Mempertahankan Joo Hyun

1.3K 188 92
                                        

DEAR REMEDYAN !

Sehubungan dengan adanya adegan vulgar, aku putuskan untuk tidak mempublikasikan di wattpad bagian awal chapter ini. Bagi yang ingin membaca dan dirasa sudah cukup umur. Silahkan ke dm author.


Terima kasih! Luv!

.

.

.

REMEDY

LOVE IS SELFISH, POSSESSIVE AND ADDICTIVE

§§

.

.

.

.



"Aku mencintaimu." engah Seok Jin dan memagut mesra bibir indah Joo Hyun yang masih memburu udara. Joo Hyun meraih pipi Seok Jin. Tersenyum ia membalas ciuman itu.


Joo Hyun menyukai bagaimana cara Seok Jin menyentuhnya. Memuja tubuhnya bagai seorang ratu. Ia pun jatuh hati pada feromon Seok Jin yang menguar kala bercinta. Serta bagai mana binar mata laki-laki itu yang mencumbu rindu di tengah orgasme mereka.


Joo Hyun juga menyukai momen dimana mereka hanya berpandangan saja setelah lelah dijajah nafsu. Raga polos mereka berpelukan dibalik selimut sementara netra mereka beradu. Saling menatap rindu. Menikmati binar mata sang kekasih dengan senyum. Tanpa kata dan suara, namun menyalurkan rasa cinta yang menggebu.


Seok Jin merengkuh tubuh Joo Hyun. Mendekatkan kepala wanita itu di dadanya yang telanjang. Ia menyukai sensasi nafas hangat Joo Hyun yang menggelitik kulitnya. Sedangkan Joo Hyun terperangah oleh jantung Seok Jin yang berdetak begitu cepat.


"Aku akan menginap disini." ujar Seok Jin sembari mengecupi ujung kepala Joo Hyun.

"Istrimu akan mencari." balas Joo Hyun lelah. "Pulanglah, aku baik-baik saja."

"Kau tidak merindukanku?" tanya Seok Jin keheranan.

"Rindu. Rindu sekali. Tapi istrimu bagaimana?"


Seok Jin menghela nafas. 

Istriku sedang menginap bersama teman-temannya. Merayakan kehamilannya.


"Istriku tidak akan pulang malam ini." jelas Seok Jin lirih.


Joo Hyun mendongak. Menatap dalam-dalam manik mata kekasihnya itu. Agaknya mencari pembenaran. Ia selalu menjadi nomor dua. Selalu merasa tersingkirkan karena Seok Jin akan memprioritaskan istrinya. Dan sekarang, Joo Hyun bisa mendekap raga sang pujaan hati semalaman. Ia akan memiliki Seok Jin hingga fajar. Sungguh senang berkelip-kelip hati Joo Hyun membayangkan.


"Kita bisa berpelukan sampai pagi?" Mata Joo Hyun megerjab bahagia. "Sungguh?"

"Ehm." angguk Seok Jin menjawab.


Seok Jin merengkuh paras ayu Joo Hyun. Hatinya teriris melihat raut bahagia wanitanya. Ia tahu bagaimana perasaan Joo Hyun yang berbunga-bunga karena Seok Jin pernah berjanji akan menceraikan istrinya. Paham betul bahwa wanitanya itu pasti sangat berharap. 


Istriku hamil, Joo. 

Seok Jin ingin sekali mengutarakan semuanya. Tapi bagaimana? Bagaimana caranya? Sedangkan wanita yang ada dipeluk itu nampak begitu bahagia hanya karena bisa memeluk raganya. 


"Seok Jin-ah. Katakan padaku ini bukan mimpi. Sebab jika ini mimpi, aku tak ingin bangun."


Seok Jin tersenyum pahit. Begitu sulit untuk menelan ludahnya sendiri. Apakah ia sanggup mengubah mimpi indah Joo Hyun menjadi mimpi buruk? Belum pula jika melihat rinai air mata membasahi wajah elok yang tengah berbinar ceria itu. Sanggupkah ia?


"Ini bukan mimpi, sayang." ujar Seok Jin seiring mendekap erat raga Joo Hyun. Dibelainya lembut surai hitam Joo Hyun.


Kantuk pun menyapa sang juwita. Tak lama terdengar suara dengkuran halus Joo Hyun di dada bidang Seok Jin. Wanita cantik itu terlelap. Tidurnya begitu nyenyak. Malamnya tak resah oleh gulana lagi. Ia tak perlu menunggu pesan singkat Seok Jin semalaman. Tak perlu merindu sendirian dengan lampu tidur yang temaram. Karena kini laki-laki yang dirindukannya sedang memeluknya penuh cinta. Memberikan kenyamanan yang Joo Hyun selama ini angan-angankan. 


Sementara itu pikiran Seok Jin melayang tinggi oleh jutaan kekhawatiran. Khawatir oleh kehadiran seorang bayi. Khawatir oleh kekuasaan sang istri. Khawatir pula jika ia kehilangan Joo Hyun. Hingga kemudian sebuah gumaman terdengar dari bibir tebal pemuda itu.


"Istriku hamil, Joo." hela Seok Jin putus asa. "Apa yang harus aku lakukan untuk mempertahankanmu disisiku?" 


Namun Joo Hyun tak mendengar sebab terlalu sibuk mengarungi luasnya samudra mimpi.

.

.

.

TBC.

.

.

Note penulis:

Dear Remedyan. Penulis masih sangat galau untuk menentukan ending. Jadi aku benar-benar butuh feedback kalian untuk perkembangan cerita ini. I need your help.

Tolong sharing pendapat kalian ya soal chapter ini.

Dan tolong beri tahu aku, kenapa sih Remedy menarik untuk kalian baca? 

Terima kasih bantuannya! Keep safe!

.

fyi: aku baru saja update work lain, judulnya Sprinkling of Rain. Cinta seorang pengawal kepada seorang Kisaeng. Enjoy.

.

.

RemedyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang