Aku duduk di samping Alvaro sambil melahap sarapan pagi. Sebenarnya hari ini aku enggan sekolah karena masih ragu, namun kemarin Sofi mengatakan bahwa aku dicari bu Asih—wakil kepala sekolah, untuk menemuinya. Entah ada apa, paling tidak jauh soal bayaran sekolah yang tertunda dua bulan.
Aku berangkat bersama Alvaro, namun kuminta berhenti di depan gang karena takut ada warga sekolah yang melihat kita. Bukannya apa, aku takut saja nanti semakin banyak yang membullyku. Mobilnya sudah bergegas menjauh dari mataku. Kumasukan kedua tanganku ke saku jacket biru milikku. Oh, iya. Belum kuceritakan soal baju sekolahku ya? Kemarin sempat kusuruh Calvin untuk mengirim beberapa barangku lalu dikirim oleh ojek online.
"Ta!" Kutahu itu suara siapa. Aku menoleh ke belakang melihat Sofi yang tengah berlari kecil untuk menghampiriku.
"Nggak bareng bokap lo?"
"Ditinggal." Aku terkekeh pelan.
"Oh ya, lo kemarin kenapa nggak masuk?" tanyanya padaku. Aku sempat kikuk, namun otakku berjalan lancar untuk beralasan.
"Pusing," jawabku lalu dia tertawa.
"Kok ketawa sih!" omelku pura-pura kesal.
"Makanya jangan merenung mulu, pusing kan jadinya, ha ha ha."
Aku berjalan lurus menembus koridor, kemudian belok kanan, belok kanan lagi kemudian lurus sedikit melewati ruang pembayaran sekolah, lalu belok kanan lagi. Melewati tiga kelas lalu sampai. Saat hendak masuk, tiba-tiba Anisa—anak 12 ipa 2 memanggilku dan berkata bahwa aku dipanggil Bu Asih. Segera kuiyakan dan bergegas menuju ruang wakil kepsek.
Aku duduk di sofa menunggu Bu Asih datang. Menyiapkan berbagai alasan untuk menunda pembayaran sekolah. Namun, tiba-tiba hampir ada enam guru datang. Aku berdiri kemudian menyalami tangan mereka satu persatu. Bu Asih menyuruhku duduk. Wajah mereka terlihat berbeda.
"Clarissa happy puspita," ucap Bu Siti pelan sambil menatap lamat-lamat wajahku.
"Ada apa ya bu? Kok rame banget?" tanyaku bingung. Bu Asih menarik napas panjang kemudian mengembuskannya. Bersiap untuk bicara.
"Maaf jika ibu lancang menanyakan hal ini pada kamu, Nak." Aku mengangguk menandakan semua baik-baik saja.
"Apa benar kamu sedang hamil?"
Deg.
Aku diam tak bergerak sedikitpun. Tubuhku gemetar juga bibirku yang memucat. Napasku terasa sesak sekali mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan yang harus kujaga hari ini. Otakku dipenuhi dengan berbagai pertanyaan. Hanya bisa menunduk memalingkan wajah dari ke enam guru itu. Bu Siti berpindah posisi di sampingku. Mengelus rambutku bersamaan dengan air mata yang turun begitu saja.
"Happy ... sabar, Nak." Bu siti menenangkanku. Namun apa daya, keadaan seperti ini justru membuatku merasa sangat terpuruk. Bagaimana tidak? Guru-guru sudah tahu tentang kondisiku. Dan sudah bisa dipastikan bahwa berita ini akan segera menyebar ke seluruh warga sekolah. Atau sudah menyebar?
"Nak Happy ... apa benar yang ibu ucapkan tadi?" Aku masih menunduk enggan menjawab pertanyaan Bu Siti. Menunggu sang waktu membiarkan menjawabnya. Namun, kapan?
Tiba-tiba pintu terbuka mendapati Miguel di sana. Ia terpelonjat di saat melihat situasi yang kurang kondusif. Ia ke ruangan ini karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan soal OSIS.
"Miguel, istirahat saja temui sayanya," ucap Bu Siti lalu Miguel mengangguk ragu. Menatap punggungku dengan kepala tertunduk.
"Happy ... kemarin orang tuamu menelepon pihak sekolah. Dia marah besar sambil memaki-maki saya karena saat itu saya yang mengangkat teleponnya. Dia mengatakan bahwa kamu ... hamil. Panjang lebar dia mengomel. Namun, saat saya hendak menemui kamu, ternyata kamu tidak masuk. Maaf ibu jadi ikut campur, Nak." Bu Asih diam sebentar. "Tapi apa benar, orang yang menghamilimu adalah Alvaro?"
KAMU SEDANG MEMBACA
HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]
RomanceNovel Happy Story sudah bisa dipesan! Ikutan juga Pre-order keduanya pada tanggal 18 Januari 2022. Semua berubah ketika aku dinyatakan : hamil. Kenyataan pahit itu harus kuterima walau sakit yang mendalam. Namun, semua kembali berubah ketika dia, m...
![HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/219210002-64-k723781.jpg)