Beruntung

1.1K 93 13
                                    

Hari ini Dinda akan kembali ke Bandung karena acara pernikahan teman mainnya di Jakarta sudah selesai. Dia masih ingin merahasiakan keberadaannya dari Billar walaupun saat ini Dinda sudah memaafkannya.

Tetapi karena keberuntungan mungkin masih menjadi milik Billar, dia datang ke rumah Dinda saat Dinda hampir saja naik taxi online menuju Stasiun.

Billar : "Loh Din , kamu mau kemana ?"

" Aduuuhhh gawat, kenapa pas banget dia dateng " gumam Dinda sedikit kaget

Dinda : " Kok kamu kesini lagi ?"
Billar : " Mau ngehindar dari aku lagi? Din please jangan kayak gini terus ... gak cukup kemarin satu bulan nyuekin aku ? "

Billar : " Pak, tolong cancel orderan dia ya, nanti saya yang ganti rugi "

Dinda : " Ehh.. apaan sih, kamu gak boleh gitu dong "

Billar : " Udah, biarin.. nanti kamu mau kemana biar aku yang anter, daripada aku kehilangan jejak kamu lagi "

Dinda pun diam seakan tidak mau lama – lama beradu argument dengan Billar. Dia mencoba mengerti atas perlakuan Billar tersebut.

Billar : " Jadi mau pergi ? ayo aku anter "

Dinda : " ke Stasiun " ucap Dinda sedikit ngambek manja

Billar : " dari Stasiun kamu mau kemana ?"

Dinda : " ke Bandung "

Billar : " Jadi selama ini kamu di Bandung ? ngapain ? "

Dinda : " Aku nerusin sekolah Tata Busana lagi disana "

Billar : " Lama ? "

Dinda : " Enggak, tinggal 2 bulan sih "

Billar : " Trus aku disini gimana ?"
Dinda : " Apanya yang gimana ? Ya kamu tetep lanjutin aktivitas kamu seperti biasanya disini "

Billar : " Bakalan jarang ketemu kamu dong "

Dinda : " 2 Bulan kan bukan waktu yang lama "

Billar : " Iya buat kamu bukan waktu yang lama, tapi buat aku itu terlalu lama "

Billar kemudian mengantarkan Dinda dengan berat hati. Bukan berat karena merasa direpoti , tetapi karena baru juga sehari kemarin dia bertemu sekarang sudah harus berpisah lagi.

Billar : " Nanti kamu kirim alamat kamu yang di Bandung , aku mau kesana setiap weekend "

Dinda : " Gak usah, ngapain kamu kesana, capek "

Billar : " Kamu tega liat aku dilanda rindu tiap hari ?"

Dinda : " Pacar bukan, calon suami bukan.. tapi kerjaan rindu terus " Ucap Dinda sedikit menyindir

Billar : " Kamu inget apa yang pernah diucapin Papa aku dulu ke aku?"

Dinda : " Lupa " jawab Dinda singkat

Billar : " Ohh lupa... ya udah gak jadi aku bahas "

Billar seperti ingin mengatakan sesuatu tapi dia masih harus menunggu waktu yang tepat sepertinya, tidak sekarang.

Billar : " Din, jangan judes – judes kenapa sih, katanya udah maafin aku "

Dinda : " Siapa yang judes, daritadi juga biasa aja perasaan "

Billar : " Emang cewek kalo lagi marah kayak gini ya ?"

Dinda : " Pacar – pacar kamu dulu gimana kalo ngambek, semua cewek kan hampir – hampir sama kalo lagi marah "

Billar : " Belum pernah punya pacar "

Dinda yang mendengar jawaban dari Billar sedikit tertawa.

Dinda : " Mana mungkin belum pernah punya pacar "

Billar : " Ya udah kalo gak percaya, lagian buat apa pacar – pacaran kalo akhirnya nanti bubar. Kan sama aja cuma jagain jodoh orang "

Dinda mungkin belum tahu jika Billar sudah mengikuti Dinda dan menaruh rasa sejak SMA.

Billar : " Din, sepulang kamu dari Bandung selesein sekolah kamu. Aku mau ngajak kamu ketemu orang tua aku di Rumah kamu mau ? "

Dinda sedikit kaget dengan ajakan Billar tersebut.

Dinda : " Untuk apa Mas ?"

Billar : " Yaah... Mas lagi... "

Dinda : " Ya gapapa kan kamu lebih tua dari aku Mas"

Billar : " Masak kamu gak mau kenal sama orang tua aku ? pasti Papa kaget liat kamu sekarang, apalagi dia belum tahu kalau ternyata kamu yang dulunya kerja di Kantor temennya adalah Dinda anaknya Alm. Pak Dody "

Dinda : " Jangan dulu Mas, aku takut kalo nanti Papa kamu marah sama aku. Gara – gara aku pernah dendam ke keluarga Mas Billar "

Billar : " Kamu tenang aja, Papa aku gak seperti itu kok "

Setelah sampai di Stasiun kemudian Dinda melanjutkan perjalanannya ke Bandung.

Billar : " Inget pesen aku tadi, kasih alamat kamu yang disana biar aku bisa sering – sering kesana "

Dinda : " Iya... nanti aku kasih tau .. Ya udah aku jalan dulu Mas "

Billar : " Hati – hati dijalan, kasih kabar kalau udah sampai "

Dinda : " Iya, Assalamualaikum "

Billar : " Waalaikumsalam "

Di Ujung PenantianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang