” Ucap Bulan.
“Kita jalani aja sesuai alur yang di berikan, gue bisa menjalani nya. Jangan khawatir.” Jawab Bintang.
Bulan duduk di tepi ranjang Bintang, Bulan menjulurkan tangan nya untuk mengelus tangan Bintang yang dihiasi infuse.
“Tangan ini masih terlihat kecil, sama kayak dulu. Gue belum siap untuk melepaskan tangan ini. Gue belum siap kalau tangan ini di ambil alih oleh orang lain.” Ucap Bulan.
“Sayang nya gue udah rela melepas tangan besar ini untuk orang lain, tangan yang selalu menggenggam tangan kecil gue. Jadi lo harus rela tangan kecil ini di ambil alih orang lain.” Jawab Bintang.
“Cklekk” Suara pintu ruangan terbuka perlahan menampilkan Karel yang berjalan membawa tiang infuse nya.
“Gue ganggu ya ?” Tanya Karel pelan.
Bulan menoleh dan berdiri, memandang sejenak Karel yang masih berdiri. Bulan tersenyum dan berjalan keluar.
“Gue pamit dulu, sekarang giliran Karel berkunjung.” Ucap Bulan sambil melambaikan tangan nya.
Karel pun perlahan menarik kursi agar bisa duduk di dekat ranjang Bintang, suasana nya benar-benar hening. Karel pun mencoba mengeluarkan suara nya.
“Berita itu---“
“Berita nya benar, gue sama Raka memang menjalin hubungan.” Ucap Bintang memandang jendela di ruangan nya.
“Kali ini Raka lagi yang menang.” Ucap Karel.
Tangan Bintang terus menggenggam kalung pemberian Karel, mata nya terus menatap jendela. Air dari langit perlahan turun, rintik demi rintik berubah menjadi butiran air yang sangat banyak dan percikan nya membasahi jendela. Kedua nya masih hening dan tetap pada tempat nya.
***
Shasa mendekati Bulan yang sedang berada di kantin rumah sakit, Bulan membaringkan kepala nya ke meja kantin. Shasa perlahan mendekati dan ikut membaringkan kepala nya di meja kantin tersebut dan memandang Bulan sambil tersenyum.
“Kamu kenapa ?” Tanya Shasa.
“Sedang berpikir.” Jawab Bulan.
Tangan Bulan mengarahkan ke puncak kepala Shasa dan mengelus nya lembut, Shasa hanya tersenyum dengan perlakuan Bulan.
“Kamu khawatir sama Bintang ?” Tanya Shasa.
Bulan hanya menggangguk dan menghela nafas nya pelan. Shasa bangkit dan duduk tegap. Lalu mengeluarkan kotak bekal. Mata Bulan berbinar dengan sandwich yang pasti buatan Shasa.
“Aku sudah siapin ini buat kamu, kamu pasti banyak pikiran kan ?” Tanya Shasa lagi.
Bulan langsung memeluk Shasa dengan erat, lalu melepaskan pelukkan nya dan melahap sandwich buatan Shasa. Lalu kunyahan Bulan berhenti, mata nya fokus kepada tangan Shasa yang terluka. Bulan langsung menaruh sandwich nya ke dalam kotak bekal dan menarik pelan tangan Shasa.
“Kenapa ? Siapa yang buat kamu luka ?” Tanya Bulan.
“Biasa, pasien aku nggak mau di suntik. Jadi aku di gigit, nggak apa-apa kok.” Jawab Shasa.
“Kamu betah banget sih di rumah sakit jiwa, nggak apa-apa kamu di sana terus ?” Tanya Bulan.
“Aku kan psikiater, masa nggak betah sih. Lagian luka kayak gini nggak apa-apa kok, aku malah pernah parah dari ini kan ? Jadi jangan khawatir, kamu sudah cukup cemas dengan keadaan Bintang. Jangan stress, kalau stress kamu malah jadi pasien aku.” Jawab Shasa.
“Kalau nggak ingat mereka gangguan jiwa semua, udah aku hajar kali ya yang bikin kamu luka.” Uap Bulan.
“Si ampas gombal terus !!” Teriak Daren.
“Sendiri aja lo ?” Tanya Bulan.
“Menurut anda ? Saya bawa gandengan tidak ?” Tanya Daren.
“Lupa, kan jomblo ya.” Jawab Bulan.
Daren menghela nafas kasar dan menarik kursi di samping Bulan, Shasa dan Bulan langsung menatap Daren yang sedang duduk.
“Raka pasti stress banget.” Ucap Daren.
“Bintang dan Karel pasti juga stress.” Jawab Bulan.
“Raka sama sekali nggak ada kabar ya pas semua media memberitakan hubungan nya.” Ucap Shasa.
“Raka takut di hajar Bulan mungkin.” Celetuk Daren.
“Gue nggak sejahat itu kali.” Ucap Bulan.
“Lo jahat banget woy.” Jawab Daren.
“Nggak asik ya berantem cuma berdua.” Ucap Bulan.
Daren hanya mengangguk dan bersandar di kursi nya sambil mengambil sandwich buatan Shasa. Mereka bertiga menunduk lesu memikirkan masalah yang dialami sahabat mereka.
[To Be Continue]
KAMU SEDANG MEMBACA
BINTANG & BULAN [COMPLETE]
Teen Fiction"Bintang tidak selalu terang, Bintang juga bisa redup." -Bintang Putri Angkasa- "Bulan tidak selalu lingkaran sempurna, Bulan juga tidak semulus yang terlihat." -Bulan Putra Angkasa- ©2018 Cover by Pinterest + Edit by Storychic
![BINTANG & BULAN [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/137260461-64-k111250.jpg)