38. Ada apa dengan Raina?

223 12 2
                                        

Biasakan vote sebelum membaca.
Happy reading!

Sudah dua hari Raina selalu mual-mual, dan itu berhasil membuat Fauzan khawatir. Raina saat ini sedang diurus Fauzan karena dari subuh ia sering mual dan pusing, padahal hari ini niatnya Fauzan akan membawa Raina jalan-jalan.

Tapi melihat kondisi istrinya tidak memungkinkan untuk diajak kemana-mana. Fauzan otomatis membatalkan niat tersebut, Raina harus banyak beristirahat hari ini.

"Masih mual sayang?" Tanya Fauzan sembari mengelus perut Raina.

Raina menggeleng lemah, sungguh membuka suara saja rasanya susah sekali.

"Kita kerumah sakit aja ya?" Ujar Fauzan, tak mungkin ia membiarkan istrinya kesakitan seperti ini.

"Enggak mas, Raina gapapa kok." Lirihnya.

"Kamu lemes banget sayang, kita kerumah sakit ya, mas ga mau liat kamu begini." Bujuk Fauzan dengan lembut.

Raina hanya menggeleng lagi dan lagi. Jika dipaksa pasti Raina akan menangis, akhir-akhir ini istrinya itu jadi sedikit sensitive.

"Yaudah, sekarang kamu istirahat aja ya," Fauzan membantu membaringkan Raina sekaligus menyelimutinya.

"Mas disini aja temenin Raina, jangan kemana-mana." Ujarnya sambil memejamkan mata.

Fauzan mengelus rambut Raina dengan sayang.
"Iya mas disini aja kok temenin kamu."

Tak berselang lama Raina sudah tertidur, Fauzan menatap wanita yang ia cintai itu terlelap dengan damainya. Fauzan mencium kening Raina lama menyalurkan perasaannya.

Fauzan juga ikut berbaring disampaing Raina, berusaha untuk tertidur juga.

***

Saat ini Raina sedang memasak untuk makan malam, Fauzan sedang keluar sebentar membeli durian untuk Raina. Fauzan bingung, istrinya itu sangat tidak suka buah durian, lalu sekarang Raina meminta suaminya untuk pergi membelikan durian.

Sedari bangun tidur tadi sang istri merengek mau durian, Fauzan sendiri sangat heran melihat tingkah istrinya itu, jika tidak dituruti maka Raina akan ngambek dan mendiaminya. Ia tak mau sampai itu terjadi, jadilah sekarang Fauzan keluar mencarikan Raina buah durian.

"Assalamualaikum." Ucap Fauzan, baru datang.

"Walaikumsalam!" Teriak Raina dari arah dapur.

Raina tergopoh-gopoh berlari tidak sabaran, ia langsung menghampiri sang suami yang sedang membawa dua buah durian ditangannya.

"Waaahhhh...durian runtuh!" Pekik Raina senang.

Raina langsung merebut buah durian dari Fauzan, sepertinya ia tidak sabar sekali untuk melahapnya.

"Sayang pelan-pelan, itu durinya tajam." Ujar Fauzan lembut, sembari merangkul Raina untuk kedapur.

"Kenapa mas cuma beli dua, kenapa ga sekalian empat aja sih!" Ujar Raina yang menatap durian dengan binar.

"Itu juga udah cukup kok sayang, kamu belum tentu suka juga." Balas Fauzan, istrinya itu aneh-aneh saja.

"Iiiihhhh... Raina suka tau mas. Sekarang durian makanan favorit aku!" Jawabnya.

Fauzan hanya geleng-geleng kepala, ia mengambil pisau untuk membelah durian itu.

"Sini mas belah duriannya, kamu duduk dulu sayang." Ujar Fauzan dan menuntun Raina.

"Buruan ya mas, Raina udah ga sabar!" Pekiknya kesenangan.

Fauzan dengan telaten membelah buahnya, bau harum durian langsung menyeruak ke hidung Raina, membuat ia semakin tidak sabar.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 08, 2022 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Pilihan TerakhirCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang