DUA PULUH DELAPAN

13 4 0
                                        

Setelah menempuh sekitar dua puluh menit, mobil Jenna berhenti tepat didepan rumahnya.

"Nah, sampai." Ucap Lucas lalu membuka seat beltnya.

"Terima kasih ya Lucas." Jenna dan Lucas keluar dari dalam mobil.

"Mau mampir dulu Lucas?." Tanya Jenna sesudah mereka berdiri didepan gerbang rumah Jenna.

"Ah lain kali saja, nenna..."

Nenna?.

Jenna diam membatu, terkejut mendengar sebutan yang dilontarkan Lucas barusan.

"Lu-lucass.." Panggil Jenna yang masih setengah terkejut.

"Kenapa Jenn?." Tanya Lucas meneyelidik.

"Darimana kamu tau sebutan Nenna?."

Lucas nampak berfikir sejenak. Lalu tersenyum tanpa Jenna tau apa arti dari senyumannya. Jenna menatap penuh dengan selidik.

"Hanya... Enak saja untuk memanggilmu seperti itu, terasa lebih akrab. Memangnya kenapa? Kau tidak suka ya?."

"Eh? T-tidak.. Hanya saja.. Kamu mengingatkanku pada seseorang."

"Siapa?." Tanya Lucas penuh dengan keingintahuan.

Jenna menghembuskan napasnya berat.

"Sepertinya bukan urusanmu." Jawab Jenna agak ketus. Jenna lebih sensitif jika ditanyakan seputar Luke.

"Baiklah.. Kuharap kita bisa berteman baik? Aku pamit pulang dulu." Ucap Lucas lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Jenna yang sibuk dengan pikirannya sendiri.

"Eh tunggu Lucas!." Jenna menghentikan langkah Lucas dengan panggilannya. Lucas menoleh dan bertanya.

"Kenapa?." Jenna menghampiri Lucas dan tiba-tiba memeluknya.

Deg

Lucas tertegun atas perlakuan Jenna. Alhasil Lucas membalas pelukan Jenna.

Entah mengapa, Jenna merasa menemukan sosok Luke didalam diri Lucas. Kenyamanan saat memeluk Lucas sama seperti Luke memeluk Jenna dulu. Namun bedanya, Lucas lebih kurus dari Luke. Jenna mendongakan wajahnya untuk menatap Lucas.

Matanya sama, alisnya juga, hidungnya sedikit berbeda dengan Luke, Lucas lebih terlihat mancung, bibirnya juga sama. Namun rahang mereka berbeda. Lucas jauh lebih tegas.

Jenna tak bergeming sama sekali, masih menatap lekat dan meneliti wajah Lucas lebih dalam.

Lucas mengerutkan keningnya.

"Jenna, kamu kenapa? Kenapa memelukku tiba-tiba?." Tanya Lucas heran, dalam hatinya. Dia turut senang karena dipeluk Jenna dengan posesif.

Jenna tersadar dan melepaskan pelukannya.

"Ah maaf... Sungguh aku tidak berkamsud lancang. Maafkan aku, sekali lagi aku minta maaf Lucas.."

Lucas memegang kedua bahu Jenna dan menatap Jenna dalam.

"Tidak apa-apa.. Aku senang dipeluk wanita manis dan sungguh amat cantik sepertimu."

Blusshhh...

Pipi Jenna merona. Dan ingat sekali lagi! Baru kali ini Jenna tidak menolak rayuan pria lain, selain rayuan Luke.

"Pipimu? Kenapa merah? Ahh.. Kamu malu ya?." Tanya Lucas sambil mengusap kedua pipi Jenna dengan ibu jarinya.

Lagi-lagi tak ada penolakan. Jenna menikmati usapan lembut ibu jari Lucas dipipinya. Rasanya sama, seperti Luke mengusapnya dulu. Rengkuhan tangannya terasa sangat pas diwajahnya.

Jenna will you? Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang