TIGA

68 7 0
                                        

Jenna lienio Vonsi POV
....

"Ohhh astagaa jam berapa ini??. Kenapa mommy gak bangunin aku sih?. Kenapa alarmnya ga bunyi juga?" gerutuku di atas tempat tidur.

Aku bergegas ke kamar mandi, membersihkan tubuhku dengan cepat. Secepat kilat. Entahlah bersih atau tidak, aku tidak perduli.
Tak lama aku keluar dari kamar mandi, kubuka lemari bajuku. Aku mengambil seragam sekolahku. Kemeja putih dan rok abu-abu sebatas lutut. Aku suka aroma bajuku, pelayan sangat teliti dalam mencucinya.

Tak lama kuberpakaian, ketukan di pintu kamarku terdengar.

"Nenna!! Nenna cepatt keluar!! cio disuruh mommy panggil nenna nih buat sarapan."
Teriak Bercio lorenz Vonsi dari luar kamar. Ya dia Adik laki-lakiku, adikku satu-satunya. Kami berbeda 10 tahun. Cukup jauh bukan? Aku yang sudah 16 tahun, dan adikku yang baru menginjak 6 tahun.

"Yaa Cio, sebentar lagi Nenna keluar, Nenna sisir rambut dulu." sahutku dari dalam kamar sembari menyisir rambut coklatku yang panjangnya sebahu. Sedikit menjepit poninya ke belakang,dan memakai parfume.

"Yap selesai, kau tampak cantik Jenna,hahaha". Aku berbicara seraya tersenyum menatap diriku di depan cermin.

Kulangkahkan kakiku keluar kamar dan turun menuju lantai 1, tepatnya ruang makan. Disana sudah ada Daddy, Mommy , Dan Cio yang tengah duduk di meja makan. Sepertinya mereka menungguku.

"Morning Dad, morning Mom, Morning anak nakal." sapaku terhadap mereka satu persatu sembari mencium pipi mereka masing-masing. Yaa itu sudah menjadi rutinitas, rasanya akan ada yang mengganjal jika tidak mencium mereka. Heheheh.

"Hola baby, tidur nyenyak semalam?". Tanya Daddy. Mommy berdiri dan menuangkan sarapan untuk kami satu persatu.

"Mmmm yaa, sedikit nyenyak dad. Ahh yaa, apakah aku akan terlambat dad? Ini hari pertamaku sekolah di Sekolah Menangah Atas. Aku tak ingin terlambat". Aku berbicara pada Daddy.

"Tidak sayang, lihat jam dinding itu, ini masih pukul 06:00 pagi. Kamu masuk jam 07:00 pagi. Masih ada 1 jam untuk bersiap." Daddy menjawab seraya menyuapkan makanan kedalam mulutnya.

"Jenna cepatlah makan, jika berbicara terus kau tentu akan terlambat cantik". Sahut Mommy yang telah selesai menyiapkan sarapan pada piring kami.

Kami semua selesai makan, aku berangkat ke sekolah diantar langsung oleh Daddy karena perusahaan Daddy dan sekolahku searah. Daddy tak membiasakan ajudan-ajudan dan supir pribadinya untuk terus mengawalnya, yaa mungkin menurutnya tidak perlu berlebihan.

"Bye Daddy, hati-hati dijalan ya. Jenna masuk dulu". Aku turun dari mobil dan melambaikan tangan pada Daddy.

"Ya sayang, jaga dirimu baik-baik. Pulang sekolah nanti Letto akan menjemputmu. Sampai jumpa". Daddypun meluncur pergi.

Aku berjalan menuju loby sekolah, yaa ini sekolah Berstandar Internasional dan Nomor satu di Indonesia. Jangan heran kenapa Daddy mendaftarkan aku disini. Yaa karena uang Daddy tak akan ada habisnya sampai kapanpun. Aminn.. Ahhahaah. Sesampainya aku di Loby, aku melihat papan denah kelas dan daftar-daftar nama murid. Yaa aku masuk di kelas 10 IPA 1. Disitu tertera namaku dan hasil testku. Semua mendapat nilai bagus, 90 keatas hampir mendekati 100. Good job Jenna!
Murid-murid sudah mulai berdatangan.

Jenna will you? Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang