Tidak terasa sudah memasuki hari Jum'at dimana di kediaman Satria mengadakan acara Yasinan. Raina masih berkutat didapur membantu Bundanya. Setelah sholat jum'at barulah acara akan dimulai. Raina yang masih sibuk menyiapkan segalanya dibantu dengan sahabatnya Sopia.
"Rain ini ditaruh dimana?" Tanya Sopia dengan membawa kue buatan Raina.
"Didepan nanti untuk para tamu Sop." Jawabnya
"Ini beneran lo yang bikin Rain?" Tanya Sopia, karna setahu dia Raina tak tau memasak, jangankan masak kue bikin telur ceplok aja suka hangus.
"Ya elah pake nggak percaya lagi kamu ah! Itu beneran aku yang bikin Sop masa gitu aja nggak percaya sih." Ujar Raina kesal karna sahabatnya tak mempercayainya.
"Sejak kapan lo pintar masak? Setahu gue ni ya lo itu paling nggak suka masak deh Rain, entah apa yang merasukimu sampai lo bisa masak kayak gini haha!" Tawa Sopia mengejek Raina, ya bisa dibilang sangat langkalah kalau Raina diam-diam bisa masak juga.
"Apaan sih kamu ejek aja aku terus!" Dengan tangan bersedekap didada.
"Lah ngambek?"
"B aja."
"Utu..uttuu.. ngambek mulu sih mbaknya entar cepat tua loh." Bujuk Sopia.
"Kamu sih nyebelin!" Masih dengan wajah cemberutnya.
"Iyaa gue percaya sama lo kalau lo bisa masak, btw Rain kenapa lo jadi bisa masak gini? Jangan-jangan lo mau nikah ya makanya belajar masak?" Tanya Sopia penuh selidik.
Raina terkesiap dengan pertanyaan sahabatnya itu.
"A..apaan sih Sop, ya kali mau nikah. Nikah sama siapa coba? Ya enggaklah jangan ngaco ah!" Jawab Raina dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Ya walaupun sebenarnya Raina belajar memasak karna itu, kalian ingatkan waktu itu Bundanya nyuruh Raina buat belajar masak karna pas lulus SMA nanti Raina bakal dijodohin sama orang pilihan Ayahnya. Dan Raina gak bisa ngelak, dia mau aja tuh dijodohin sama pria misterius. Menurutnya pilihan kedua orang tuanya pasti baik.
Mereka berdua malah asik ngobrol tanpa tahu Bunda sudah ada didapur memperhatikan dua gadis cantik itu. Mereka yang sadar karna ada pasang mata yang memperhatikan langsung terdiam.
"Kalian ini bukannya bersihin dapur malah ngerumpi aja." Kata Bundanya gemas.
"Hehee... maaf tante, abis Raina duluan sih tan ngajakin aku ngobrol. Padahal udah aku bilangin entar aja ngobrolnya kalau udah selesai, ehh Raina bilang 'nggak papa Sop selama Bunda belum masuk dapur kita ngobrol aja' gitu tante." Jawab Sopia cengengesan dengan wajah tak merasa bersalah.
Demi apa Sopia menuduh Raina begitu? Sungguh tak manusiawi sekali, Raina melongo dibuatnya. Tega sekali sahabatnya itu memfitnah dirinya padahal jelas-jelas yang ngajak ngobrol duluankan si Sopia eh malah Raina yang dituduh😁
"Sabar Rain sabar, untung sahabat aku kalau enggak udah aku lempar tuh dia kekerumunan cowok ganteng dan tajir!" Bisik Raina yang bisa didengar Bunda dan Sopia.
"What!? Lempar kekerumunan cowok ganteng dan tajir? Gue mau Rain mau banget! Ayok lempar adek bang lempar!" Teriak Sopia histeris kegirangan.
Sepertinya kali ini Raina salah bicara, Bunda hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua gadis yang berbeda usia dengannya itu.
"Sudah-sudah, dari pada kalian gaje begini mending bawa ini keruang tengah sana!" Sambil menyodorkan gelas-gelas kaca pada mereka.
"Asiapp tante! Ayok Raina gaje kita bantu Bunda lo, jangan asik maen aja!" Ujar Sopia menginterupsi Raina, haduh siapa yang bikin onar sih sebenarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pilihan Terakhir
EspiritualPertemuan tidak disengaja itu membuat kedua insan itu saling mencintai dalam diam. Raina gadis polos bertemu dengan polisi muda tampan yang bernama Fauzan, lelaki sopan dan tentunya sangat sholeh. Tanpa mereka sadari benih-benih cinta mulai tumbuh...
