15. Perasaan aneh

1.1K 61 4
                                        

Setelah pulang sekolah Raina langsung kerumahnya, tidak seperti kemarin mampir kecafe dulu. Kali ini Raina langsung pulang saja.

"Assalamualaikum, Raina pulang!" Raina langsung mendudukkan pantatnya kesofa empuk miliknya.

Tak ada tanda-tanda orang rumah menyahut salamnya.
"Bunda mana ya? Kok gak ada jawaban sih." Tanyanya dalam hati.

Tak berapa lama kemudian munculah Bunda tercinta Raina dari balik gorden. Buset ngapain pula bunda ini sembunyi dibalik gorden ada-ada aja sih. Herman deh saya.

"Walaikumsalam sayang." Bundanya langsung keluar dengan cengiran ala kuda pony.

"MasyaAllah bunda ngapain sembunyi dibalik gorden gitu?" Tanya Raina tak habis pikir dengan bundanya.

"Hehe.. bunda gak sembunyi kok Rain, bunda cuma ngumpet ajah." Dengan wajah tak bersalah, bundanya langsung ngacir pergi kedapur.

Raina melongo dibuatnya.
"Astagfirullah bunda kesambet apa coba? Sembunyi sama ngumpetkan gak ada bedanya, itu sama aja!" Raina hanya bisa elus dada menghadapi bundanya yang super itu. Gak disekolah, dirumah sama saja, Raina dikelilingi orang-orang yang super sangat! Ah sudahlah.

Raina langsung masuk kekamar untuk mengganti pakaiannya. Sesampainya dikamar Raina langsung membaringkan badannya ketempat ternyamannya, yaitu ranjang kesayangannya.
Dia melamun memikirkan kejadian disekolah tadi, dimana dia merasa sangat aneh dengan perasaanya, saat Sopia memuji ketampanan Fauzan.

"Iishhh! Apa-apaan sih kok malah mikirin Fauzan, dan kenapa juga perasaanku kaya gini?" Raina berkecamuk dengan perasaannya sendiri.

Tanpa disadari Raina, bundanya memperhatikan gerak-gerik anak gadisnya itu.
"Hmm.. punya anak gini-gini amat dah, ngapain dia ngomong sendiri, udah gak waras anakku ini." Bundanya langsung keluar.

Raina menoleh, seperti ada yang sedang memperhatikannya. Tapi tidak ada siapa-siapa.
"Ahh.. mungkin perasaanku aja." Berasa kaya difilm horor aja katanya dalam hati.

Raina langsung melakukan pekerjaanya yang tertunda yaitu mengganti baju. Setelah itu langsung keluar menuju dapur menemui bunda tercintanya.

"Bunda lagi ngapain?" Tanya Raina

Bundanya menoleh sebentar, lalu melanjutkan cuci piringnya yang tertunda karna kedatangan anak gadisnya itu.
"Lagi jemuran nih." Ujar bundanya

"Itukan bunda lagi cuci piring, bukan lagi jemuran." Balas Raina dengan muka mencibik.

"Terus kalau tahu bunda lagi cuci piring, ngapain kamu nanya Raina ya ampun!". Jawab bundanya dengan tangan diatas lutut, eh salah. Diatas kepala maksudnya hehee.

Raina memutar mata malas, lalu membuka tudung saji. Jangan tanya Raina mau apa, ya kalian pada tahulah pasti dia mau isi perut.

"Yah! Bunda kok gak ada makanan sih disini? Bunda belum masak ya?". Tanya Raina dengan muka yang hampir menangis.

"Hehe.. bunda lupa Rain kalau tadi pagi bunda belum masak apa-apa". Cengiran itu sangat membuat Raina kesal sekali.

"Loh, bunda emang ngapain aja tadi pagi? Kok sampai lupa masak sih, gak biasanya bunda kaya gini tau gak!". Raina kesal sekali hari ini, disekolah dia terus diejek sama Sopia. Dan sekarang dirumah pun sepertinya sama saja, bundanya semakin membuat Raina kesal.

"Ehh.. gak boleh kesal gitu sama bundanya, mau kamu jadi anak durhaka? Mau kamu jadi batu kaya malin kundang?" Jawab bundanya dengan wajah marah yang dibuat-buat.

"Bukan gitu bun, Raina cuma lapar aja, ini kan udah sore. Bunda kan udah tau sendiri kalau Raina nggak boleh telat makan." Kalau kalian melihat ekspresi Raina sekarang pasti kalian sangat prihatin. Raina juga punya asam lambung, itu sebabnya dia tidak boleh telat makan.

Dan jangan lupa Raina juga manja banget.

"Iya deh maaf.. yaudah sekarang ayo kita buat makanan, kamu mau makanan apa nanti bunda buatin, tapi kamu juga ikut bantu yah. Soalnya kamu bentar lagi bakalan nikah." Ujar bundanya

Raina bingung dibuatnya, menikah katanya? Astaga calonnya saja belum muncul didepannya, bagaimana bisa mau menikah.

"Duh bunda.. belum juga lulus tapi mikirnya udah kesana aja, Raina aja belum kepikiran kesitu loh bun." Raina benar-benar bingung dengan bundanya, ngebet banget bundanya supaya Raina segera nikah.

"Nikah itu ibadah terlama loh Rain, emangnya kamu gak mau menyempurnakan separuh agama kamu?" Langsung memegang bahu Raina.

"Ya maulah bundaku tersayang.. tapikan Raina belum lulus sekolah, lagi pula calonnya aja bel.." Belum sempat Raina menyelesaikan, bundanya sudah memotong pembicaraannya.

"Udah ada sayang.. jadi kamu gak perlu mikirin calonnya lagi, soalnya ayah sama bunda udah punya calon buat kamu." Katanya dengan senyum merekat diwajahnya yang sangat cantik, itulah sebabnya Raina juga cantik, biasa menurun.

"Hah? Udah punya? Siapa bunda? Kok gak bilang-bilang Raina dulu sih!" Mata Raina melotot hampir keluar dari tempatnya saking kagetnya.

"Santuy dong santuy! Nanyanya gak usah sekalian kaya gitu, bingung bunda mau jawab yang mana."  Kata bundanya.
"Intinya calon yang ayah sama bunda siapin buat kamu itu orangnya baik.. eh kalau kamu tahu nanti juga kamu bakal seneng." Lanjut bundanya lagi.

Bundanya kelewatan gaul, bilang santai aja santuy. Raina aja gak pernah ganti bahasa-bahasa kaya gitu. Memang dasar bunda-_-

"Terserah bunda ajalah, Raina ngikut aja." Jawab Raina pasrah, mau bagaimana lagi protes pun gak ada gunanya. Kalau sudah berhubungan dengan ayahnya, mau gak mau ya terima aja.

"Nah.. itu baru anak bunda. Jadi makin sayang deh unchhh!" Bundanya memeluknya sambil menciumi Raina.

"Iya bunda.. Raina juga sayang bunda.'' Membalas pelukan orang yang sudah melahirkannya itu, bunda gemesnya.

***

Pilihan TerakhirCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang