Sekarang Bulan dan Bintang sudah ada di rumah nya, pagi-pagi sekali mereka pulang dari villa. Sedangkan Daren, Karel, dan Shasa sudah pulang duluan saat malam kemarin. Jadi Bulan hari ini tidak sekolah.
“Bintang ?” Tanya Bulan.
Tanpa menjawab, Bintang menoleh ke arah Bulan.
“Gue melihat seseorang yang bicara sama lo di kebun teh, itu siapa ?” Tanya Bulan.
“Karyawan ayah.” Jawab Bintang.
“Sejak kapan lo suka interaksi sama karyawan-karyawan ayah ?” Tanya Bulan.
“Dia yang ngajak gue ngomong, masa gue diam aja.” Jawab Bintang.
“Gue memiliki firasat…” Ucap Bulan.
Bintang langsung berbalik dan menuju ke kamar nya. Meninggalkan Bulan yang masih kelihatan berfikir.
“Bintang ??? Lo nggak menyembunyikan sesuatu dari gue kan ?” Teriak Bulan.
Bintang menghentikan langkah nya di tangga dan mencengkram kuat pegangan tangga tersebut. Bintang menoleh dan tersenyum memandang Bulan.
“Semua baik-baik aja kok, lo nggak usah khawatir.” Jawab Bintang.
Bulang mengangguk pelan sambil tersenyum memandang Bintang, Bintang pun benar-benar menjauh dari pandangan Bulan.
“Senyuman lo itu yang bikin gue tambah khawatir.” Batin Bulan.
***
Daren memandang Karel dan Raka secara bergantian dan menghela nafas kasar. Karel hanya duduk dan membaca buku pelajaran dengan serius. Sedangkan Raka hanya bermain game di ponsel nya, Raka mulai masuk sekolah hari ini. Daren hanya memandang kedua sahabat nya yang berdiam diri, Daren mengacak rambut nya kasar.
“BRAKK”
Daren mengebrak meja kantin tersebut dan mulai mengomel-omel.
“Lo berdua kenapa sih ? Punya mulut kan ? Ngomong sedikit aja bisa nggak sih ? Raka !!! Lo biasa kayak angsa main nyosor aja, kenapa jadi diam main game hah ? Karel !!! Lo yang biasa nya--- Ya kayak gini sih biasa nya lo, tapi kan. Ngomong apa kek gitu, sumpah suasana nya kayak gue baru masuk TK tau nggak ? Dan juga, ngapain bawa buku pelajaran ke kantin woy !!!” Omel Daren.
“Gue cuma bingung mau ngomong apa, kita sudah lama nggak ketemu. Jadi gue juga canggung.” Jelas Raka.
“Jijik sumpah, lo kesambet apaan Ka ? Biasa nya juga ngomong nggak ada rem nya, cerita apa kek gitu.” Ucap Daren.
“Besok aja cerita nya, tunggu Bulan masuk sekolah.” Ucap Karel pelan.
“Wah, Karel mengerikan. Lo kesambet apaan juga sih Rel ? Lo mau Raka sama Bulan berantem, hah ?” Tanya Daren.
“Nggak bakalan berantem, Bulan kan sayang sama Bintang. Bulan bakalan memainkan peran kembaran yang baik dan sahabat yang baik.” Ucap Raka memandang Daren.
“Selama kita sahabatan, lo bertiga emang super duper aneh bin ajaib. Kenapa dedek Daren bisa punya teman model begini ??? Sedih dedek Daren tuh.” Ucap Daren.
“Masih gue pantau kok.” Ucap Raka.
“PLAKK”
Buku yang di pegang Karel mendarat tepat di kepala Daren, Daren memandang kesal kearah Karel.
“Udah gue sleding pakai buku, jadi nggak perlu lo sleding lagi.” Ucap Karel.
“Karel kok jadi lucu gini ?” Tanya Daren.
KAMU SEDANG MEMBACA
BINTANG & BULAN [COMPLETE]
Teen Fiction"Bintang tidak selalu terang, Bintang juga bisa redup." -Bintang Putri Angkasa- "Bulan tidak selalu lingkaran sempurna, Bulan juga tidak semulus yang terlihat." -Bulan Putra Angkasa- ©2018 Cover by Pinterest + Edit by Storychic
![BINTANG & BULAN [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/137260461-64-k111250.jpg)