"Itu tidak mungkin, Paman."
Paman Tire tersenyum lembut. "Bagaimana itu tidak mungkin, Nak? Coba kau ingat-ingat lagi."
Aku kembali mengingat-ingat. Memang orang yang membuntutiku dan Bethany sangat santai dan malah lebih cuek juga bersikap tak peduli padaku. Dan aku juga menyadari kalau tak ada tanda ancaman atau kode dari orang itu untukku seperti biasanya.
Kalau memang ia datang untukku, pasti akan ada kode tertentu apalagi kalau bukan untuk menunjukkan kekuasaan. Dan aku tak menangkap kode apapun.
"Bagaimana? Aku benar, kan?" kata Paman Tire seraya terkekeh. "Siapa pun yang melakukan itu, ia memastikan agar Bethany mengetahui keberadaannya. Dan kalau ia mengincarmu, ia takkan sebodoh itu dengan berani sedekat itu di depan publik."
Aku mengangguk. Ya. Di duniaku dan Paman Tire itu tidak suka bermain terang-terangan seperti yang dilakukan bajingan itu. Sekali pun harus bermain di depan publik pun, kami pasti akan meninggalkan jejak dan tanda agar kami tak salah sasaran atau melukai orang secara sengaja.
"Kau yakin sudah menyelidiki masa lalu Bethany secara menyeluruh? Aku tak ingin ada yang mengganggu Sandra, Oliver."
Aku mengangguk. "Aku akan mencaritahu lagi tentang hal ini, Paman."
Paman Tire menepuk bahuku. "Bagus. Katakan saja kalau kau memerlukan bantuan, oke? Jangan sungkan denganku."
Aku tersenyum. "Ya. Aku akan dengan senang hati untuk membuatmu repot."
Paman Tire terbahak. "Asal jangan menyuruhku membereskan pekerjaanmu saja, Oliver."
Aku terkekeh. "Aku baru saja memikirkan hal itu, Paman."
"Sialan! Dasar bocah kurang ajar!"
***
Aku menatap Bethany seraya memakan roti isiku. Kalau Bethany tidak dibius seharusnya ia sudah sadar sejak 1 jam yang lalu. Tapi karena Bethku dibius, mungkin sepuluh menit ke depan ia akan bangun.
Beruntung sekali tidak terjadi komplikasi. Padahal aku mengharapkan hal itu agar Bethany sadar kalau ia takkan bisa apa-apa tanpaku.
Aku terkekeh. Mungkin akan menggemaskan kalau Bethany sedikit lumpuh.
Aku ingin sekali tidur rasanya. Aku sangat lelah hanya menatap Bethany berbaring tanpa bisa menyentuhnya. Paman Tire yang memperingatkan itu padaku karena ia dan Bibi Sandra harus pulang dulu sebelum kembali dan bergantian jaga.
Padahal sebenarnya Bethany tak perlu dijaga. Toh ada perawat di rumah sakit ini.
Namun lagi-lagi permintaan Bibi Sandra itu mutlak. Dan aku juga sedang malas untuk bermain bersama Paman Tire, jadi lebih baik kuturuti saja.
Aku menguap sambil menatap kamar inap yang ditempati Bethany ini. Terlalu bosan. Rumah sakit itu selalu identik dengan warna hijau atau biru. Apa mereka tak ingin menggunakan warna merah atau ungu?
Ah, tapi untuk warna ungu aku pernah melihatnya.
Aku mengerjabkan mataku begitu aku sadar aku benar-benar mengantuk. Ah, apa lebih baik aku memikirkan siapa yang sedang mengincar Bethany, ya?
Namun tubuh Bethany yang tiba-tiba kejang membuatku menghela napasku. Aku langsung mencabut infus yang menempel di lengan Bethany begitu saja lalu menggeser tubuhnya. Menaiki bangkar, aku tiduran begitu saja di samping Bethany dan memeluknya.
Aku sudah benar-benar tak sanggup untuk menahan rasa kantukku.
***
Sedikit lupa sama cerita ini. Semoga suka, ya 🤗
Ah, Selamat Hari Pancasila!
