Kim Tae Hyung

2.6K 285 48
                                    

Dear Remedy-an..

Mohon sebagai perhatian karena adanya adegan mature , untuk yang belum cukup umur sebaiknya tidak diperkenankan untuk membaca. 

Tambahan informasi, chapter ini flashback ya. Semoga tidak membingungkan. 
Terakhir.. jangan lupa bintangnya ya kaka ~

Terima kasih :)

Chapter pengenalan tokoh: Kim Tae Hyung

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Chapter pengenalan tokoh: Kim Tae Hyung
.
.
.
.

.
.

Bagi seorang Kim Tae Hyung, jatuh cinta pada pandangan pertama adalah mitos belaka. Sentimen delusi ini membuat kita berpikir telah bertemu dengan belahan jiwa. Sama halnya dengan afeksi instan yang hanya berbicara soal hasrat. Sekadar rasa 'suka' karena reaksi biokimia. Suka bisa saja berawal dari mata, namun cinta belum tentu hadir tanpa cerita.

Selama ini pemuda gagah berkulit tan itu selalu menganggap bodoh paradigma 'cinta pada pandangan pertama' yang menurutnya tidak logis. Namun siapa yang mengira seorang realis seperti Kim Tae Hyung justru jatuh hati kepada 'cinta pandangan pertamanya' ?




Rambut mullet dan poni hampir menutupi mata tak mampu menyingkirkan visual tampan seorang Kim Tae Hyung. Penampilannya sederhana. Jaket hitam dan sweater tipis berwarna coklat senada dengan sepatu ketsnya. Tidak ada hal yang mencolok. Hidup bertahun-tahun dengan kesederhanaan membuatnya terbiasa menjunjung tinggi kenyamanan. Termasuk dalam berpakaian. 

Suhu atmosfer telah menghangat meski langit tak secerah minggu lalu. Beberapa hari belakangan perkiraan cuaca menyiarkan kemungkinan hadirnya hujan pertama di bulan Juni. Meski sang hujan tak kunjung datang, orang-orang tetap siaga menenteng payung kemanapun mereka pergi. Kim Tae Hyung tidak peduli dengan segala kepelikan itu. Ia bukanlah seorang perfectionist. Hujan bukan suatu hal yang besar ataupun special baginya.

Kegemaran Tae Hyung terhadap photography membuat kakinya melangkah kemana saja menyusuri ibu kota. Seharian berada diluar ruangan sama sekali tidak membuatnya jenuh. Banyak hal telah ter-capture oleh Kamera Leica Monochrom kesayangannya. Salah satu momen favoritnya hari ini adalah figure anak kecil berpipi tembam yang tersenyum cerah ketika memetik bunga liar dipinggir jalan. Terasa murni dan tulus.

Monokrom adalah kata yang menyatakan satu nuansa warna dengan gradasi abu-abu. Dunia ini penuh dengan warna-warni kenapa memilih monokrom? Banyak orang beranggapan monokrom adalah hal yang membosankan. Tae Hyung justru menyukainya. Kesan retro dan artistik yang dihasilkan oleh proses demosaicing membuatnya unik. Memori otak lebih terasah pada setiap kejadian yang tertangkap. Ia akan lebih detail merekam suasana itu di benak. Semuanya terasa hidup kembali dalam impresinya.

Rasa lelah kemudian menggiring kaki jenjang Tae Hyung ke tempat yang menyajikan minuman anggur. Sebuah kedai bar kecil tanpa nama dengan interior sederhana yang bergaya rumahan. Tidak ada yang salah dengan tempat itu. Hanya enggan dengan suasana tenang sebab tak ada pengunjung lain yang datang.

RemedyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang