Bulan berlari ke arah lapangan basket komplek, disana sudah menunggu Karel yang duduk di lapangan basket tersebut.
"Malam-malam kenapa minta ketemuan disini ? Besok kan bisa ketemu, kita semua bakalan mendampingi lo sampai Bandara." Ucap Bulan.
"Gue mau bilang sesuatu." Ucap Karel.
"Apa ?" Tanya Bulan.
"Saat gue pulang ke Indonesia, gue minta restu lo." Ucap Karel.
"Kok minta restu sama gue, minta restu sama ayah nya Shas---Aaaa !!! Lo... Lo...Lo naksir Bintang ? Lo putus sama Shasa." Tanya Bulan.
"Gue nggak pernah pacaran sama Shasa." Jawab Karel.
"Otak gue nggak paham, lo ngomong apaan sih ? Jelas-jelas lo pacaran dari kelas 1 SMA kan ? Pas SMP lo juga sudah dekat kan sama dia ?" Tanya Bulan.
" Kenapa gue harus pacaran sama keluarga gue ?" Tanya Karel.
"Sejak kapan lo jadi keluargaan sama Shasa ?" Tanya Bulan.
"Shasa anak tante gue, tapi anak angkat." Jawab Karel.
"Tapi kan nggak sedarah sama lo, jadi mungkin aja lo pacaran sama dia." Ucap Bulan.
"Gue pura-pura pacaran sama Shasa, supaya gue bisa jagain Shasa lebih dekat. Lo tahu kan masalah Shasa yang sering di pukulin ayah nya ? Nah gara-gara itu gue selalu belain Shasa, Shasa sudah terlalu menyedihkan di rumah nya, jadi gue nggak mau dia di ganggu saat di lingkungan lain nya. Jadi gue putuskan untuk jadi pacar bohongan nya. Lagipula, Shasa suka sama orang lain." Jelas Karel.
"Suka sama siapa ?" Tanya Bulan dengan wajah yang berbinar.
"Lo suka banget ya sama Shasa ?" Tanya Karel.
Bulan mengangguk-angguk seperti anak anjing dan untuk pertama kali nya Karel tertawa lepas melihat ekspresi Bulan saaat ini.
"Ah... Pantas gue familiar sama kalung Bintang, orang yang lo suka itu Bintang ya ternyata. Kalung itu kan pemberian bunda, gue kira lo bakalan beri kalung itu buat nembak Shasa. Jadi orang yang lo suka dari kecil itu Bintang ? Kok gue nggak peka ya, gue kira selama ini lo nyimpan kalung itu buat orang yang bakalan jadi pacar pertama lo. Ternyataaaa !!!" Teriak Bulan.
"Gue juga tenang buat tinggalin Shasa sekarang, ayah Shasa sudah di rehabilitasi. Dan sekarang lo bakalan jagain Shasa tanpa gue suruh pun." Ucap Karel.
"Seharusnya lo bilang lo cuma jadi pacar bohongan Shasa,kan gue bisa usaha. Lo nggak tahu sih gue naksir Shasa dari kelas 1 SMP. Sumpah jahat banget sih lo." Gerutu Bulan.
Karel hanya terkekeh melihat tingkah Bulan, sebenarnya Karel sudah tahu Bulan suka dengan Shasa dari dulu. Tapi keadaan memaksa mereka harus menjalani kehidupan seperti ini, jika Karel jujur. Mungkin Bulan dan Shasa sudah menjadi sepasang kekasih, tapi jika Karel jujur. Karel belum tentu bisa menjadi kekasih Bintang. Karena Karel sadar, Bintang masih menyukai cinta pertama nya.
***
Daren mengeratkan pelukan nya kepada Karel dan menangis sampai semua mata yang ada di Bandara memandang tingkal laku Daren. Raka dan Bulan hanya menggelengkan kepala mereka melihat kelakuan Daren.
"Nggak sekalian peluk ayah gue juga ? Ayah gue kan berangkat nemanin Karel siap-siap buat kuliah disana." Ucap Bulan.
"Om Langit !!!" Teriak Daren yang langsung menuju ke arah Langit.
Bintang menghadang Daren dan mendorong wajah Daren dengan tangan nya, Daren langsung terdorong menjauh dari Langit. Langit hanya tertawa melihat tingkah laku mereka.
"Gue yang anak nya aja nggak nangis-nangis kayak lo, kalau lo kayak gini nggak ada yang naksir lo nanti nya. Mau lo jomblo seumur hidup." Celetuk Bintang.
"Sumpah kasar." Ucap Daren.
"Ren lo masih mau pelukan sama Karel nggak ? Gue udah di telepon nih, gue ada pemotretan." Gerutu Raka.
"Ayah masuk duluan ya, kalian peluk-pelukan aja dulu." Ucap Langit.
Bulan dan Bintang langsung memeluk Langit dengan erat, Langit terkekeh pelan. Terasa baru kemarin Bulan dan Bintang dilahirkan, tapi sekarang sudah sebesar ini. Bulan juga lebih tinggi dari Langit.
"Jangan lama-lama di sana, ingat sesekali skype kita ya." Ucap Bulan.
"Ingat kalau masih punya anak di Indonesia ya." Ucap Bintang.
"Ingat jagain nenek Karel ya." Ucap Langit.
"Nggak usah di suruh, udah dari dulu kali." Jawab Bintang.
Bulan dan Bintang melepas pelukan nya dan membiarkan Langit masuk ke dalam pesawat nya, Bintang langsung duduk di kursi tunggu, Karel memeluk Shasa dan mengelus puncak kepala nya. Bintang hanya melihat mereka saling berpamitan, Raka memeluk erat Karel dan mencium pipi Karel. Karel terkejut dengan tingkah laku Raka.
"Dadah Karel !! Gue harus pergi sekarang, tante Zora sudah ada di depan. Raka sayang Karel !!!" Teriak Raka sambil berlari keluar bandara.
Daren dan Bulan hanya terkekeh melihat kelakuan Raka, Daren sudah sangat puas memeluk Karel dari mobil tadi. Sekarang Karel memeluk Bulan erat dan melepaskan nya, Bintang hanya melambaikan tangan nya dan tersenyum. Karel pun berjalan menjauhi mereka, tetapi Karel berbalik dan berjalan ke arah Bintang. Bintang mendongak kan kepala nya menatap Karel yang ada di depan nya.
Karel berjongkok dan memegang kepala Bintang lalu mengecup kening Bintang singkat, mata Bintang melebar karena terkejut. Daren dan Bulan langsung melongo melihat pemandangan yang ada di depan nya, sedangkan Shasa mengulas senyum nya. Karel pun berdiri dan memegang bahu Bintang.
"Sampai jumpa lagi." Ucap Karel.
[To Be Continue]
KAMU SEDANG MEMBACA
BINTANG & BULAN [COMPLETE]
Fiksi Remaja"Bintang tidak selalu terang, Bintang juga bisa redup." -Bintang Putri Angkasa- "Bulan tidak selalu lingkaran sempurna, Bulan juga tidak semulus yang terlihat." -Bulan Putra Angkasa- ©2018 Cover by Pinterest + Edit by Storychic
![BINTANG & BULAN [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/137260461-64-k111250.jpg)