Setelah acara resepsi itu mereka langsung tepar dikamar, sangat melelahkan sekali. Raina bahkan tak menyangka bahwa ia sekarang sudah mempunyai suami. Ia melirik Fauzan sekilas dengan senyum yang mengembang, yang dilirik tidak tahu bahwa istrinya sedang memperhatikannya.
Sampai pada akhirnya Fauzan juga melirik Raina yang sudah menjadi istrinya. Fauzan tertegun melihat Raina sangat cantik, Fauzan berusaha melawan detak jantungnya yang sedari tadi berdisko didalam. Ia menghampiri Raina dengan senyuman yang selalu melekat di wajahnya.
"Raina." Panggilnya lembut.
Yang dipanggil pun menoleh dengan malu-malu.
"Iya." Hanya sepatah kata yang bisa ia keluarkan.
Fauzan menggaruk kepalanya, ia benar-benar gugup. Mengapa ia begini.
"Kamu gak mandi?" Tanyanya dengan senyum kikuk, Fauzan sangar grogi sepertinya.
"Iya, nunggu kamu." Ujar Raina masih menunduk.
"Kamu mau mandi bareng saya?" Fauzan tak sadar dengan ucapannya barusan, ia benar-benar merutuki dirinya sendiri.
Raina terkesiap kaget, bagaimana ini pikirnya.
"Ee.. aku mandi duluan." Langsung ngacir ke kamar mandi.
"Astaga Fauzan! Kamu ngomong apaan sih, Raina pasti mikir yang enggak-enggak sekarang." Batin Fauzan memberontak.
Mandi bareng juga nggak papa kok Fauzan, kan udah sah juga uhuyy...
Dikamar mandi Raina benar-benar gugup, bagaimana tidak gugup. Fauzan suaminya mengajak dirinya mandi bersama, tentu saja Raina malu. Sekamar dengan Fauzan saja sudah membuatnya bergetar tak karuan, apa lagi sampai mandi bareng bisa mati berdiri Raina.
Raina langsung bergegas mandi, karena suaminya pasti ingin mandi juga. Selesai Raina mandi ia kaget ternyata ia belum membawa baju ganti, ini semua gara-gara Raina malu dan takut karena suaminya Fauzan. Raina merutuki dirinya dalam hati, bisa-bisanya sampai kelupaan begitu.
"Haduh malah lupa bawa baju ganti lagi, terus Raina gimana dong, nggak mungkinkan aku keluar dengan keadaan begini." Gumamnya dalam hati, apa yang harus ia lakukan pikirnya.
Sudah hampir 30 menit Raina didalam kamar mandi, ia masih bingung harus melakukan apa. Fauzan yang gemas dengan Raina yang sangat lama, ia langsung saja mengetuk pintu kamar mandi, berusaha memanggil Raina dari luar.
Tok...tokk!
"Raina kamu udah selesai?" Tanya Fauzan sedikit berteriak.
Raina yang kaget pun langsung berdiri dari duduknya, Fauzan sudah menunggunya sedari tadi. Raina sangat berdebar, apa yang harus ia lakukan.
Karena merasa tak ada jawaban dari dalam, Fauzan berusaha memanggil Raina lagi.
"Rain, kamu belum selesai ya?" Tanyanya lagi.
"Be..belum." Ya, hanya itu. Hanya satu kata itu yang bisa Raina ucapkan. Begitu bodohnya Raina, seharusnya ia berkata jujur saja pada Fauzan. Mau berapa lama lagi gadis itu didalam.
Fauzan yang mendengar jawaban dari Raina, ia akhirnya menjauh dari sana. Tapi belum selangkah ia berjalan, suara Raina membuatnya berhenti.
"To..tolong aku." Lirihnya.
Fauzan yang kaget pun mendengar Istrinya minta tolong, ia langsung menghampiri tempat ia berdiri tadi. Depan kamar mandi, ada apa dengan Raina.
"Raina, kamu kenapa? Ada apa? Kamu baik-baik aja kan?" Pertanyaan beruntun Fauzan membuat yang didalam tesenyum penuh haru, siapa lagi kalau bukan Raina.
Ia senang ternyata Fauzan mengkhawatirkan dirinya, buktinya Fauzan begitu takut ia kenapa-napa. Bukannya menjawab Fauzan, Raina malah diam saja, dan itu berhasil membuat Fauzan kelimpungan karna merasa khawatir pada istrinya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pilihan Terakhir
SpiritualPertemuan tidak disengaja itu membuat kedua insan itu saling mencintai dalam diam. Raina gadis polos bertemu dengan polisi muda tampan yang bernama Fauzan, lelaki sopan dan tentunya sangat sholeh. Tanpa mereka sadari benih-benih cinta mulai tumbuh...
