Aku duduk di kursi panjang bersama satu orang ibu hamil yang sedang memainkan ponselnya seraya menunggu namanya dipanggil suster untuk masuk keruangan dokter.
"Bu, Clarissa." Aku menoleh ke arah suster karena merasa namaku terpanggil. Aku sedikit jengkel ketika suster ber name tag Rina itu menyebutkan dengan panggilan ibu. Namun aku paham, karena biasanya yang datang ke klinik ini untuk ibu-ibu yang tengah hamil.
"Siang dok," sapaku ketika baru saja masuk ke dalam ruangannya. Dia sedikit memperhatikanku dari atas sampai bawah.
"Siang. Ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter itu sopan.
"Maaf dok sebelumnya, saya mau konsultasi mengenai gejala pada diri saya sejak kurang lebih dua minggu yang lalu," kataku dengan sopan.
Mungkin, kalian bingung. Kenapa aku langsung menuju klinik kandungan bukan klinik biasa saja. Karena alasannya, ada di lubuk hatiku. Yang menuntunku untuk datang ke sini.
"Apa yang kamu alami?" tanyanya.
"Saya sering sekali mual dan merasa pusing dok. Awalnya saya kira saya masuk angin, tapi ternyata tidak dok." Jujurku pada si dokter.
"Kamu mual di waktu kapan?" tanyanya lagi padaku.
"Setiap pagi dok, kadang juga tiba-tiba," jawabku.
"Maaf sebelumnya, saya lihat dari wajahmu, kamu masih muda, seperti masih SMA?" terkanya sambil melihat detail ke arahku.
"I-iya dok, saya kelas 12 SMA," jawabku gugup. Ia terkejut, lalu menganggukan kepalanya beberapa kali.
Ia menyuruhku untuk berbaring di kasur untuk diperiksa. Setelah selesai, ia kembali duduk di kursinya begitupun denganku. Wajahnya kelihatan bingung. Jantungku berpacu cepat. Aku takut akan jawaban dari dokter bernama Nani itu. Tanganku gemetar. Aku benar-benar takut.
"Maaf, apa kamu pernah melakukan hubungan suami istri?" tanyanya sedikit ragu padaku.
Aku diam. Membisu dengan pertanyaan dokter beberapa detik yang lalu.
"Kamu tengah mengandung."
DEG.
Tubuhku merosot lemah. Napasku tercekat. Tubuhku gemetar hebat, bibirku pucat, kemudian aku pingsan.
Sekarang aku sudah berada di salah satu ruangan. Berbaring lemah. Kupegang perutku lalu menangis sendu. Tiba-tiba Dr. Nani datang ke ruanganku lalu memegang tanganku.
"Saya mengerti perasaanmu. Begini Clarissa. Saya mau menolongmu. Saya akan memberikan yang terbaik untuk kamu dan bayi kamu. Kamu boleh cerita apapun dengan saya. Dan, saya menjamin kesehatan kalian. Untuk administrasi sudah saya handle. Kamu harus sabar, jika lain waktu kamu ada waktu, kamu bisa ceritakan pada saya. Hari ini jadwal saya padat. Saya harus pergi ke rumah sakit lain karena ada jadwal persalinan."
Ia mengelus rambutku lalu mengusap airmataku dengan kedua ibu jarinya. Ia memelukku. Pelukan yang hangat. Memberikanku sedikit kekuatan untuk menerima kenyataan ini.
"Kamu kuat anak cantik. Jaga kesehatanmu, jangan lupa juga dengan bayimu. Percayalah semua akan baik-baik saja," katanya dengan mantap. Ia berdiri lalu pamit padaku yang masih menangis terisak.
"Dok," panggilku lirih lalu ia menengok.
"Kenapa dokter bisa percaya bahwa ini akan baik-baik saja? Bagaimana dengan nasib keluarga saya? Mereka akan segera tahu pastinya." Ia tersenyum lalu mengatakan,
"Saya akan jaga rahasia, kamu sudah saya anggap anak saya sendiri. Jadi jangan takut," katanya lalu izin pamit karena takut terlambat datang ke proses persalinan pasiennya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]
RomanceNovel Happy Story sudah bisa dipesan! Ikutan juga Pre-order keduanya pada tanggal 18 Januari 2022. Semua berubah ketika aku dinyatakan : hamil. Kenyataan pahit itu harus kuterima walau sakit yang mendalam. Namun, semua kembali berubah ketika dia, m...
![HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/219210002-64-k723781.jpg)