"CHAPTER 25 : IMPIAN BULAN"

105 11 0
                                        

Bulan masih terdiam menatap figura kecil yang berisi foto masa kecil nya bersama sahabat nya, foto yang selalu di sembunyikan nya di laci sekarang sudah berada di atas meja belajar nya. Bulan memandang foto sahabat kesayangan nya, sekarang semua sahabat nya sudah memiliki impian mereka masing-masing. Tidak seperti Bulan yang masih tidak mau menjadi apa, yang ada di pikiran nya hanya kebahagian Bintang. Bulan seperti mengidap sister complex, tetapi dia normal. Hanya saja karena janji nya untuk terus membuat Bintang bahagia berputar-putar di pikiran nya.

"Cklek..."

Bulan langsung menoleh ke arah pintu kamar nya, terdapat sesosok Bintang masuk ke dalam kamar nya. Bintang mendekat dan duduk di ranjang Bulan.

"Kenapa murung ?" Tanya Bintang.

"Nggak kok, gue nggak murung." Jawab Bulan.

"Iri sama Daren yang sudah menemukan apa tujuan hidup nya ?" Tanya Bintang.

"Yahhh...Ketahuan." Ucap Bulan sambil menghela nafas.

"Lo harus cari tahu hobi lo, kesukaan lo, apa yang menjadi kebahagian lo saat melakukan. Ayah nggak pernah maksa lo buat jadi penerus perusahaan nya kan ?" Tanya Bintang.

"Sejak lo kecelakaan, gue nggak pernah punya impian lain selain membuat lo bahagia." Jawab Bulan.

"Gue udah bahagia seperti yang lo lihat, jadi impian lo sudah tercapai. Sekarang lo harus bikin impian baru lagi, membuat lembaran baru untuk mengisi impian lo yang baru." Ucap Bintang.

"Awal nya gue nggak yakin, tapi setelah mendengar ucapan lo. Gue akan mencoba." Ucap Bulan.

Bulan langsung memeluk Bintang dengan erat, Bintang yang hafal dengan tingkah laku Bulan hanya menggelengkan kepala nya pelan. Bulan memang tidak semulus yang terlihat, Bulan memang laki-laki normal. Tapi sifat mellow nya ini yang jarang diketahui orang. Bulan selalu memperlihatkan sifat manja nya ke Bintang bukan karena ingin perhatian dari Bintang, tetapi Bulan memang menujukan bahwa sebenarnya dia adalah seorang adik dari Bintang.

***

Sekarang Bulan duduk di ruang keluarga rumah nya dengan wajah yang berbinar-binar, Bulan menunjukan laptop nya kepada Bintang, Raka, Shasa, dan Daren.

"Yakin lo ?" Tanya Raka.

"Nggak kesambet kan lo ?" Tanya Daren.

"Lo sudah bilang ayah nggak ?" Tanya Bintang.

"Bulan pasti bisa kok." Ucap Shasa.

Bintang, Raka, dan Daren langsung memandang Shasa dengan tatapan bingung. Shasa hanya menatap mereka bertiga dengan senyuman manis. Mereka bertiga langsung mengalihkan pandangan nya.

"Kenapa ? Kan bagus Bulan sudah menemukan impian nya ?" Tanya Shasa.

"Karel setuju aja sama keputusan gue, Karel sampai menyakinkan ayah pas gue memutuskan untuk memilih ini. Dan akhir nya ayah juga yakin." Ucap Bulan dengan sangat bangga.

Dengan kompak Bintang, Raka, dan Daren menggaruk kepala mereka padahal tidak gatal.

"Kata nya mau mendukung impian gue." Ucap Bulan.

"Tapi ka---" Ucap Bintang.

"Lo kan takut jarum suntik ampas !!!" Sambar Raka dan Daren.

"Kalau dia sampai lulus jadi dokter, gue nggak mau berobat sama Bulan." Ucap Raka.

"Siapa juga yang mau punya pasien kayak lo." Ledek Bulan.

"Lo lupa ya waktu SD lo sampai naik pohon karena ada penyuntikan di sekolah ? Lo jerit-jerit kayak kesurupan." Ucap Daren.

"Itu kan dulu, sekarang kan gue pemberani." Celetuk Bulan.

"Lo lupa pas ada donor darah di SMA, lo kabur." Ucap Bintang.

"Bulan pasti bisa kok, kita harus dukung impian Bulan." Ucap Shasa.

"Baik banget sih Sha, gimana nggak cinta coba. Nanti kalau aku jadi dokter, aku bakalan merawat kamu dengan senang hati." Ucap Bulan.

"Hehe, nggak usah repot-repot Lan." Ucap Shasa dengan ragu.

"Shasa mendukung lo bukan karena mau di rawat lo, dia juga takut kali kalau lo jerit-jerit megang jarum suntik." Ledek Daren.

"Sudah kan rapat nya ? Gue harus kerja banting tulang mencari nafkah dulu." Ucap Raka.

Raka bangkit dari duduk nya dan melambaikan tangan meninggalkan teman-teman nya.

[To Be Continue]

BINTANG & BULAN [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang