Pertarungan Antara Akal dan Rasa

1.2K 189 76
                                        

REMEDY

LOVE IS SELFISH, POSSESSIVE AND ADDICTIVE

§§

.

.

.

.

.


Seok Jin menghela nafas ketika mendapati Kim Tae Hyung memasuki ruang kerjanya. Adiknya itu begitu bersemangat menjelaskan dan memaparkan perkembangan strategi marketing hotel di Thailand yang akan launching minggu depan. Sedangkan Seok Jin tidak betul-betul meresapi setiap kata-perkata yang Tae Hyung jabarkan. Sebab bukan Tae Hyung yang ia harapkan akan datang. Melainkan Bae Joo Hyun.


Sengaja Seok Jin menurunkan disposisi ke Joo Hyun. Dengan maksud agar Joo Hyun bisa leluasa datang ke ruangannya. Disposisi itu hanyalah sebuah alibi, supaya Seok Jin dapat bertemu dengan Joo Hyun kembali. Nyatanya, Joo Hyun justru menurunkan lagi disposisi. Seok Jin pun kecewa. Bukannya paras jelita sang kekasih hati yang menghadap,  tapi malah seorang Kim Tae Hyung  yang menyetorkan muka.


Semenjak deklarasi sang istri perihal kehamilannya, Joo Hyun sukar untuk ditemui. Sulit sekali untuk memiliki waktu bicara berdua saja. Padahal mereka bekerja di gedung yang sama. Maka Seok Jin  pun berusaha mencari cara agar dapat bicara empat mata dengan Joo Hyun. Namun semua percuma, toh Joo Hyun memang sengaja menghindar darinya.


"Sajangnim, ada yang ingin ditanyakan?"

Seok Jin mendongak. Ia bahkan tidak sadar jika Tae Hyung sudah selesai berbicara. 

"Aku akan mengirimu penugasan ke Thailand untuk memimpin persiapan press conference." ujar Seok Jin tanpa memandang Tae Hyung sedikitpun. Ia berkutat dengan tabnya. Berpura-pura sibuk, entah apa yang dilakukannya.


Tae Hyung mengerjab bingung. Menurutnya menyelenggarakan media event seperti itu belum menjadi point yang krusial mengingat proyek hotel di Thailand belum sebesar project hotel lainnya. Bukanlah hal yang bijak untuk memusatkan perhatian seluruh dunia pada satu tempat yang belum sempurna pula pelayanannya.

"Sajangnim, proyek itu sudah dihandle tim kami. Strategi media sudah kami susun. Namun untuk press conference kami pikir belum cukup relevan untuk dilaksanakan." 

"Aku mengerti maksudmu." Seok Jin melepas kacamata. Memijat pangkal hidungnya dengan kesal. Seok Jin tidak bodoh. Tanpa Tae Hyung jelaskan panjang lebar, ia pun tahu!


"Itulah kenapa aku menugaskannya padamu." ujar Seok Jin dingin.

Tae Hyung menelan ludah. Waktunya terlalu sempit untuk mempersiapkan press conference. Ingin sekali ia mengutarakan pendapatnya lagi. Namun Tae Hyung pikir Seok Jin memang sengaja mengujinya. Kakaknya itu sedang berusaha menempanya. Maka Tae Hyung pun menyanggupi. Meski otaknya kini terasa panas memikirkan setiap jengkal persiapan yang harus dilakukan. 


Sementara Seok Jin memang sengaja untuk membuat Tae Hyung pergi. Ia pikir laki-laki itu harus hilang sementara dari sisi Joo Hyun. Ini satu-satunya cara supaya Joo Hyun tak lagi berkilah. Maka dengan begini, Seok Jin harap bisa memiliki waktu dan kesempatan untuk memaksa Joo Hyun menemuinya.

RemedyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang